Bone Bolango, Gorontalo [DESA MERDEKA] – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bone Bolango melontarkan kritik pedas terhadap prioritas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone Bolango. Di tengah hantaman kemarau panjang, krisis air bersih, dan ancaman kebakaran hutan, pemerintah daerah justru dinilai sibuk menghamburkan anggaran untuk agenda seremoni yang dianggap tidak menyentuh kebutuhan dasar rakyat.
Ketua DPD KNPI Bone Bolango, Opan Kidamu, mendesak agar Pemkab segera menghentikan rencana kegiatan “Malam Pamitan” yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora). Menurutnya, kegiatan tersebut hanya membuang-buang APBD hingga ratusan juta rupiah tanpa memberikan dampak nyata bagi warga yang sedang kesulitan.
“Saat ini kondisi Bone Bolango sedang tidak baik-baik saja. Krisis air dan kebakaran menghantui warga. Kami meminta pemerintah fokus pada penanganan bencana, bukan malah membuat kegiatan yang terkesan foya-foya,” tegas Opan, Senin (26/01/2026).

Sentilan “Kepekaan” dan Inovasi Pasar Murah
KNPI menilai Disparpora telah kehilangan sensitivitas terhadap realitas sosial dan isu kepemudaan. Alokasi dana besar untuk pesta akhir masa jabatan atau perpisahan dianggap sebagai bentuk pemborosan di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok, terutama beras.
Opan menawarkan solusi inovatif: batalkan pesta tersebut dan alihkan anggarannya untuk pelaksanaan pasar murah atau pembagian sembako di setiap kecamatan.
“Masyarakat sedang tercekik harga beras yang mahal. Harusnya pemerintah punya inovasi membuat pasar murah agar rakyat terbantu, bukan malah buang-buang anggaran pada kegiatan tak berfaedah,” tambah Opan.
Fokus pada Fondasi, Bukan Seremoni
KNPI berharap Pemkab Bone Bolango lebih bijak dalam mengelola keuangan daerah di masa krisis. Investasi anggaran pada penanggulangan bencana hidrometeorologi kering—seperti pengadaan tangki air bersih dan bantuan pangan—jauh lebih mendesak dibandingkan sebuah acara seremoni semalam.
Kritik ini menjadi pengingat bagi pemerintah daerah bahwa legitimasi kepemimpinan tidak dibangun di atas panggung pesta, melainkan pada ketepatan hadir di tengah penderitaan rakyat.

Desa’isME

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.