Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

EKBIS · 5 Okt 2023 10:30 WIB ·

Pahit Manis Kakao Pariaman: Harapan Petani Bangkit Kembali


					Kehidupan Petani Cokelat Pak Edi Tak Semanis Rasa Cokelat, Sabtu (23/09) di Nagari Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Padang Pariaman. (Foto Dok: IDe Dewi) Perbesar

Kehidupan Petani Cokelat Pak Edi Tak Semanis Rasa Cokelat, Sabtu (23/09) di Nagari Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Padang Pariaman. (Foto Dok: IDe Dewi)

Padang Pariaman [DESA MERDEKA] – Di balik kelezatan cokelat yang digemari banyak orang, tersimpan kisah perjuangan para petaninya. Pak Harmadi, yang akrab disapa Pak Edi, telah merasakan pahit manisnya menjadi petani cokelat selama 19 tahun, sejak tahun 2004 ketika Kabupaten Padang Pariaman mencanangkan diri sebagai ikon cokelat di bawah kepemimpinan Bupati Muslim Kasim (Almarhum).

Pada masa itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman gencar menyalurkan bibit cokelat varietas TSH 858 secara gratis kepada masyarakat. Sempat merasakan kemajuan pesat atau booming pada tahun 2013, dengan diluncurkannya merek ‘Adam Cokelat’ oleh Bupati Ali Mukhni. Produk lokal ini bahkan disajikan di outlet Lapau Cokelat, pusat jajanan khas Padang Pariaman yang strategis terletak di jalur menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Namun, kejayaan itu tak berlangsung lama. “Berselang beberapa tahun kemudian, pohon cokelat kami terserang penyakit yang tak ada obatnya. Akibatnya, banyak petani yang terpaksa menebang pohon cokelat mereka,” ungkap Pak Edi kepada awak media pada Sabtu (23/9/2023).

Kendati demikian, semangat Pak Edi untuk mempertahankan tanaman cokelat tidak pupus sepenuhnya. “Tidak semua saya tebang, saya masih menyisakan sekitar 100 batang pohon kakao dengan menerapkan sistem ‘Sambung Samping’ yang saya pelajari dari Pak Surya. Kemudian, saya juga diajari teknik ‘Sambung Pucuk’ untuk menanam bibit cokelat berikutnya menggunakan klon MCC 02 di lahan yang masih tersisa,” lanjutnya.

Adi Surya, SP, seorang petugas penyuluh pertanian yang rumah orang tuanya berdekatan dengan kediaman Pak Edi, menjadi mentornya. Saat ini, Adi Surya mengemban amanah sebagai Koordinator Penyuluh (Korluh) di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam.

Kini, Pak Edi menaruh harapan besar kepada Pemkab Padang Pariaman serta pihak-pihak yang memiliki kepedulian untuk kembali ‘mambangkikkan batang tarandam’—istilah Minang yang berarti membangkitkan kembali masa kejayaan cokelat di Padang Pariaman.

“Harapan ke depan, dengan menggunakan tanaman cokelat ‘Sambung Pucuk’ klon MCC 02, kami optimis dapat ‘mambangkikkan batang tarandam’ cokelat di Padang Pariaman. Semoga Pemkab Padang Pariaman serta pihak-pihak terkait memberikan perhatian kepada kami, para petani cokelat yang masih bertahan,” pungkas Pak Edi, mengakhiri perbincangan dengan nada penuh harap.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 510 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

31 Mei 2026 - 01:38 WIB

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman

Strategi GAS Sragen 2026 Dongkrak Pendapatan Daerah

29 Mei 2026 - 16:44 WIB

Government Auto Show 2026 di Gedung Sasana Manggala Sukowati Sragen

Hilirisasi Pinang Lima Puluh Kota Menembus Pasar Ekspor

29 Mei 2026 - 10:45 WIB

Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Desa: Benarkah Sawah Terancam?

24 Mei 2026 - 15:07 WIB

Trending di EKBIS