Musi Rawas, Sumatera Selatan [DESA MERDEKA] – Di balik rimbunnya kebun-kebun karet dan sawit di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, perempuan lama terjebak dalam stigma tak berdaya.
Data sosial menunjukkan kenyataan pahit: mayoritas dari mereka adalah perempuan rentan yang terperangkap dalam lingkaran nikah dini, putus sekolah, atau terpaksa menjadi pekerja migran ke luar negeri demi menyambung hidup.
Namun, ketika kemiskinan struktural mendesak ruang gerak mereka, para ibu di desa yang berjarak 21 kilometer dari pusat kabupaten ini menolak untuk terus menyerah pada nasib.
Dipimpin oleh keteguhan hati seorang perempuan bernama Suhartini, mereka membuktikan bahwa masa depan desa tidak harus digantungkan pada belas kasihan, melainkan bisa dirajut dari pekarangan rumah sendiri. Lewat Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, mereka menyulap buah pinang—yang dulunya dianggap tak berharga dan hanya ditebang untuk kayu bakar—menjadi motor penggerak ekonomi yang mandiri.
Merebut Kembali Nilai yang Dirampas Tengkulak
“Sebelum kami bergerak, pohon pinang di desa ini tidak ada harganya. Tengkulak mempermainkan harga sesuka hati, hanya Rp4.000 per kilogram, padahal di pasar global nilainya bisa mencapai puluhan ribu,” ungkap Suhartini mengenang masa-masa awal perjuangannya.
Melihat ketidakadilan pasar tersebut, Suhartini yang berbekal pelatihan kewirausahaan pada 2018 mulai merangkul 15 perempuan desa untuk memutus rantai ketergantungan.
Langkah awal tidak mudah. Berdiri di kawasan yang rawan banjir, mereka memulainya dari budidaya jahe eceran di dalam polybag sebelum akhirnya melompat ke potensi riil desa yang terabaikan: perkebunan pinang.
Intervensi pengetahuan kemudian mengubah segalanya. Melalui pendampingan program lokal, para ibu ini belajar bahwa pinang bukan sekadar biji kering untuk diekspor mentah. Di bawah tangan-tangan ulet mereka, buah pinang naik kelas menjadi produk hilir bernilai ekonomi tinggi. Mulai dari kopi pinang, bandrek, permen herbal, hingga daun pelepahnya yang dicetak menjadi piring ramah lingkungan pengganti styrofoam.

Kini, dari lahan seluas 15 hektare, KWT Melati mampu memproduksi hampir satu ton pinang kering setiap bulan. Omzet bersih kelompok yang kini menyentuh Rp8 juta per bulan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan uang belanja riil yang menyelamatkan dapur keluarga dan membiayai sekolah anak-anak desa.
Mengubah Stigma, Mengukir Kedaulatan
Dampak terbesar dari gerakan ini bukanlah runtuhnya angka kemiskinan, melainkan runtuhnya tembok patriarki yang memenjara ruang aktualisasi perempuan desa. Dari yang semula hanya beranggotakan 12 orang, kini 30 perempuan tangguh berdiri tegak di dalam kelompok ini.
Mereka memiliki sistem kas mandiri yang berfungsi sebagai penyedia pinjaman lunak tanpa bunga yang mencekik seperti lintah darat.
“Perempuan di Desa Sukakarya sekarang dipandang sebagai orang-orang yang berkemampuan, bukan lagi sebagai penerima belas kasihan. Kami membantu ekonomi keluarga melalui kemampuan kami mengolah potensi lokal,” tegas Suhartini, yang atas dedikasinya diganjar penghargaan pahlawan lokal tingkat nasional.
Perjuangan di Sukakarya adalah pesan nyata bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Bahwa kedaulatan desa sejati tidak akan pernah tercapai selama kaum perempuannya masih diletakkan di lini belakang. Di tangan para ibu KWT Melati, pinang telah menjadi saksi bisu bagaimana perempuan desa mampu memimpin perubahan, mendobrak keterbatasan, dan menjadi tiang penyangga ekonomi yang kokoh dari beranda rumah mereka sendiri.
Redaksi Desa Merdeka















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.