Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 25 Feb 2025 18:18 WIB ·

Kongsi Gemilang: Sulap Pulau Jadi Sekolah Perikanan Cerdas


					Kongsi Gemilang: Sulap Pulau Jadi Sekolah Perikanan Cerdas Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Sebuah transformasi menarik tengah berlangsung di gugusan Kepulauan Seribu. Pulau Kongsi, sebuah pulau kecil nan elok, perlahan namun pasti bertransformasi menjadi “sekolah” perikanan modern berkat sentuhan inovasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Langkah strategis ini diwujudkan melalui program Desa Perikanan Cerdas atau Smart Fisheries Village (SFV), yang kini diperkuat dengan kepemilikan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP) KKP, I Nyoman Radiarta, mengungkapkan bahwa kehadiran KKPRL menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi Pulau Kongsi sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM) kelautan dan perikanan yang unggul. “Dengan KKPRL, Balai Riset Perikanan Laut (BRPL) KKP di Pulau Kongsi kini memiliki landasan hukum yang kuat untuk mengembangkan program SFV di perairan seluas 7,91 hektare,” jelas Nyoman di Jakarta, Senin.

Lebih dari sekadar formalitas perizinan, KKPRL bagi KKP adalah sebuah komitmen. Nyoman menegaskan bahwa kepemilikan dokumen ini adalah wajib bagi siapapun yang ingin beraktivitas menetap di ruang laut, termasuk unit kerja di bawah naungannya. “Pemanfaatan ruang laut Pulau Kongsi untuk kegiatan pelatihan dan pendidikan kelautan dan perikanan kini memiliki KKPRL yang terbit sejak 13 Januari lalu,” tambahnya.

Pulau Kongsi sendiri, dengan luas daratan yang mungil hanya 1,67 hektare, menyimpan potensi besar. Di pulau ini, BRPL KKP mengelola dua kavling tanah seluas hampir 2.000 meter persegi sebagai pusat pelatihan dan pendidikan vokasi. Namun, yang lebih menarik adalah pengelolaan ruang laut di sekitarnya, yang luasnya mencapai 40 kali lipat dari daratan. Area perairan inilah yang kini memiliki “izin” resmi untuk dikembangkan menjadi laboratorium alam bagi para calon ahli kelautan dan perikanan.

Kepala BRPL Kongsi, Luthfi Assadad, menekankan bahwa penerbitan KKPRL adalah wujud kepatuhan terhadap regulasi tata ruang laut dan perizinan pemanfaatan. “Sesuai arahan Pak Kepala Badan, kami mengajukan KKPRL. Ini penting bagi satuan kerja yang memiliki aset berbatasan dengan laut atau memiliki kegiatan di perairan,” ujarnya.

Sejak ditetapkan sebagai SFV UPT Pulau Kongsi pada tahun 2024, pulau ini semakin aktif dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan bimbingan teknis dan peningkatan kapasitas bagi masyarakat serta menjadi “kampus laut” bagi mahasiswa dan taruna dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka datang untuk menimba ilmu melalui program magang dan praktik kerja akhir.

Kini, dengan mengantongi “tiket” KKPRL, SFV Pulau Kongsi semakin memantapkan diri dengan peningkatan fasilitas dan ragam keilmuan yang ditawarkan. Para peserta pelatihan dan magang dapat mendalami berbagai bidang menarik seperti konservasi sumber daya laut, teknik perikanan tangkap modern, pengembangan ekowisata bahari yang berkelanjutan, pemahaman lingkungan perairan yang sehat, hingga budidaya rumput laut yang inovatif.

Dampak positif dari pengembangan SFV Pulau Kongsi ini mulai terasa. Animo pelajar untuk melakukan magang meningkat signifikan. Jika tahun sebelumnya tercatat 19 mahasiswa dan taruna dari enam kampus, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 22 orang. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat tidak menghalangi KKP untuk terus memberikan pelayanan publik yang berkualitas. “Ini menegaskan bahwa pelayanan publik tetap menjadi prioritas utama, meskipun ada instruksi efisiensi belanja APBN,” pungkas Luthfi.

Konsep SFV di Pulau Kongsi bukan sekadar memberikan pelatihan, namun juga menjadi inkubator bisnis bagi para start-up di bidang kelautan dan perikanan. Diharapkan, dari pulau kecil ini akan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas dalam mengelola sumber daya laut, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi biru di masa depan. Mimpi menjadikan Pulau Kongsi sebagai pusat perikanan cerdas yang berkelanjutan kini semakin nyata.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 80 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menagih Janji Dam di Rumah Warga Sungai Duo

6 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air

30 Juli 2026 - 15:16 WIB

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Trending di LINGKUNGAN