Pangkep, Sulsel [DESA MERDEKA] – Kepala Desa Bantimurung, Abd Rahman, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menyampaikan kabar gembira mengenai potensi ekonomi tanaman porang di wilayahnya. Pemanfaatan lahan-lahan tidur di perbukitan dan pegunungan oleh masyarakat setempat telah membuahkan hasil yang signifikan.
Menurut Abd Rahman, dalam kurun waktu Januari hingga April 2025, total nilai penjualan porang dari wilayah Kecamatan Tondong Tallasa diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp 5 miliar. Pendapatan ini menjadi angin segar bagi perekonomian warga setempat.
Ditemui saat tengah menanam bibit porang di sekitar rumahnya pada Jumat (4/4/2025), Abd Rahman menjelaskan bahwa sebagian besar porang yang dijual oleh warga saat ini masih berasal dari tanaman liar yang tumbuh alami di sela-sela bukit dan gunung. Masyarakat secara aktif mencari umbi porang di kawasan pegunungan.
“Memang sudah ada beberapa warga yang mulai membudidayakan porang di kebun, namun jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan hasil panen dari alam liar. Perbandingannya sekitar 70 persen dari alam dan 30 persen dari hasil budidaya,” ungkap Abd Rahman.
Lebih lanjut, Abd Rahman melihat potensi besar dalam pengembangan budidaya porang di lahan kebun maupun perbukitan. Beliau mencontohkan, dengan pengelolaan yang baik, satu hektar lahan yang ditanami porang diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 10 ton umbi.
Dengan harga porang di pasaran saat ini yang mencapai Rp 7.000 per kilogram, potensi pendapatan petani porang sangat menjanjikan. Kepala Desa Bantimurung ini berharap potensi keuntungan ini dapat memotivasi lebih banyak warganya untuk membudidayakan porang secara mandiri dan terstruktur.
Abd Rahman juga mengungkapkan fakta menarik bahwa banyak bibit porang yang kini dikembangkan di daerah lain justru berasal dari Kecamatan Tondong Tallasa. “Dulu, kami belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara budidaya porang, sehingga bibit yang ada justru dimanfaatkan di luar daerah kami. Namun, setelah melihat hasil nyata, kami mulai menyadari betapa besarnya peluang ini,” jelasnya.
Keberhasilan awal ini diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat Tondong Tallasa untuk mengembangkan pertanian porang secara lebih sistematis dan terencana. Dengan penerapan teknik budidaya yang lebih baik, Abd Rahman optimis hasil panen akan meningkat secara signifikan, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Untuk mendukung pengembangan porang yang lebih optimal, Abd Rahman menekankan pentingnya pendampingan dari dinas terkait. Bantuan pengetahuan dan teknis dalam membudidayakan porang secara efisien akan sangat membantu para petani.
Selain itu, Abd Rahman juga berharap adanya dukungan infrastruktur, seperti pembangunan pabrik pengolahan porang di Desa Bantimurung atau Kecamatan Tondong Tallasa. “Kami sangat membutuhkan dukungan dalam hal pemasaran dan akses ke pabrik porang agar distribusi hasil panen menjadi lebih lancar dan efisien,” tegasnya.
Beberapa warga yang telah mencoba menanam porang di kebun mereka mulai merasakan dampak positifnya. Seorang petani setempat mengaku bahwa hasil panen porang dari kebunnya telah memberikan pendapatan tambahan yang cukup berarti bagi keluarganya.
“Awalnya saya hanya mencoba menanam di lahan kecil, tetapi setelah melihat hasilnya, saya berencana untuk memperluas lahan tanam saya. Jika dikelola dengan baik, porang ini bisa menjadi sumber penghasilan utama,” ujarnya dengan antusias.
Dengan potensi besar yang dimilikinya, Tondong Tallasa kini mulai menunjukkan diri sebagai calon sentra porang yang menjanjikan di Sulawesi Selatan. Langkah ini tidak hanya berpotensi meningkatkan perekonomian warga secara signifikan, tetapi juga dapat menjadi contoh keberhasilan pengelolaan komoditas pertanian unggulan di tingkat daerah. Seiring dengan meningkatnya permintaan porang di pasar nasional dan internasional, peluang bagi masyarakat Tondong Tallasa untuk mencapai kesejahteraan melalui budidaya porang semakin terbuka lebar. Dengan strategi yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin kecamatan ini akan menjadi pusat produksi porang yang dikenal luas di masa depan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.