Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Pekan Agro Digital & Inovasi (PADI) – Soropadan Expo 2025 kembali digelar di Agro Center Soropadan, Jawa Tengah, pada 18–23 Juli 2025. Mengusung tema “Menumbuhkan Inovasi & Teknologi Pertanian Menuju Jateng sebagai Penumpu Pangan Nasional”, acara ini menjadi wadah penting untuk memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.
Berbagai agenda menarik memeriahkan PADI 2025, mulai dari kontes buah lokal, lomba mancing, festival kopi dan tembakau, kontes domba, hingga pertunjukan seni budaya. Acara ini secara resmi dibuka dengan penyerahan Kartu Zilenial dan bantuan usaha Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada tujuh penerima, dilanjutkan dengan pemukulan kentongan raksasa oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dalam sambutannya menegaskan pentingnya meningkatkan kesadaran akan peran strategis petani dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ia mengutip pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto tentang urgensi kemandirian pangan, yang telah disuarakan jauh sebelum krisis global terjadi, menunjukkan visi jangka panjang negara dalam sektor ini.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, De Fransisco Dasilva Tafares, menambahkan bahwa PADI 2025 bukan sekadar ajang promosi teknologi pertanian, melainkan juga wadah edukasi, inspirasi, dan regenerasi petani muda. “Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkenalkan teknologi terkini dan mendorong digitalisasi di sektor pertanian, sehingga mampu memutus mata rantai penjualan yang panjang dan meningkatkan pendapatan petani,” ungkap De Fransisco.
Pameran ini melibatkan 186 gerai partisipan, terdiri atas perusahaan mitra, sponsor, pelaku UMKM, dan inovator muda. Sebanyak 25 inovator dari berbagai daerah bersaing dalam lomba inovasi teknologi dan produk pertanian, menunjukkan tingginya potensi pengembangan di sektor ini.
Kontribusi Komunitas dan Kabupaten Unggulan
Komunitas Cabai Champion Jawa Tengah menjadi salah satu sorotan utama. Ketua Cabai Champion Jateng, Sunan, menjelaskan bahwa komunitas ini dibentuk untuk menstabilkan harga komoditas hortikultura, khususnya cabai dan bawang merah, yang kerap fluktuatif. Selain menjadi solusi jangka pendek saat harga anjlok, komunitas ini juga menginisiasi pengolahan pascapanen, seperti produksi cabai kering, untuk menjaga nilai jual.
“Keberadaan Champion membawa manfaat nyata bagi petani dan tengkulak,” ujar Sunan. Ia juga mengajak lebih banyak petani hortikultura untuk bergabung dan merasakan dampak positif dari sinergi ini. Komunitas ini, yang berdiri sejak 2016 dan diadopsi dari level nasional, kini memiliki perwakilan di setiap kabupaten di Jawa Tengah, dengan program tahun 2025 yang menargetkan 300 hektar tanaman cabai di 15 kabupaten.
Kabupaten Semarang turut memeriahkan acara melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan penyuluh pertanian (PPL). Mereka menampilkan produk unggulan seperti melon premium, olahan rempah milenial, vanili, serta konten edukatif dalam program Sahabat Desa yang mengangkat potensi dan inovasi dari desa-desa lokal.
Inovasi lain yang menarik perhatian adalah terakarbon, pembena tanah dari limbah sekam padi dan bonggol jagung melalui proses pirolisis. Produk ini diklaim mampu menstabilkan pH tanah, meningkatkan nutrisi, dan menghemat penggunaan pupuk kimia karena sifatnya yang slow release. Dengan dosis 1-2 ton per hektar, terakarbon cocok diaplikasikan untuk tanaman hortikultura seperti bawang merah di Brebes dan Tegal, serta tanaman dataran tinggi di Magelang.
Selain itu, PADI 2025 juga menampilkan mesin pencacah pakan ternak (chopper) dengan lima mata pisau, yang mampu menghasilkan cacahan halus dan kasar. Mesin ini dijual tanpa penggerak seharga sekitar Rp2.900.000,00 dan dapat menggunakan mesin bensin atau diesel 6 HP.
Rangkaian PADI 2025 akan ditutup secara khidmat dengan agenda Agro Bersholawat, sebagai simbol rasa syukur dan doa bersama untuk kemajuan pertanian Jawa Tengah dan Indonesia.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.