Tuntang, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Menjadi berbeda di tengah masyarakat pedesaan sering kali dianggap aneh, bahkan tak jarang mendapat cemoohan. Hal itulah yang dirasakan oleh Giarto, seorang perangkat desa di Desa Watuagung, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Pada tahun 2015, ia mengambil keputusan nekat yang membuat tetangganya geleng-geleng kepala: mengubah lahan sawah produktif miliknya menjadi kebun jambu kristal.
“Masyarakat saat itu bingung, bahkan ada yang bilang saya gila. Sawah bagus-bagus kok malah ditanami jambu, apa mau makan jambu terus, kata mereka,” ujar Pak Giarto mengenang masa lalunya sambil tersenyum.
Namun, waktu membuktikan bahwa pilihan Pak Giarto tidak salah. Kini, dari hamparan lahan perbukitan miring di batas Kota Salatiga tersebut, pundi-pundi rupiah terus mengalir tanpa henti setiap hari.
Berawal dari Enam Bibit Jambu Merah
Kisah sukses ini tidak terjadi dalam semalam. Pak Giarto memulai perjalanan bertaninya sejak tahun 2011. Awalnya, ia melihat seorang pensiunan asal Bojonegoro yang berani mengontrak rumah dan lahan di desanya hanya untuk menanam jambu biji merah.
Tertarik dengan keberanian sang pendatang, Pak Giarto meminta enam bibit untuk ditanam di sekitar rumahnya. Ia mempelajari cara budidayanya, lalu mulai memanfaatkan lahan bengkok perangkat desa seluas setengah hektar untuk menanam jambu merah.
Titik balik terjadi pada tahun 2015 ketika seorang saudaranya pulang dari Pringapus dan membawa cerita tentang potensi jambu kristal yang dihargai Rp25.000 per kilogram. Tergiur dengan prospek tersebut, Pak Giarto merombak lahan sawahnya seluas 6.000 meter persegi untuk ditanami jambu kristal yang bibitnya ia ambil dari daerah Salaman.
Tantangan Pasar dan Kunci Perawatan
Perjalanan Pak Giarto tidak langsung mulus. Di awal panen, ia kesulitan setengah mati untuk menjual buahnya. Toko-toko buah di pasar lokal menolak karena harganya dianggap terlalu mahal. Namun, ia tidak menyerah. Pak Giarto terus mencari celah pasar hingga berhasil menembus Pasar Johar di Semarang dan mendapat bantuan promosi melalui acara-acara dinas pemerintah daerah.
Kini, dengan total lahan mencapai 2 hektar, Pak Giarto membagikan rahasia sukses merawat jambu kristal agar berbuah sepanjang tahun tanpa jeda. Pertama, sistem drainase yang baik. Jambu kristal membutuhkan banyak air, tetapi akarnya tidak boleh tergenang air agar tidak busuk. Pak Giarto membuat bedengan dan selokan mengalir di lahan miringnya. Kedua, pruning atau pemangkasan. Pohon jambu hanya akan mengeluarkan buah bersamaan dengan tumbuhnya tunas baru. Oleh karena itu, pemangkasan ranting yang tidak produktif wajib dilakukan secara rutin. Ketiga, pupuk organik murni. Pak Giarto sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia. Ia memanfaatkan kotoran sapi, kambing, dan ayam yang melimpah dari peternak di sekitar desanya. Keempat, satu tangkai satu buah: Jambu kristal harus disortir sejak dini. Jika satu tangkai tumbuh empat bakal buah, ia hanya menyisakan satu buah yang paling besar dan mulus agar ukurannya bisa maksimal saat panen.
Menggerakkan Ekonomi Desa dan Harapan untuk Anak Muda
Dari ketekunan ini, kebun Pak Giarto kini mampu menghasilkan rata-rata 5 kuintal (500 kg) jambu kristal setiap hari. Dengan harga jual langsung di kebun sebesar Rp10.000 per kilogram, omset puluhan juta rupiah kini berada di tangan setiap bulannya.
Kelebihan lain dari jambu kristal adalah daya tahannya yang stabil di pasaran, berbeda dengan jambu merah jus yang penjualannya sering anjlok saat musim penghujan karena warung jus memilih libur.
Usaha ini juga membawa berkah bagi lingkungan sekitar. Pak Giarto memberdayakan ibu-ibu setempat untuk membantu proses membungkus buah di kebun setiap harinya.
Melihat potensi yang begitu besar, Pak Giarto berharap anak-anak muda di desanya mau melirik sektor pertanian dengan cara yang lebih modern. Ia membuka pintu kebunnya lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin belajar.
“Anak muda jangan lelah membuat inovasi baru. Tidak harus bertani dengan cara lama yang kotor-kotoran. Mereka bisa mengambil peran dalam pembibitan dengan sistem cangkok yang mudah, atau membuat konten kreatif dan workshop budidaya di sini. Sinergi seperti inilah yang akan melahirkan petani milenial yang sesungguhnya,” pungkas Pak Giarto penuh optimistis.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.