Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Menikmati rempah di tengah bangunan kolonial yang telah berdiri hampir dua abad memberikan sensasi yang berbeda. Di Fort Willem I, atau yang lebih populer dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa, warisan rempah Nusantara kini hadir bukan lagi sebagai komoditas yang diperebutkan penjajah, melainkan sebagai sajian gaya hidup yang menyatukan rasa dan narasi bangsa.
Inovasi ini dibawa oleh AIG Bunda Nisa, sebuah jenama lokal milik Sus Mulyati asal Tuntang, Kabupaten Semarang. Melalui tangan dinginnya, rempah-rempah yang dahulu memicu kedatangan bangsa Eropa ke tanah Jawa kini dikemas secara modern namun tetap mempertahankan sisi autentik jamu tradisional.

Revolusi Minuman Rempah ala Kafe
Alih-alih menyajikannya dalam bentuk jamu gendong konvensional, sajian di Benteng Pendem ini tampil elegan layaknya menu kafe. Produk unggulannya adalah Kopi Rempah, yang memadukan kopi asli Kabupaten Semarang dengan ramuan kapulaga, cengkih, serai, kayu manis, kayu secang, dan daun jeruk. Kombinasi ini menghasilkan cita rasa hangat yang selaras dengan atmosfer sakral bangunan cagar budaya tersebut.
Bagi pengunjung yang mencari kesegaran tanpa kafein, tersedia pula Kuteja (Kunyit, Temulawak, Jahe) yang diproses melalui sangrai kering. Menariknya, untuk varian dingin seperti Kunyit Asem dan Kunyit Lemon, AIG Bunda Nisa menyajikannya tanpa es batu (fresh coolers). Teknik ini menjamin rasa tetap konsisten dan kualitas kesehatan minuman tetap terjaga tanpa terencerkan oleh air es.

Edukasi Melalui Narasi Sejarah
Sus Mulyati menyadari bahwa tantangan terbesar adalah mengajak generasi muda mencintai minuman tradisional. Oleh karena itu, ia menggunakan sejarah Nusantara sebagai pintu masuk. Dengan lokasi berjualan di Benteng Pendem, edukasi rempah dilakukan secara langsung kepada pelajar mulai tingkat PAUD hingga SMA, termasuk kepada kelompok Karang Taruna dan PKK.
Upaya pelestarian ini juga didukung dengan ketersediaan produk instan yang sudah masuk ke berbagai pusat oleh-oleh di Jawa Tengah. Kehadiran kopi rempah di destinasi wisata sejarah ini bukan sekadar urusan dagang, melainkan upaya diplomasi rasa untuk memastikan rempah tetap menjadi identitas yang relevan bagi generasi mendatang. Menyesap secangkir kopi rempah di sini berarti menghargai sejarah sambil merayakan kedaulatan pangan lokal.




















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.