Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 9 Feb 2026 06:15 WIB ·

Belajar dari “Orang-Orang Seberang Kali” : Konflik Sosial Tak Selalu Gaduh


					Belajar dari “Orang-Orang Seberang Kali” : Konflik Sosial Tak Selalu Gaduh Perbesar

Sumber : https://gpu.id/book/87107/senyum-karyamin

Konflik sosial kerap dibayangkan sebagai peristiwa yang gaduh: pertengkaran, keributan, atau kekerasan terbuka. Konflik dianggap nyata ketika ada kubu yang saling serang. Namun hal berbeda dapat kita temukan dalam cerpen Orang-Orang Seberang Kali karya Ahmad Tohari. Konflik sosial yang terjadi terasa sunyi, berumur panjang, dan diterima sebagai bagian dari keseharian. Konflik semacam ini tidak merusak secara langsung, tetapi mengendap dan membentuk jarak sosial yang sulit disadari.

Melalui cerpen tersebut, walaupun merupakan sesama warga desa, tokoh aku menyebut tetangganya sebagai orang-orang seberang kali. Sebutan ini terasa berlebihan karena jarak fisik mereka tidak sampai seratus meter. Kali yang dimaksud pun bukan sungai besar, melainkan hanya parit alam dengan air bening dari mata air. Namun di situlah persoalan bermula. Jarak sosial tidak lahir dari ruang geografis, melainkan dari cara pandang. Ketika satu kelompok diberi label sebagai “seberang”, maka batas sosial pun mulai diciptakan secara perlahan.

Titian batang pinang yang menghubungkan dua wilayah menjadi simbol penting. Titian itu memungkinkan orang untuk menyeberang, tetapi tidak mendorong perjumpaan. Orang yang sering melintasi titian itu justru adalah orang dari desa lain sambil menjinjing ayam jago. Dalam cerpen, pencerita menyebut bahwa sebuah titian batang pinang menjadi penanda jarak yang tak kasatmata antara “kami” dan “mereka”. Titian ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan batas psikologis yang membuat relasi antarkelompok dipisahkan oleh nilai dan keyakinan masing-masing dalam menjalankan kehidupan.

Konflik dalam cerita tidak hadir sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai kecurigaan kecil yang terus berulang: ayam yang hilang, anak-anak yang diam-diam mengadu ayam, serta kebiasaan yang dianggap berbeda. Orang-orang Seberang kali menganggap bahwa adu ayam merupakan bagian terpenting dalam hidup mereka. Kebiasaan tersebut yang menjadi faktor bagi warga desa yang lain menganggap harus menjaga jarak. Secara eksplisit terlihat melalui ungkapan tokoh aku dalam cerpen, “Bisa jadi karena soal adu ayam itulah terbentang jaraj di antara kami” (Tohari, 2013:53).

Ahmad Tohari tidak menggambarkan orang-orang seberang kali sepenuhnya salah. Mereka mungkin dianggap jorok, ribut, dan mengganggu, tetapi mereka juga memiliki peran sosial yang tidak kecil. Setiap fajar, ayam jago merekalah yang membangunkan desa, bahkan sebelum panggilan azan terdengar. Dua dunia berjalan berdampingan kokok ayam di satu sisi, seruan takbir di sisi lain saling terdengar, namun jarang benar-benar saling menyapa. Simbol antara kokok ayam jago aduan dan suara azan, serta aktivitas mengelus ayam jago dan pulang dari surau, memperlihatkan hal yang tidak sejalan terkait kebiasaan dua pihak tersebut.

Fenomena konflik laten semacam ini juga ditemukan dalam kajian sosial pedesaan. Penelitian Rahmawati dan Mardiyono (2019) menunjukkan bahwa konflik di desa kerap tidak muncul dalam bentuk konfrontasi terbuka, melainkan tersembunyi dalam relasi sosial sehari-hari dan diperkuat oleh lemahnya kepercayaan antarwarga. Mereka menegaskan bahwa modal sosial berupa kepercayaan, norma bersama, dan jejaring sosial merupakan unsur kunci dalam meredam konflik dan membangun kerukunan di tingkat desa.

Tokoh Madrakum, botoh adu ayam, menjadi figur penting dalam relasi ini. Ia bukan pemimpin formal, tetapi memiliki pengaruh simbolik yang kuat. Selama ia hidup, batas sosial seakan memiliki penjaganya. Namun ketika Madrakum sakit dan sekarat, jarak yang selama ini terpelihara mulai goyah. Kang Samin datang meminta pertolongan bukan sebagai wakil kelompok, melainkan sebagai sesama manusia.

Di titik inilah cerita mencapai simpul reflektifnya. Konflik sosial yang lama dibiarkan sunyi berakhir bukan melalui dialog atau kesepakatan bersama, melainkan melalui peristiwa ekstrem: sekarat dan kematian. Kondisi Madrakum berhari-hari sekarat dan hampir mati. Melihat hal tersebut, Kang Samin meminta bantuan pada tetangganya di seberang untuk mendoakan, agar proses kematiannya bisa lancar dan Madrakum tidak tersisksa semakin lama menanggung sakit. Setelah didoakan, tidak lama kemudian Madrakum menghembuskan napas terakhirnya. Tokoh aku yang mengetahui hal tersebut menghubungi tetangganya untuk menyebarkan kabar duka. Kematian botoh adu ayam dari seberang kali, terasa meninggalkan duka pula pada warga desa yang lain, meskipun mereka memiliki perbedaan pandangan dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan temuan Suprapto (2018) yang menyebutkan bahwa konflik desa sering kali mereda bukan karena resolusi struktural, melainkan karena perubahan situasi sosial yang memaksa warga membangun kembali empati dan solidaritas.

Cerpen Orang-Orang Seberang Kali memberi pelajaran penting bagi kehidupan desa hari ini. Tidak semua konflik hadir dalam bentuk yang ribut. Banyak yang tersembunyi dalam bahasa “kami” dan “mereka”, dalam kebiasaan yang diwariskan, dan dalam jarak yang dianggap wajar. Konflik semacam ini justru berbahaya karena bertahan lama dan nyaris tak disadari. Pertanyaannya bukan lagi seberapa lebar kali yang memisahkan, melainkan apakah kita bersedia menyeberangi titian itu dengan kesadaran, empati, dan kemauan untuk benar-benar berjumpa. Ketidaksesuaian nilai merupakan keniscayaan bagi kita sesame manusia. Yang perlu kita lakukan adalah tetap menjalin hubungan baik, dan bekerja sama pada hal-hal lain di luar soal keyakinan. Misalnya bisa bekerja sama untuk bertani, belajar beternak ayam meski tujuannya berbeda, atau setidaknya bersama-sama menjaga dan membersihkan parit agar airnya layak digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Semua itu, demi sesuatu yang lebih baik bagi desa dan semua yang tinggal di dalamnya pada masa yang akan datang.

 

Pustaka

Rahmawati, R., & Mardiyono. (2019). Modal sosial dalam penyelesaian konflik masyarakat desa wisata. Jurnal Penyuluhan, 15(2), 210–222.
https://journal.ipb.ac.id/index.php/jupe/article/view/28590

Tohari, A. (2013). Senyum Karyamin. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Suprapto, S. (2018). Konflik dan integrasi sosial masyarakat pedesaan. Bina Governance: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 8(2), 123–134.
https://jurnalsetjen.kemendagri.go.id/index.php/bjgs/article/view/227

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 71 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Layanan Kesehatan Gratis KAI Dekatkan Medis Warga Bumiayu

16 September 2026 - 12:21 WIB

Air Kembali Mengalir, LPPM UNEJ dan PATPI Ringankan Beban Perempuan Desa Tadho

8 September 2026 - 08:53 WIB

Perempuan Desa Tado

Duka Pantai Selatan: Lelah Pamong Desa Menjaga Asa

5 September 2026 - 20:29 WIB

Lautan Cahaya Lilin Sambut Bunda Maria di Malaka

2 September 2026 - 22:47 WIB

Bukan Sekadar Sertifikat: Denyut Budaya Sumbar Ada di Tangan Masyarakat

29 Agustus 2026 - 16:46 WIB

Jangan Tangkap Ikan Kecil, Bongkar Bandar Togel Papua!

29 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Trending di SOSBUD