Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

SOSBUD · 25 Feb 2025 09:35 WIB ·

Lautan Merah di Gelanggang: Tradisi Kesetaraan Sambut Ramadan


					Lautan Merah di Gelanggang: Tradisi Kesetaraan Sambut Ramadan Perbesar

Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat [DESA MERDEKA] Desa Gelanggang di Kecamatan Sakra Timur punya cara ikonik untuk melunturkan sekat sosial menjelang Ramadan. Ribuan warga tumpah ruah membawa makanan dalam balutan Tebolaq Beak atau tudung saji berwarna merah menyala. Tradisi bertajuk Roah 1001 Tebolaq Beak ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol perlawanan terhadap ego dan status jabatan.

Ketua Panitia, Muhammad Amin, menyebutkan bahwa tradisi yang digelar pada Senin (24/2/2025) ini merupakan warisan turun-temurun yang menjaga napas kebersamaan warga Sasak. Puncak acara berlokasi di Pekuburan Umum Batu Ngereng Gelanggang Buwuh, tempat di mana doa dan zikir untuk leluhur menggema sebelum ritual makan bersama dimulai.

Begibung: Saat Jabatan Tak Lagi Berlaku
Daya tarik utama dari peristiwa ini adalah prosesi Begibung—tradisi makan bersama dalam satu nampan. Di sinilah filosofi “merah” pada tudung saji menemukan maknanya: keberanian untuk melebur dan menyetarakan diri.

“Dalam Begibung, tidak ada lagi pangkat atau jabatan. Semua duduk sama rendah untuk menyantap hidangan yang dibawa warga. Ini adalah momen krusial untuk membersihkan hati melalui silaturahmi sebelum memasuki bulan suci,” jelas Amin.

Lebih dari Ritual, Ini Adalah Magnet Budaya
Selain aspek spiritual berupa ziarah dan bersih-bersih makam, Roah 1001 Tebolaq Beak kini bertransformasi menjadi aset pariwisata budaya yang potensial di Lombok Timur. Keunikan visual dari ratusan tudung saji merah yang berjejer menciptakan pemandangan eksotis yang jarang ditemui di belahan dunia lain.

Upaya pelestarian ini membuktikan bahwa masyarakat Desa Gelanggang berhasil menjaga identitas lokal di tengah gempuran modernisasi. Tradisi ini mengirimkan pesan kuat: bahwa menyambut Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga tentang memupuk gotong royong dan menghormati akar sejarah leluhur.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 161 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Investasi Langit: Muhidi Tebar Motivasi di Masjid Jabal Rahmah

14 Maret 2026 - 13:08 WIB

Masjid Jati Lahirkan Generasi Qur’ani Lewat Apresiasi Nyata

14 Maret 2026 - 12:30 WIB

Cara Mudah Akses Bantuan Sosial Melalui Perda Sumbar Terbaru

14 Maret 2026 - 11:09 WIB

DPRD Sumbar Jaga Asa Anak Yatim Lewat Santunan

13 Maret 2026 - 23:31 WIB

Lobi Budaya Rp382 Miliar: Wajah Baru Seni Minangkabau

13 Maret 2026 - 22:12 WIB

Protes Menu MBG Pebayuran: Gizi Nasional atau Sekadar Kenyang?

11 Maret 2026 - 16:04 WIB

Trending di SOSBUD