Ngobrol Desa Edisi ke-72 [DESA MERDEKA] – Program Ngobrol Desa kembali digelar untuk yang ke-72 kalinya, kali ini mengangkat tema penting dan aktual: Analisa Sasaran untuk Bahan Rembuk Stunting Desa, Kamis, 17 Juli 2025. Diskusi daring yang dimoderatori oleh Panudi dari Sukoharjo ini dihadiri oleh berbagai elemen penggerak desa: tenaga pendamping profesional, pengurus BUMDes, BPD, perangkat desa, OPD, hingga kader Posyandu dari berbagai daerah.
Dalam forum tersebut, dua narasumber dari KODE Indonesia, yakni Suryokoco dan Itong, berbagi pandangan dan strategi untuk memastikan rembuk stunting desa bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan menjadi tonggak penting dalam upaya penghapusan stunting berbasis data yang valid dan terintegrasi.
Rembuk Stunting: Jangan Sekadar Formalitas
Panudi mengawali diskusi dengan menekankan pentingnya menyusun rembuk stunting berdasarkan analisa sasaran yang akurat. Ia menyampaikan, di lapangan masih banyak ditemukan pertemuan desa yang tidak membahas akar masalah secara mendalam, sehingga solusi yang dihasilkan tidak efektif.
“Seringkali kita menemukan anak yang sudah mendapat PMT, keluarganya sejahtera, sanitasi bagus, tapi tetap masuk dalam daftar stunting. Setelah ditelusuri, ternyata pola asuh menjadi akar masalahnya. Ini harus digali melalui analisa data yang cermat, bukan hanya berdasarkan asumsi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan Rumah Desa Sehat (RDS) dalam proses musyawarah dan pendalaman kasus, agar perumusan solusi tidak sia-sia dan anggaran yang digelontorkan tepat sasaran.
Itong: Rembuk Stunting Harus Terintegrasi dengan RKP Desa
Dalam paparannya, Itong menyampaikan bahwa rembuk stunting yang digelar setiap tahun semestinya menjadi bagian tak terpisahkan dari proses perencanaan pembangunan desa.
“Rembuk stunting yang kita laksanakan tahun ini adalah dasar untuk menyusun RKP Desa tahun 2026. Artinya, hasil rembuk harus bisa diusulkan dan dibawa ke Musrenbangdes. Jangan sampai hanya menjadi dokumen yang tidak ditindaklanjuti,” tegasnya.
Sayangnya, menurutnya, banyak desa yang belum memiliki mekanisme penjaminan agar hasil rembuk benar-benar masuk dalam dokumen RKP. Untuk itu, ia mengusulkan perlunya parameter yang jelas, termasuk penggunaan data yang terstandarisasi dan konsolidasi lintas aplikasi.
Lima Sasaran Utama dan Peran Data HDW
Lebih lanjut, Itong menyebutkan bahwa dalam analisa sasaran untuk stunting, terdapat lima kelompok prioritas yang harus menjadi fokus intervensi, yakni:
- Remaja putri
- Calon pengantin
- Ibu hamil dan nifas
- Anak usia 0–59 bulan
- Keluarga risiko stunting
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan aplikasi HDW (Human Development Worker) sebagai basis data utama. Jika terdapat kekurangan dalam data HDW, desa diperbolehkan melakukan pelengkap data dari berbagai sumber—selama tetap dalam koridor konsolidasi dan sinkronisasi.
“Kunci keberhasilan rembuk stunting adalah pada kekuatan data. Jangan sampai ketika rembuk dilakukan, baru muncul ide dan usulan dadakan tanpa dasar analisa,” jelasnya.
Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan berbagai tantangan teknis yang dihadapi dalam mengakses data, memadukan sumber informasi dari berbagai pihak, hingga isu klasik tentang insentif kader. Itong merespon dengan menegaskan bahwa rembuk stunting adalah proses konsolidasi data yang harus melibatkan semua pihak, termasuk perangkat desa, KPM, bidan, TPK, dan unsur pemerintah kabupaten.
“Kita tidak bisa berharap pada satu pihak saja. Rembuk stunting harus dilihat sebagai kerja kolektif,” tambahnya.
Suryokoco dalam kesempatan yang sama juga menambahkan bahwa KODE Indonesia siap memfasilitasi pelatihan kader desa agar mampu mengakses, membaca, dan memanfaatkan data HDW secara mandiri sebagai dasar analisa.
Menuju Rembuk yang Transformatif
Diskusi Ngobrol Desa edisi ke-72 ini menandai semakin tingginya kesadaran kolektif tentang pentingnya data dalam perencanaan pembangunan. Tidak hanya soal intervensi stunting, namun juga tentang membangun tradisi berpikir sistematis dan berbasis bukti di tingkat akar rumput.
Penutup acara diisi dengan ajakan agar hasil diskusi tidak berhenti di ruang Zoom, tetapi segera ditindaklanjuti oleh peserta di desa masing-masing. Rembuk stunting tahun ini diharapkan bisa menjadi momentum lahirnya inovasi intervensi yang berbasis pada kebutuhan riil dan kondisi lapangan, bukan semata rutinitas tahunan.
“Bukan soal data sempurna, tapi bagaimana data yang ada dimanfaatkan secara maksimal untuk menjangkau yang paling rentan,” pungkas Panudi.
Penulis: Tim Redaksi Kantor Berita Desa
Editor: KODE PRESS – Koperasi Komunitas Desa Indonesia

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.