Tuntang, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di sudut sebuah kegiatan keagamaan yang dipadati ribuan jemaah di Kecamatan Tuntang, sekelompok ibu-ibu dengan kerutan usia di atas 60 tahun sibuk menghitung lembaran uang di balik meja kayu sederhana. Mereka bukan sedang mendaftar jemaah, melainkan mengelola kasir koperasi dadakan.
Hanya dalam waktu empat jam selama acara berlangsung, lapak kecil yang digawangi para lansia dengan manajemen “tradisional” ini sukses mencetak laba bersih ratusan ribu rupiah. Produk yang dijual murni hasil bumi dan olahan tangan jemaah perempuan desa: mulai dari keripik, es, buah-buahan, hingga telur ayam. Saat sebagian besar pengunjung mulai membubarkan diri, para ibu ini bergeming, meneliti setiap catatan transaksi hingga semuanya dinyatakan clear tanpa selisih sedikit pun.

Fenomena ini menjadi potret kecil dari “Gebrakan” Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Tuntang. Organisasi perempuan yang berbasis di akar rumput pedesaan ini membuktikan bahwa batas usia dan anggapan manajemen tradisional bukanlah penghalang untuk menggerakkan roda ekonomi desa.
Modal ‘Bismillah’ dan Kedaulatan Finansial Desa
Di balik kemegahan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengajian Akbar yang dihadiri jajaran Forkopimcam dan kepala desa, tersimpan cerita kemandirian dana yang luar biasa. Acara besar yang melibatkan korps rebana kolosal berkekuatan 100 penabuh dari 12 ranting desa ini ditopang oleh pendanaan mandiri yang solid.
“Awalnya modal kami hanya bismillahirrahmanirrahim, dengan niat ikhlas,” ujar Ketua PAC Muslimat NU Tuntang, Hj Churun muhibah.
Alih-alih bergantung penuh pada proposal bantuan pihak luar, organisasi perempuan pedesaan ini memilih bergerak mandiri. Mereka menggalang dana swadaya lewat iuran anggota di 16 ranting desa serta mengemas program sedekah kreatif bernama “Arwah Jamak”. Lewat program doa bersama untuk birrul walidain (berbakti pada orang tua) ini, jemaah memberikan infak sukarela yang kemudian diputar menjadi penggerak utama pembiayaan seluruh rangkaian acara.

Strategi penggalangan dana berbasis komunitas ini membuktikan teori kedaulatan sirkulasi uang di tingkat desa. Uang dari warga desa, dikelola oleh warga desa, dan dikembalikan manfaatnya untuk pemberdayaan masyarakat desa itu sendiri.
Mengikis Stigma “Lansia” Lewat Produktivitas Nyata
Berdasarkan regulasi organisasi, Muslimat NU menjadi rumah bagi perempuan pasca-usia Fatayat (di atas 45 tahun) hingga akhir hayat. Di kepengurusan PAC Tuntang sendiri, hampir 90 persen anggotanya sudah masuk kategori lanjut usia (lansia).
“Usia boleh tua, tapi semangat kita harus muda. Kami tidak boleh berhenti untuk tetap berjuang dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Hj Churun muhibah.
Semangat emansipasi itu mewujud dalam aksi nyata yang visioner. Sebelum menggelar pengajian akbar, Muslimat NU Tuntang secara konsisten membekali para ibu di pedesaan dengan berbagai pelatihan keterampilan ekonomis, seperti workshop pembuatan sabun cuci rumah tangga hingga pelatihan pemulasaran jenazah yang digelar rutin setiap bulan.
Keterampilan harian ini memberi ruang bagi perempuan desa untuk memiliki nilai tawar ekonomi di rumah tangga mereka, sekaligus menjaga organisasi lokal tetap eksis dan relevan dalam pembangunan desa.

Inspirasi Kemandirian untuk Desa Lain
Daya dobrak ekonomi dan manajerial dari organisasi perempuan berambut perak ini menuai apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU (PCMN) sekaligus perwakilan pemerintah Kabupaten Semarang, menyatakan bahwa kebersamaan dan kemandirian yang ditunjukkan di Tuntang merupakan contoh nyata bagaimana gerak komunitas lokal bisa menopang roda ekonomi daerah. Pergerakan ini diharapkan mampu menginisiasi pergerakan ekonomi serupa di kecamatan dan desa-desa lainnya.
Ketika kegiatan usai, Ibu Ani Adibatin selaku ketua panitia—seorang pengajar yang baru pertama kali mengomandoi acara sebesar ini—akhirnya bisa bernapas lega. Ketelitian dan kekhawatirannya selama masa persiapan terbayar tuntas oleh rapi serta transparannya perputaran uang yang dikelola oleh para ibu desa.

Dari Tuntang, jemaah perempuan desa ini mengirimkan pesan kuat bagi pegiat desa di seluruh tanah air: ekonomi perdesaan yang kokoh tidak selalu dimulai dari modal besar korporasi perkotaan, melainkan dari ketelitian, keikhlasan, dan gotong royong warga di selasar masjid desa.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.