Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 24 Jul 2026 14:02 WIB ·

Menjaga Hutan Lewat Tradisi Krapyak Saparan di Bonosari


					Menjaga Hutan Lewat Tradisi Krapyak Saparan di Bonosari Perbesar

Gombong, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Asap dupa tipis membubung di antara rimbunnya pepohonan kawasan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kedungbulus, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gombong Utara. Hari itu, Kamis (23/07), keheningan Situs Petilasan Sariwangi yang terletak di Dukuh Tundan, Desa Bonosari, Kecamatan Sempor, mendadak hangat oleh kehadiran ratusan warga yang berkumpul dengan khidmat.

Masyarakat setempat kembali menggelar Tradisi Krapyak Saparan. Ritual tahunan ini bukan sekadar rutinitas kalender adat, melainkan potret nyata bagaimana sebuah desa merawat denyut spiritualitas sekaligus menjaga keharmonisan dengan alam sekitar.

Ungkapan Syukur dan Perekat Sosial
Bagi warga Desa Bonosari, bersahabat dengan hutan adalah jalan hidup. Mayoritas dari mereka menggantungkan peruntungan sebagai penyadap getah pinus. Maka, ketika musim Saparan tiba, hutan tidak lagi dipandang sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang sakral untuk melangitkan syukur.

Kepala Desa Bonosari, Sugeng Suyatno, menegaskan bahwa ritual turun-temurun ini merupakan manifestasi terima kasih yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Tradisi Krapyak Saparan merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas segala nikmat, keselamatan, dan hasil bumi yang melimpah,” ujar Sugeng di sela-sela acara.

Lebih dari itu, perhelatan ini menjadi magnet sosial yang ampuh. Di bawah keteduhan ranting-ranting tua Sariwangi, sekat antarwarga melebur. Mereka duduk bersama, berbagi berkah, dan memperkuat kembali semangat gotong royong yang mulai langka di era modern.

Sinergi Menjaga Paru-Paru Desa
Keunikan Krapyak Saparan kali ini kian terasa dengan hadirnya jajaran Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan. Kehadiran para rimbawan, termasuk Kepala RPH Kedungbulus Ahmad Nurudin DP dan Kepala RPH Sempor Supriyanto, menegaskan bahwa urusan menjaga hutan tidak bisa dilakukan secara sepihak.

Hutan yang lestari lahir dari hubungan yang saling menghormati antara pemangku kebijakan dan masyarakat adat. Ahmad Nurudin, yang hadir mewakili Administratur KPH Kedu Selatan, memanfaatkan momentum hangat ini untuk menyelipkan pesan penting bagi ruang hidup bersama.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan, khususnya di sekitar Situs Petilasan Sariwangi ini,” tutur Ahmad.

Memasuki musim kemarau yang rawan, ia juga memberikan peringatan dini bagi para warga yang sebagian besar berprofesi sebagai penyadap. Kehati-hatian adalah kunci utama agar tungku dapur warga tetap mengepul tanpa harus mengorbankan hijau buminya. Warga diimbau keras untuk tidak menyalakan api di dalam kawasan hutan demi mencegah petaka Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Warisan untuk Masa Depan
Ritual yang berlangsung khusyuk tersebut mencapai puncaknya saat doa bersama dipanjatkan. Dipimpin langsung oleh juru kunci makam, Mbah Sanmuradi, bait-bait doa dirapalkan penuh harap agar keselamatan senantiasa menaungi seluruh warga Desa Bonosari.

Krapyak Saparan di Situs Petilasan Sariwangi menjadi bukti otentik bahwa kearifan lokal adalah benteng terbaik dalam konservasi alam. Melalui ritual ini, pesan-pesan ekologis tidak disampaikan lewat instruksi kaku di atas kertas, melainkan lewat rasa hormat kepada leluhur dan bumi yang dipijak.

Ketika tradisi ini terus diwariskan kepada generasi muda, identitas Desa Bonosari sebagai desa yang mandiri, berbudaya, dan selaras dengan alam akan tetap abadi. Menjaga Krapyak Saparan berarti memastikan hutan Sempor tetap lestari demi menghidupi masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 28 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Retak Rumah Tangga Minang dan Tumpulnya Taji Adat

10 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Galodo Arosuka: Bantuan Perantau S3 dan Realita Ratusan Korban

6 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Darurat Kasus Kekerasan Seksual: Mengapa Jalur Damai Melanggar UU TPKS?

4 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Menggugat Alarm Mitigasi dari Hulu Nagari

2 Oktober 2026 - 15:29 WIB

Layanan Kesehatan Gratis KAI Dekatkan Medis Warga Bumiayu

16 September 2026 - 12:21 WIB

Air Kembali Mengalir, LPPM UNEJ dan PATPI Ringankan Beban Perempuan Desa Tadho

8 September 2026 - 08:53 WIB

Perempuan Desa Tado
Trending di SOSBUD