Betun, Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Senja baru saja jatuh di ufuk barat Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Angin sepoi dari Laut Timor mulai membelai dedaunan. Namun, Lapangan Umum Betun justru baru saja terbangun dari tidurnya. Lampu-lampu kecil mulai menyala. Wangi sagu bakar bercampur parutan kelapa menyeruak ke udara. Itulah Akarbilan, kuliner otentik suku Tetun. Di sudut lain, kepulan asap kopi susu kekinian ikut menari. Dua dunia yang berbeda sedang bertemu di satu titik tanah yang sama.
Selama ini, publik hanya melihat tempat ini sebagai Pujasera biasa. Sebuah pusat jajanan yang terkesan darurat. Lapak-lapak tenda berdiri di atas tanah yang gampang becek saat hujan mengguyur. Pemerintah daerah terdahulu seolah hanya memberi sentuhan kosmetik pada kawasan ini. Hanya mengubah status tanpa menyentuh akar infrastruktur dasar. Akibatnya, keindahan visual kota terkorbankan.
Namun, angin perubahan besar bertiup dari ruang kerja Sekretaris Daerah Malaka, Aloysius Werang. Mulai tahun 2027 mendatang, wajah kumuh itu akan dirombak total. Nama Pujasera dibuang jauh-jauh. Gantinya adalah Labis Wehali. Nama dengan muatan filosofis yang sangat mendalam.
“Kalau saya lebih memilih konsep Labis Wehali, karena ada budayanya dan branding itu yang diangkat. Selain itu, kita jadikan sentra kuliner dan sentra hiburan,” ujar Aloysius.
Labis berarti teras rumah adat tempat bermusyawarah, sedangkan Wehali adalah rahim peradaban masyarakat Timor di Malaka. Proyek ini tidak main-main. Dana segar digalang melalui kolaborasi taktis bersama Bank NTT. Paving block, drainase modern, hingga fasilitas MCK higienis akan dipasang. Konsepnya beralih menjadi semi-garden outdoor foodcourt yang ikonik.

Titik Lebur Dua Napas Ekonomi
Mengapa tempat ini begitu hidup? Jawabannya ada pada dinamika demografi. Kota Betun dikelilingi oleh desa-desa peri-urban yang subur. Landasannya datar. Jalurnya lurus. Kondisi geografis yang bersahabat ini membuat mobilitas anak muda sangat tinggi. Mereka bergerak cepat menggunakan sepeda motor dari pinggiran kota. Jarak tempuh dari Desa Kamanasa, Harekakae, atau Bakiruk hanya hitungan menit. Mereka haus akan ruang hiburan. Mereka butuh tempat untuk mengekspresikan diri. Lapangan Umum Betun menjawab dahaga tersebut.
Terjadilah sebuah melting point (titik lebur) yang sangat inklusif. Ekosistem ekonomi di sini terbagi menjadi dua poros yang saling menguatkan.
Poros pertama adalah para penjual panganan tradisional. Mereka mayoritas adalah kaum perempuan, para Ina dan Feto, dari desa penyangga. Di bawah sistem adat matriarki Suku Tetun, kaum perempuan memiliki kontrol kuat atas sumber daya tanah dan hasil tani. Mereka membawa sagu, jagung bose, dan kelapa langsung dari kebun pedesaan menuju pusat kota.
Poros kedua adalah anak-anak muda urban Kota Betun. Mereka jeli melihat peluang pasar kekinian. Lapak kopi lesehan, sosis bakar, dan minuman estetik berbasis es kristal mereka gelar. Keberadaan agen logistik kota mempermudah rantai pasok mereka.
Dua kelompok ini melebur, berkolaborasi, dan mengisi pundi-pundi rupiah di bawah gemerlap lampu lapangan yang sama.
Bukan Mulai dari Nol: Menakar Angka Riil
Satu hal yang membuat proyek revitalisasi ini diprediksi sukses besar: pasarnya sudah terbentuk nyata. Pemkab Malaka tidak perlu berdarah-darah mengundang massa. Risiko proyek menjadi “mati suri” setelah dibangun hampir tidak ada. Roda ekonomi di titik ini sudah berputar kencang secara organik selama bertahun-tahun.
Mari kita bicara data. Pendapatan harian masyarakat di wilayah perbatasan ini rupanya sangat mengejutkan jika disandingkan dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Malaka yang berada di angka Rp2.455.898 per bulan.
Pada hari biasa tanpa adanya festival, sebuah lapak kecil mampu mengantongi omzet kotor Rp150.000 hingga Rp200.000 per malam. Dalam sebulan, mereka bisa mengumpulkan Rp4.500.000 hingga Rp6.000.000. Angka ini setara dengan 1,8 hingga 2,4 kali lipat dari standar UMK Malaka. Secara kumulatif, dengan sekitar 47 UMKM aktif yang terdata, perputaran uang organik di kawasan ini menembus Rp7.050.000 per malam atau setara Rp211,5 juta per bulan. Uang sebanyak ini bersirkulasi hanya dari kebiasaan nongkrong malam warga lokal.
Kondisinya akan melompat berkali-kali lipat saat momentum puncak (peak season). Ketika pemerintah daerah menggelar turnamen olahraga atau mini konser, omzet satu pedagang melonjak tajam hingga Rp500.000 atau Rp600.000 per hari. Total uang yang berputar di seluruh perimeter lapangan diproyeksikan menyentuh angka minimal Rp18.800.000 dalam satu malam saja!
Mitigasi untuk Sang Mesin Uang
Melihat angka valuasi yang begitu menggiurkan, wajar jika para pedagang sempat cemas mendengar rencana renovasi fisik. Konstruksi bangunan biasanya berarti penggusuran sementara. Penggusuran sering kali memutus urat nadi pendapatan.
Namun, pemerintah daerah kali ini tampak lebih matang. Skema kontingensi disiapkan secara serius.
“Kita akan siapkan jualan mobile bagi lapak-lapak yang tradisional ataupun kekinian sehingga mereka juga mendapat pengawasan dari Pemda,” kata Aloysius.
Selama masa pembangunan berjalan, seluruh pedagang akan difasilitasi dengan kios jualan mobile. Penjual makanan tradisional maupun modern tetap bisa berdagang di bawah pengawasan pemda. Dapur mereka dipastikan harus tetap mengepul.
Kapasitas tampung kawasan pun akan dilipatgandakan melalui cetak biru rencana pengungkit (leverage plan).
Zona kuliner tidak akan ditumpuk secara sesak di sekeliling lapangan berluas 1 hektar itu. Pemerintah akan menarik garis koridor ekonomi baru, memanjang tertib hingga ke area Harekakae.
Labis Wehali yang baru, diperkirakan akan mampu menampung 100 hingga 150 pelaku UMKM sekaligus saat kondisi puncak. Penataan ini juga akan berjalan beriringan dengan program digitalisasi transaksi non-tunai lewat QRIS Bank NTT. Sebuah langkah maju yang akan memaksa UMKM perbatasan naik kelas.
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam di Betun. Suara tawa anak muda desa peri-urban dan anak kota berbaur menjadi satu, larut bersama denting sendok dan petikan gitar dari panggung mini. Labis Wehali bukan sekadar proyek fisik konstruksi beton. Ia adalah panggung masa depan Malaka. Sebuah teras besar tempat kebudayaan tradisional merajut harmoni bersama modernitas ekonomi perkotaan di beranda depan NKRI.

Desa Membangun Negeri


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.