Mataram [DESA MERDEKA] – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memulai Gerakan Satu Desa Satu Demplot Agroforestri di Kabupaten Sumbawa sebagai upaya memulihkan lahan dan hutan yang rusak akibat budi daya monokultur jagung. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan lahan kritis dan bencana hidrometeorologi yang kerap melanda wilayah tersebut.
“Demplot agroforestri diharapkan mampu memicu masyarakat tidak hanya melakukan budi daya monokultur jagung, tetapi mulai mengolah lahan dengan pola agroforestri,” kata Kepala Dinas LHK NTB, Julmansyah, dalam pernyataan di Mataram, Minggu (2/6/2024).
Julmansyah, yang kini menjabat sebagai Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat di Kementerian Kehutanan (Kemenhut), menuturkan bahwa program ini merupakan janji yang harus dituntaskan sebelum ia pindah tugas ke Kemenhut. Program ini digagas oleh Dinas LHK NTB bersama Danrem 167 Wirabakti, Brigjen Agus Bakti, BPDAS Dodokan Moyosari, PLN Peduli, Pramuka, dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa.
“Ke depan, demplot ini dapat menjadi percontohan dan bahan edukasi nyata bagi masyarakat agar ada perubahan kerangka berpikir dan beralih dari pertanian monokultur ke kebun campuran atau wanatani,” ujar Julmansyah.
Ia menyatakan bahwa invasi monokultur jagung di kawasan hutan Pulau Sumbawa telah mengkhawatirkan. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, selalu terjadi setiap musim hujan. Selama Desember 2024 dan Januari 2025, tercatat 15 titik banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau sub-DAS di NTB.
Pola agroforestri untuk pemulihan lahan dan hutan kritis dapat menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu peningkatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan buah dari tanaman produktif dan pencegahan air limpasan sedimentasi serta potensi munculnya mata air baru.
Pada 2 Februari 2025, Program Satu Desa Satu Demplot Agroforestri dilaksanakan di Desa Teluk Santong dan Desa Sepayung di Kecamatan Plampang, serta Desa Marga Karya di Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa. Kegiatan ini direspons positif oleh 27 kepala desa yang berkomitmen untuk membuat demplot agroforestri.
Sebanyak 27 demplot desa tersebar di tiga Balai Kesatuan Pengelola Hutan (KPH), antara lain Balai KPH Ampang Plampang (15 desa), Balai KPH Batulanteh (8 desa), dan Balai KPH Brang Beh (4 desa).
“Masing-masing demplot seluas satu hektare, sehingga penanaman tahun ini sekitar 27 hektare demplot agroforestri,” kata Julmansyah.
Salah satu warga Dusun Ai Boro, Desa Teluk Santong, Sulaiman, yang lahannya menjadi demplot, mengakui bahwa monokultur jagung tidak menguntungkan bagi usaha pertanian. Ia berharap dalam satu atau dua tahun mendatang ada perubahan pendapatan melalui pola budi daya jagung berbasis agroforestri.
Total bibit yang tertanam pada 27 demplot kurang lebih 5.000 bibit, yang tersebar di KPH Ampang Plampang (2.700 bibit), Batulanteh (1.300 bibit), dan KPH Brang Beh (1.000 bibit). Sumber bibit berasal dari BPDAS Dodokan Moyosari dengan jenis alpukat, petai, klengkeng, nangka, mangga, hingga durian.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.