Soropadan Expo, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Fluktuasi harga komoditas pertanian, khususnya cabai dan bawang, sering kali menjadi tantangan besar bagi petani. Menjawab persoalan ini, Forum Petani Champion Jawa Tengah hadir sebagai solusi strategis untuk menstabilkan harga dan meningkatkan kesejahteraan petani. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2016 atas inisiatif kementerian, bermula dari tingkat nasional sebelum diadopsi di tingkat provinsi pada 2019.
“Ketika harga tinggi, kami bisa membantu program pemerintah. Di kala harga jatuh, pemerintah juga bisa membantu kami sebagai petani supaya harga terangkat naik,” jelas Pak Jupri, Bendahara Forum Petani Champion Jawa Tengah, dalam wawancara di Soropadan Expo.
Kehadiran Petani Champion Jawa Tengah terbukti memberikan dampak positif. Saat ini, perwakilan forum telah tersebar di setiap kabupaten. Bahkan, pada tahun 2025, Forum Petani Champion Jawa Tengah menargetkan 300 hektar tanaman cabai yang menjadi tanggung jawab mereka di 15 kabupaten se-Provinsi Jawa Tengah.
Dampak Positif di Tingkat Kabupaten
Salah satu perwakilan petani dari Wonosobo, Syat dari Kelompok Tani Mudi Lestari di Dusun Butuh, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, mengungkapkan pengalaman positifnya. “Sebelumnya, kami sering terikat dengan tengkulak kecil. Setelah ikut Champion, kami merasakan enaknya karena harga lebih terjamin. Harga ikut naik saat pasar bagus, dan tidak jatuh terlalu rendah ketika pasar lesu,” ujarnya. Harapan ke depan, semakin banyak petani di Wonosobo, khususnya di Dusun Butuh, yang bergabung agar bisa bersama-sama menghadapi tantangan harga.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Salim, perwakilan petani champion dari Temanggung, yang tergabung dalam Kelompok Tani Gotong Royong. Ia menjelaskan bahwa komunitas ini memberikan dukungan dari pemerintah dan Dinas Provinsi untuk menstabilkan harga. “Manakala harga terlalu tinggi, kami bisa ke pasar dengan harga di bawah harga pasar. Kalau harga rendah, ada solusi agar petani tidak rugi,” kata Salim.
Pada tahun 2024, Temanggung menerima alokasi 8 hektar lahan cabai yang berhasil menstabilkan harga pasar pada periode panen Oktober-Desember. Tahun ini, alokasi meningkat drastis menjadi 35 hektar, tersebar di 12 kelompok tani dan mencakup enam kecamatan. Peningkatan signifikan ini menunjukkan kepercayaan dan keberhasilan program.
Inovasi Pascapanen dan Dukungan Bank Indonesia
Petani Champion juga aktif mengembangkan solusi untuk mengatasi anjloknya harga cabai, salah satunya melalui inovasi pascapanen. “Jika harga cabai menurun, alhamdulillah kami diberi bantuan mesin roasting untuk pengering cabai dari Bank Indonesia,” ungkap Syat. Cabai kering ini kemudian diolah menjadi cabai bubuk, sehingga petani tidak merugi saat harga cabai segar anjlok.
Bantuan dari Bank Indonesia tidak hanya berupa mesin pengering, tetapi juga mencakup tujuh jenis mesin lainnya, mulai dari pencucian, pengolahan, hingga pengemasan produk. Salim dari Temanggung menambahkan, kelompoknya juga menerima bantuan berupa sarana produksi (saprodi) dan sebuah mobil yang diberi nama “mobil champion”. Mobil ini digunakan untuk menjemput hasil panen setiap hari, mempermudah distribusi dan pengumpulan produk.
“Ini juga bisa dikembangkan dengan UMKM lokal,” tambah Pak Jupri, menggarisbawahi potensi kolaborasi antara petani dan pelaku usaha mikro. Produk cabai bubuk, misalnya, dapat dikemas lebih menarik dan menjadi produk UMKM yang bernilai jual tinggi, apalagi kebutuhan dapur modern semakin beralih ke bumbu praktis.
Dengan dukungan pemerintah dan Bank Indonesia, serta semangat kolaborasi antarpetani, Forum Petani Champion Jawa Tengah terus berupaya menciptakan ekosistem pertanian yang lebih stabil dan menguntungkan. Harapannya, model ini dapat terus ditiru dan menjangkau lebih banyak petani di seluruh kabupaten.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.