Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (DESAMERDEKA) — Tiga nelayan asal Pulau Sanane, Desa Sabalana, Kabupaten Pangkep, yang sebelumnya dilaporkan hanyut di laut, akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat setelah terombang-ambing selama lima hari empat malam. Ketiganya ditemukan di perairan Sambali, sekitar delapan mil laut dari Bonerate, wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, pada Sabtu (11/1/2026).
Ketiga nelayan tersebut adalah Jumadi (31), Salli (42), dan Rudi (21). Mereka berangkat melaut dari Pulau Sanane, Desa Sabalana, Kabupaten Pangkep, pada Rabu (7/1/2026). Insiden terjadi sekitar pukul 11.00 WITA ketika kapal jenis jolor yang mereka gunakan mengalami kerusakan pada bagian as baling-baling hingga bengkok, menyebabkan perahu tidak lagi dapat dikendalikan dan hanyut mengikuti arus laut.
Dalam keterangannya, Jumadi mengatakan sejak kerusakan terjadi mereka hanya bisa pasrah mengikuti arah arus. Dengan perbekalan yang sangat terbatas, ketiganya bertahan hidup dari hasil tangkapan seadanya. “Selama terombang-ambing kami hanya mendapatkan tujuh ekor ikan. Kami juga sempat meminta pertolongan kepada dua kapal yang melintas, namun tidak mendapat respons,” ujar Jumadi.
Upaya pencarian dilakukan secara swadaya oleh masyarakat nelayan setempat. Salah satu kapal yang terlibat adalah kapal milik Ismail dengan bobot sekitar GT 20. Sedikitnya 11 orang dilaporkan ikut menyisir perairan Sabalana hingga Bonerate sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi, sebelum kapal korban akhirnya ditemukan hanyut di perairan Sambali.
Saat ditemukan, kondisi fisik ketiga nelayan terlihat lemah akibat kelelahan dan kekurangan asupan makanan. Meski demikian, seluruh korban dalam keadaan sadar dan dapat berkomunikasi dengan baik dengan para penolong.
Orang tua Jumadi, Dg Suamin (60), menyebut peristiwa ini sebagai peringatan penting bagi para nelayan untuk lebih memperhatikan kesiapan teknis kapal sebelum melaut. Ia juga menyoroti keterbatasan sarana komunikasi di wilayah kepulauan. “Saat ini kami hanya mengandalkan jaringan WiFi. Sebelumnya ada jaringan Telkomsel dan XL, tetapi sudah tidak aktif. Kondisi ini menyulitkan nelayan mengirimkan sinyal darurat ketika terjadi kecelakaan di laut,” ujarnya.
Pihak kepolisian membenarkan peristiwa tersebut. Brigpol Usman Amira dari Polsek Pasimarannu mengatakan pencarian dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat nelayan. Ia mengimbau agar nelayan selalu memeriksa kelayakan kapal, memperhatikan kondisi cuaca, serta segera melapor kepada pihak berwenang apabila terjadi keadaan darurat di laut.
Sementara itu, Babinsa Lamantu Koramil 1415-03 Pasimarannu, Praka Riki Risaldi, menjelaskan bahwa informasi awal diterima dari masyarakat Miantuu. Setelah laporan diterima, aparat bersama keluarga korban dan masyarakat melakukan pencarian pada Sabtu malam di sekitar perairan Lajaa dan perairan Sambali menggunakan dua unit jolor. “Para nelayan akhirnya ditemukan selamat oleh kapal milik Ismail asal Sabalana,” katanya.
Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya risiko keselamatan yang dihadapi nelayan tradisional di wilayah kepulauan. Penguatan sistem keselamatan pelayaran, termasuk pemeriksaan rutin kapal, ketersediaan alat navigasi dan komunikasi, serta peningkatan respons darurat di laut, dinilai penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan serupa di masa mendatang.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.