Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Masa purna tugas sering kali dianggap sebagai garis finis bagi seorang abdi negara. Namun, bagi Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Tulungagung, pensiun hanyalah perpindahan status dari pelayan publik menjadi tokoh penggerak di tengah masyarakat. Hal ini ditegaskan dalam acara penyerahan tali asih kepada perangkat desa purna tugas di Balai Desa Sawo, Sabtu (10/1/2026).
Langkah PPDI ini menjadi anomali positif di tengah birokrasi yang kaku. Alih-alih memutus hubungan setelah masa jabatan berakhir secara administrasi, PPDI justru mempererat simpul kekeluargaan. Program tali asih ini diposisikan sebagai “estafet pengabdian”, di mana mereka yang pensiun tetap dianggap sebagai bagian besar dari keluarga besar perangkat desa.
Menjaga Harmoni di “Rumah Tangga” Desa
Ketua PPDI Kabupaten Tulungagung, Abdul Fatah, menekankan bahwa nilai dari tali asih ini terletak pada simbol penghargaannya, bukan pada nominalnya. Ia mengajak seluruh perangkat desa yang masih aktif untuk tetap menjaga harmonisasi di dalam “rumah tangga” desa, terutama sinergi dengan Kepala Desa dan sesama rekan sejawat.
“Dedikasi puluhan tahun melayani warga adalah warisan yang tak ternilai. Perjuangan PPDI masih panjang, dan kekompakan adalah kunci untuk mendukung program kesejahteraan ke depan,” ujar Fatah di hadapan jajaran pengurus dan tamu undangan.
Senada dengan hal tersebut, Camat Campurdarat, Tri Wantoro, S.Sos., M.Si., mengingatkan bahwa perangkat desa adalah tepo tulodo atau teladan bagi masyarakat. Meski sudah purna tugas, mereka diharapkan tetap menjadi kompas moral di lingkungan masing-masing.
Ujung Tombak Pembangunan yang Tak Tergantikan
Ketua PPDI Campurdarat, Sumeri, menambahkan bahwa marwah instansi desa sangat bergantung pada integritas perangkatnya sebagai ujung tombak pembangunan. Penghargaan ini diberikan kepada empat sosok yang telah menyelesaikan masa baktinya dengan kepala tegak, yaitu:
- Mudakir (Staf Dusun Cerme)
- Sudar (Staf Kesra)
- Djamal (Staf Dusun)
- Djuremi (Kasun Buret)
Mudakir, yang mewakili rekan purna bakti, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Bagi mereka, kepedulian organisasi setelah masa jabatan berakhir adalah bentuk pengakuan eksistensi yang sangat menyentuh hati. Hal ini membuktikan bahwa PPDI bukan sekadar wadah profesi, melainkan rumah bagi para pejuang desa.
Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama. Harapannya, tradisi ini terus berjalan untuk memastikan bahwa setiap keringat yang tumpah demi kemajuan desa akan selalu diingat dan dihormati melampaui masa jabatan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.