Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

SOSBUD · 7 Mei 2025 19:03 WIB ·

Magisnya Sepak Bola Api Desa Kawak, Tradisi Leluhur Membara!


					<em>Para pemain sepak bola api Desa Kawak beraksi dengan bola kelapa menyala diiringi antusiasme ribuan penonton.</em> Perbesar

Para pemain sepak bola api Desa Kawak beraksi dengan bola kelapa menyala diiringi antusiasme ribuan penonton.

Jepara [DESA MERDEKA] –  Kemeriahan kembali menyelimuti Desa Kawak, Jepara, Jawa Tengah, tatkala para pemudanya menggelar pertandingan sepak bola api pada Selasa (6/5/2025) malam. Tradisi unik ini menjadi agenda rutin tahunan masyarakat setempat, sarat akan nilai budaya dan magis.

Lapangan Mts Tashilul Muhtadiin Desa Kawak menjadi saksi bisu kobaran semangat para pemain yang mayoritas merupakan anggota Karang Taruna Tunas Berlian. Sebelum kick off pukul 21.00 WIB, mereka menjalani ritual khusus di punden buyutan desa. Ritual ini bertujuan memohon keselamatan diri sebelum beraksi dengan bola api. Mereka membawa kelapa utuh dan air suci dari mbelik sucen, mata air keramat di makam punden, menuju arena pertandingan.

Dua tim beranggotakan lima pemain ambil bagian dalam laga penuh tantangan ini. Mereka dibedakan melalui ikat kepala berwarna merah untuk tim “abang” dan hijau untuk tim “ijo”. Para pemain tampil gagah hanya dengan mengenakan celana hitam dan bertelanjang dada.

Sebelum bola api dimainkan, seorang tetua adat mengoleskan air suci dari mbelik sucen yang telah dicampur minyak kelapa dan sabun ke tubuh setiap pemain. Ritual ini dipercaya mampu meredam panasnya bola api yang berkobar-kobar.

Ribuan pasang mata masyarakat yang hadir dibuat terpukau oleh atraksi para pemain. Dengan santai dan penuh gaya, mereka menendang dan mengontrol bola api. Sorak sorai penonton menambah semarak suasana malam itu, meski tak sedikit yang tetap waspada menjaga jarak aman dari jilatan api.

Pertandingan berlangsung dalam dua babak, masing-masing berdurasi 15 menit. Pada akhir laga, tim “abang” (merah) berhasil keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 5-3.

Salah satu pemain, Candra (17), mengungkapkan kegembiraannya dapat berpartisipasi dalam tradisi unik ini. Warga RT 18 RW 03 Desa Kawak ini merasa bangga bisa melestarikan budaya desa sekaligus mempromosikan nama Kawak. “Memang sedikit panas, tapi panasnya tidak terasa karena sudah diolesi air suci,” ujarnya antusias.

Sementara itu, Petinggi Desa Kawak, Eko Heri Purwanto, menjelaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari rangkaian sedekah bumi. Tradisi sepak bola api ini, menurutnya, telah berlangsung rutin selama beberapa tahun terakhir. “Permainan sepak bola api ini sebagai simbol memerangi hawa nafsu dan amarah demi mencapai kesuksesan dan kemakmuran,” kata Eko Heri.

Eko Heri berharap tradisi luhur ini terus dilestarikan dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat. Dengan dukungan tersebut, ia optimis gelaran ini akan semakin meriah dan menarik lebih banyak perhatian masyarakat. “Kami ingin budaya-budaya lokal seperti ini menjadi warisan berharga bagi anak cucu kita. Kami akan terus berinovasi agar kebudayaan ini tetap terjaga,” pungkas Eko Heri.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pelepasan Jemaah Haji Pangkalpinang, Wali Kota Titip Pesan Jalani Ibadah dengan Khidmat

30 April 2026 - 19:38 WIB

Ritual Longkangan Senepo Jaga Nyawa Sumber Air Pegunungan

30 April 2026 - 12:35 WIB

Ekonomi Kreatif: Pemuda Desa Sumbar Jadi Produser Digital

29 April 2026 - 21:27 WIB

AKPERSI Sumsel Dilantik: Akhiri Era Jurnalisme Asal Bapak Senang

28 April 2026 - 23:25 WIB

Operasi Bibir Sumbing Gratis Selamatkan Masa Depan Warga Desa

27 April 2026 - 15:21 WIB

Pawai 74 Nagari: Saat Budaya Jadi Napas Pembangunan

20 April 2026 - 21:17 WIB

Trending di SOSBUD