Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Bayangkan sebuah sore di awal Juli 2026. Suara gemercik air dari kolam kuno Pemandian Ken Dedes bersahut-sahut dengan riuh rendah tawar-menawar ratusan warga. Udara Candirenggo yang biasanya tenang, sore itu dipenuhi aroma khas kuliner lokal, berbaur tipis dengan wangi dupa dari sudut-sudut ritus budaya.
Di sinilah, di bawah bayang-bayang pohon besar Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, sejarah tidak lagi terasa dingin dan kaku. Melalui Festival Amoghasakti Singhasari 2026, sang ratu masa lalu—Ken Dedes—seolah bangun dari tidur panjangnya untuk satu misi baru: menggerakkan roda ekonomi warga.
Berawal dari Kegelisahan di Gang RT 05
Jika Anda mengira festival megah ini dirancang di atas meja rapat ber-AC milik kantor dinas pemerintahan, Anda keliru. Denyut nadi acara ini justru lahir dari ruang tamu sempit warga RT 05 Amoghasakti.
Gagasannya sederhana namun mendalam: sebuah kegelisahan komunal dari warga dan komunitas lokal Candirenggo yang tak ingin identitas Singhasari lumat begitu saja oleh modernisasi.
“Nama Amoghasakti kami pilih sebagai simbol kekuatan untuk bangkit,” kenang Kusria Arifin, Ketua Panitia yang akrab disapa Vino.
Niat baik ini rupanya menular cepat. Bak bola salju, ide dari satu RT ini menggelinding dan berhasil memikat lebih dari 25 komunitas lokal. Mulai dari seniman tradisional Karawitan Kendedes, perajin kain di Paguyuban Batik Singhasari, hingga kelompok anak muda kreatif. Pemerintah kecamatan dan kelurahan yang melihat gerakan organik ini pun tak ragu untuk langsung pasang badan memberikan dukungan.
Saat Batik dan Kuliner Bercerita tentang Sejarah
Candirenggo bukanlah tanah biasa. Beberapa pelemparan batu dari petirtaan, berdiri kokoh Candi Singhasari, saksi bisu kejayaan Raja Kertanegara. Namanya, hingga kini masih bertahan dalam lembaran buku-buku sekolah.
Festival ini, membawa kisah agung sejarah Singhasari keluar dari narasi, diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa diraba, dicicipi, dan dipakai oleh manusia modern.
Tengok saja bagaimana selembar Batik Singhasari dipamerkan dalam parade. Ia bukan sekadar kain bermotif cantik penutup tubuh, melainkan kanvas yang membawa narasi, filosofi, dan identitas tempat asalnya. Pengunjung tidak sekadar membeli barang, mereka pulang membawa potongan cerita masa lalu.

Ketika Kebudayaan Berbuah Omzet Ratusan Juta
Keputusan mengawinkan pelestarian budaya dengan ekonomi kreatif terbukti bukan romatisisme belaka. Selama tiga hari perhelatan, pelataran petirtaan kuno itu menjelma menjadi pasar rakyat yang sangat hidup.
Sebanyak 100 pelaku UMKM lokal—mulai dari penjual kudapan tradisional hingga perajin suvenir—merapatkan barisan di tenda-tenda festival. Hasilnya luar biasa. Vino mencatat, perputaran uang selama tiga hari itu diestimasikan menembus angka Rp400 juta hingga Rp500 juta.
Angka setengah miliar rupiah tersebut menjadi tamparan balik bagi sinisme yang menganggap acara kebudayaan hanya buang-buang anggaran. Budaya, jika dikelola dengan kreativitas dan gotong royong, ternyata bisa menciptakan pasar baru yang menghidupi dapur masyarakat.
Warisan yang Berkelanjutan
Geliat ekonomi pariwisata sering kali menyisakan masalah lingkungan, namun Festival Amoghasakti mencoba memutus kutukan itu. Sebelum riuh penonton memenuhi area, panitia terlebih dahulu menanam bibit-bibit pohon penghijauan di sekitar Candirenggo.
“Festival budaya harus mampu membangun kesadaran masyarakat untuk bergotong royong menjaga kelestarian alam sekitar,” ujar Lurah Candirenggo, Melani Astuti.
Baginya, petirtaan ini adalah titipan yang harus dirawat dalam kondisi asri untuk generasi masa depan.
Kini, setelah panggung dibongkar dan lampu-lampu festival dipadamkan, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Camat Singosari, Wellem, telah memasang target besar: festival swadaya ini harus naik kelas menjadi agenda pariwisata berskala luas, bahkan ditargetkan menembus Kharisma Event Nusantara (KEN).
Namun di atas semua ambisi itu, ada satu pesan esensial yang ditinggalkan dari pelataran Ken Dedes. Masa lalu dan warisan leluhur tidak pernah menjadi beban. Di tangan komunitas yang solid dan kreatif, sejarah adalah modal terbaik untuk merajut masa depan.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.