Keluarga Pahlawan Nasional Nani Wartabone Protes Keras Pencatutan Nama untuk Heritage Run
Gorontalo, Gorontalo [DESA MERDEKA] – Sebuah event lari yang rencananya akan diselenggarakan di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada 24 Agustus 2025, menuai polemik. Acara bertajuk Nani Wartabone Heritage Run 2025 ini memicu protes keras dari keluarga Pahlawan Nasional Nani Wartabone karena namanya digunakan tanpa sepengetahuan dan izin dari pihak keluarga.
Ricky R. Wartabone, salah satu cucu almarhum Nani Wartabone, mengungkapkan rasa keberatan keluarga. “Kami dari pihak keluarga merasa keberatan karena nama kakek kami, Nani Wartabone, digunakan untuk kegiatan komersial tanpa ada komunikasi atau izin terlebih dahulu,” ujar Ricky. Ia menambahkan bahwa pihak panitia tidak pernah menjalin komunikasi dengan keluarga, namun tiba-tiba saja spanduk dan flyer acara sudah beredar luas di media sosial dan bahkan pendaftaran peserta telah dibuka.

Menurut Ricky, penggunaan nama pahlawan untuk acara publik, terutama yang bersifat komersial, seharusnya melibatkan persetujuan dari keluarga sebagai bentuk etika dan penghormatan. Keluarga tidak hanya merasa namanya dicatut, tetapi juga khawatir esensi dan nilai-nilai perjuangan Nani Wartabone akan terdistorsi. “Secara pribadi saya khawatir, jika dikelola secara komersial tanpa pengawasan, nilai-nilai perjuangannya bisa luntur,” tambahnya.
Padahal, pihak keluarga bersedia memberikan masukan berharga jika dilibatkan, mulai dari desain maskot hingga pemilihan rute lari yang mengandung nilai sejarah. Ricky menyebutkan bahwa rute bisa melewati Danau Perintis, sebuah lokasi yang memiliki sejarah perjuangan. Dengan demikian, event tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga mengandung unsur kebudayaan dan historis yang kuat, sesuai dengan jasa sang pahlawan.
Polemik ini diharapkan segera menemukan titik terang. Pihak keluarga berharap panitia penyelenggara menunjukkan itikad baik untuk berdiskusi dan menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Namun, Ricky menegaskan, jika tidak ada respons positif dari panitia, keluarga tidak segan untuk menempuh jalur hukum.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi penyelenggara acara untuk selalu menjunjung etika, terutama ketika menggunakan nama tokoh-tokoh bersejarah. Sebuah acara yang seharusnya menjadi ajang penghormatan terhadap jasa pahlawan, kini justru menimbulkan isu sensitif yang merusak esensi dari tujuannya.

Desa’isME

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.