Bulukumba, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Nasib budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng dan Bulukumba kini berada di ujung tanduk akibat anomali cuaca yang kian ekstrem. Menanggapi ancaman serius ini, Lembaga Sahabat Konservasi Lingkungan (SAUKANG) menginisiasi “Diskusi Kampung” guna menghimpun kekuatan para petani pesisir DAS Balantieng dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Kegiatan yang berlangsung di Lingkungan Babana, Kelurahan Dannuang, Selasa (14/5/2024), ini mempertemukan petani dari tiga wilayah: Desa Garanta, Manjalling, dan Kelurahan Dannuang. Pertemuan ini mengungkap fakta pahit bahwa makroalga benthik yang menjadi tumpuan ekonomi warga sangat bergantung pada stabilitas suhu dan cahaya matahari—dua hal yang kini dirusak oleh aktivitas manusia sejak era industri.

Solusi Radikal dari Akar Rumput
Diskusi yang dibagi menjadi tiga sesi ini tidak hanya meratapi kerugian. Para petani justru melahirkan kesepakatan radikal sebagai bentuk adaptasi dan mitigasi iklim:
- Proteksi Pesisir: Mempercepat penanaman mangrove sebagai benteng alami dari abrasi dan ketidakseimbangan ekosistem.
- Sanksi Sosial & Lingkungan: Larangan keras pembuangan sampah plastik di aliran sungai serta penghentian penebangan pohon di hulu.
- Kecam Limbah Industri: Petani secara kompak mengecam operasional industri karet yang kedapatan membuang limbah ke aliran sungai, yang secara langsung meracuni habitat rumput laut.
- Modernisasi Ramah Lingkungan: Mendorong penggunaan sarana budidaya yang berkelanjutan dan menuntut kebijakan pemerintah untuk perbaikan infrastruktur pesisir yang tangguh iklim.
Komitmen Bersama untuk Keberlanjutan
Koordinator SAUKANG, Guntur, menekankan bahwa momentum ini adalah upaya peningkatan kapasitas petani agar tidak hanya menjadi korban, tetapi juga aktor utama pelestari lingkungan. “Kita harus membangun kesadaran kolektif untuk menjaga wilayah pesisir agar tetap lestari, demi memastikan keberlanjutan ekonomi anak cucu kita,” tegasnya dalam sesi penutup.
Hadirnya penyuluh perikanan dan kelautan dalam diskusi ini juga memperkuat sinergi antara pengetahuan teknis dan kearifan lokal. Dengan aksi nyata seperti kerja bakti rutin di pantai dan pengawasan ketat terhadap polusi industri, petani rumput laut di “Butta Toa” ini optimis dapat menjaga stabilitas produksi meski di tengah gempuran perubahan iklim global.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.