Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Ir. Defransisco Dasilva Tavares, M.Si., beserta jajarannya mengunjungi kebun percontohan bawang merah di Dusun Baran, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jumat (8/8). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung penerapan sistem budidaya bawang merah menggunakan benih sebar atau True Seed Shallot (TSS).
Dalam kunjungannya, Defransisco melihat secara detail proses persemaian dan bahkan ikut menanam bibit bawang merah berumur 35 hari. Menurutnya, sistem TSS ini memberikan efisiensi yang luar biasa, terutama dalam menekan biaya produksi. Bibit dari benih TSS hanya membutuhkan seperempat dari biaya bibit yang berasal dari umbi. Ini menjadi solusi alternatif bagi petani di tengah harga umbi bibit yang kerap melonjak.
“Perbedaan biayanya sangat signifikan. Jika menggunakan umbi, petani bisa mengeluarkan biaya Rp75 juta per hektare, sementara dengan TSS biayanya bisa ditekan menjadi hanya Rp7 juta. Ini adalah peluang besar bagi petani untuk meningkatkan pendapatan,” ujar Defransisco.

Inovasi budidaya bawang merah TSS ini telah diproyeksikan di 10 kabupaten dan 12 kelompok tani di Jawa Tengah, dengan kelompok tani Manunggal Roso di Ambarawa menjadi salah satu pionirnya. Defransisco berharap, kelompok-kelompok tani ini bisa menjadi contoh dan menularkan praktik baik ini kepada petani lain.
Lebih lanjut, Defransisco juga menekankan pentingnya peran media dalam menyosialisasikan metode budidaya ini. “Saatnya pertanian tampil di media. Saya yakin, pertanian punya banyak hal yang bisa di- share,” tambahnya. Ia meyakini, melalui publikasi yang masif, semakin banyak petani yang mengetahui dan terdorong untuk beralih ke sistem TSS.
“Kita tidak memaksa petani untuk berubah, tetapi memberikan alternatif solusi. Dengan TSS, ketersediaan benih bisa stabil sepanjang tahun, sehingga produksi bawang merah juga bisa terjaga. Ini adalah momentum yang tepat untuk menjaga ketahanan pangan,” tutup Defransisco.
Sistem TSS tidak hanya menjanjikan efisiensi biaya, tetapi juga berpotensi menstabilkan pasokan bawang merah di pasar. Pasalnya, dengan budidaya dari benih, petani tidak perlu lagi menyisihkan sebagian hasil panen untuk dijadikan bibit, yang mana dapat mengurangi 30% pasokan di pasar.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.