Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 6 Mei 2023 21:07 WIB ·

Kuluwung Bogor: Meriam Kayu Penggempur Lebaran yang Mendunia


					Kuluwung Bogor: Meriam Kayu Penggempur Lebaran yang Mendunia Perbesar

Bogor [DESA MERDEKA] Di tengah hiruk pikuk perayaan Idulfitri, Kabupaten Bogor menyimpan sebuah tradisi yang tak lekang oleh waktu: Festival Kuluwung. Perayaan unik ini, yang melibatkan meriam kayu raksasa, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat Sukamakmur jauh sebelum Indonesia merdeka. Diadakan setiap empat tahun sekali, festival ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan, tetapi juga upaya pelestarian alam dan pengukuhan identitas budaya lokal.

Apep Irsad, Divisi Seni Budaya Karang Taruna Kecamatan Sukamakmur, menjelaskan bahwa Kuluwung telah ada sejak zaman leluhur. “Menurut sejarah yang kita kulik dari leluhur sini, Kuluwung itu sudah ada dari tahun sebelum Merdeka,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu, 3 Mei 2023. Pemilihan periode empat tahun bukan tanpa alasan. Festival ini menggunakan pohon randu atau kapuk sebagai bahan utama meriam, sehingga jeda waktu tersebut memberi kesempatan alam untuk memulihkan diri. “Melihat kondisi alam dan masa produksi pohon kapuk sekitar 4 tahun, jadi supaya tidak merusak banget,” tambah Apep.

Festival Kuluwung tahun ini melibatkan dua desa di Kecamatan Sukamakmur, yakni Desa Sukamulya dan Desa Sukamakmur, yang saling beradu dalam membunyikan meriam-meriam tradisional mereka. Meriam karbit, yang menjadi cikal bakal Kuluwung, bahkan telah digunakan sebagai alat tradisional pada masa Perang Dunia Pertama dan dibawa ke Indonesia oleh Jepang saat penjajahan.

Dahulu, perlombaan “Adu Kuluwung” menilai tingkat suara terlama meriam. Namun, seiring waktu, esensi lomba bergeser menjadi sebuah festival yang bertujuan untuk memperkenalkan potensi wisata budaya Sukamakmur. “Dalam peraturan lomba, siapa yang paling kencang suara Kuluwung dan paling lama membunyikan Kuluwung maka itulah yang dianggap pemenang. Tapi karena sudah jadi festival sekarang ini sebagai salah satu wisata budaya di Sukamakmur,” jelas Apep kepada Bogordaily.net.

Ambisi besar Festival Kuluwung tak berhenti di situ. Apep menyebut bahwa mereka menargetkan untuk masuk ke dalam rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Saat ini, rekor tersebut dipegang oleh Pontianak dengan 150 kuluwung. “Tahun ini 100 lebih kuluwung. Di Desa Sukamulya sekitar 60-an, di Sukamakmur 50-an,” paparnya.

Proses pembuatan Kuluwung pun tak kalah menarik. Meriam-meriam ini umumnya dibuat sepanjang 6 hingga 8 meter dengan lubang kotak di bagian tengah. Lubang kotak tersebut berfungsi sebagai wadah untuk karbit yang dimasukkan ke dalam meriam. “Karena kan ada canting (wadah karbit berbentuk kotak) jadi tempatnya harus datar, otomatis kotak bentuknya,” ujarnya. Festival Kuluwung tahun ini berlangsung meriah dari tanggal 3 hingga 4 Mei 2023, dimulai pukul 08.00 WIB hingga menjelang magrib, memukau setiap pengunjung dengan dentuman khas meriam kayu yang menggema.

Teks Foto: Kemeriahan Festival Kuluwung di Sukamakmur, Kabupaten Bogor, pada 3 Mei 2023. Meriam-meriam kayu tradisional menjadi magnet utama dalam perayaan empat tahunan ini.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 13 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara

14 Juni 2026 - 08:22 WIB

Batik Singosari: Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Trending di SOSBUD