Wonogiri, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Usia senja bukan penghalang untuk merengkuh literasi spiritual. Di Desa Ngadipiro, Wonogiri, puluhan warga lanjut usia (lansia) rutin memadati Masjid Almuthoharoh untuk belajar membaca Al-Qur’an. Mereka membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia, asalkan ada tekad untuk membuang rasa malu.
Setiap malam Minggu dan malam Rabu, suasana masjid terasa hidup dengan lantunan ayat suci. Menariknya, para lansia ini dibimbing oleh seorang ustadz muda dari Pondok Pesantren Nurulfalah Salam, Magelang. Kehadiran pembimbing muda di tengah para murid lansia menciptakan harmoni transfer ilmu yang penuh kesabaran dan motivasi di jantung desa.

Dua Kelas untuk Satu Tujuan
Proses belajar di Masjid Almuthoharoh dirancang secara sistematis agar efektif bagi peserta dewasa. Pengelola membagi pengajian menjadi dua kelas utama:
- Kelas Iqro’: Diperuntukkan bagi peserta yang memulai dari dasar atau mengenal huruf hijaiyah.
- Kelas Tajwid: Khusus bagi mereka yang sudah mampu membaca Al-Qur’an namun ingin memperbaiki kaidah dan kefasihan membaca.
Syarat Utama: Jangan Malu!
Satu-satunya syarat untuk bergabung dalam komunitas belajar ini sangat sederhana namun mendalam: tidak boleh malu untuk memulai hal baru. Prinsip inilah yang menjaga bara semangat para peserta tetap menyala meski raga tak lagi muda. Pengajian ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui pemahaman kitab suci.
Kisah inspiratif dari Ngadipiro ini menjadi potret nyata bagaimana desa mampu menjadi ruang tumbuh bagi seluruh generasi. Literasi Al-Qur’an bagi lansia bukan sekadar ritual ibadah, melainkan cara warga desa menjaga kualitas hidup dan kesehatan mental melalui aktivitas komunal yang positif.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.