Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

NGOBROL DESA · 10 Feb 2026 09:00 WIB ·

Kementerian Desa Miskin Ide Jika Abaikan Narasi 30.000 Pendamping Desa


					Kementerian Desa Miskin Ide Jika Abaikan Narasi 30.000 Pendamping Desa Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] RPDN mengkritik keras fenomena “kemiskinan ide” dan konten yang sering melanda kanal media sosial Kementerian Desa. Padahal, potensi informasi dari sektor perdesaan sangat melimpah. Dengan kekuatan sekitar 30.000 Tenaga Pendamping Profesional (TPP), Kementerian Desa sebenarnya memiliki mesin konten yang mampu beroperasi 24 jam tanpa henti jika dikelola dengan visi yang tepat.

Banyak kanal informasi kementerian saat ini justru terjebak pada topik-topik yang tidak relevan dengan isu inti perdesaan. Ketika media resmi kementerian lebih banyak membicarakan hal-hal di luar urusan desa, itu menjadi indikator nyata bahwa pengelolanya sedang mengalami krisis kreativitas.

“Jika channel kementerian mengangkat topik yang jauh dari urusan desa, itu artinya mereka miskin konten dan miskin ide,” tegas Suryokoco Suryoputro, pendiri Relawan Pemberdayaan Nusantara (RPDN) dan Founder MOJO Indonesia, melalui kanal Youtube Ngobrol Desa Episode 215, yang membahas TPP dan Jurnalistik Desa, Selasa (10/2/2026).

Tangkapan Layar Ngobrol Desa Episode 215, yang membahas TPP dan Jurnalistik Desa, Selasa (1022026)

Mekanisme Konten Tanpa Batas
Secara matematis, isu desa adalah “bahan baku” informasi yang tidak akan pernah habis. Jika 30.000 pendamping desa diwajibkan mengirim satu berita saja per minggu, redaksi akan menerima sekitar 6.000 berita setiap hari kerja. Volume informasi sebesar ini tidak akan mampu ditandingi oleh media online mana pun di Indonesia.

Sistem yang tertib akan menciptakan arus informasi yang konsisten. Isu desa bisa diproduksi setiap jam, setiap menit, menciptakan kehadiran digital yang kuat dan berkelanjutan.

Sentuhan Manusiawi dan Kebanggaan Lokal
Selain mengatasi kemiskinan ide, pemanfaatan konten dari bawah memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi para pegiat desa. Ada kebanggaan luar biasa ketika tulisan atau dokumentasi warga desa diunggah ulang oleh akun resmi kementerian.

  • Validasi Publik: Warga akan merasa bangga dan cenderung membagikan kembali (share) konten tersebut ke platform lain seperti TikTok.
  • Kolaborasi Kreatif: Menteri seharusnya lebih sering duduk bersama para Blogger dan YouTuber desa untuk membangun narasi yang lebih organik.

RPDN menekankan bahwa inisiatif untuk menghidupkan ekosistem pers desa harus datang dari kementerian terkait, bukan menunggu dorongan dari Kominfo atau Dewan Pers. Kehadiran menteri desa di tengah komunitas kreator desa dianggap jauh lebih istimewa dan mampu membangkitkan semangat literasi di tingkat akar rumput, sekaligus menghapus stigma bahwa birokrasi selalu kaku dan minim inovasi konten.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Jurnalis

Satu tanggapan untuk “Kementerian Desa Miskin Ide Jika Abaikan Narasi 30.000 Pendamping Desa”

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Terisolasi di Puncak Arfak, Kisah Pendamping Desa Pemburu Sinyal

29 Juli 2026 - 15:07 WIB

Bukan Eksekutor Instan, Mahasiswa GENTASKIN Harus Jadi Katalis Desa

10 Juli 2026 - 14:07 WIB

Cashless APBDes Ardimulyo Perkuat Transparansi dan Tata Kelola Keuangan Desa

29 Juni 2026 - 23:13 WIB

Cashless APBDes Ardimulyo 1

Hanya 0,15 Persen Korupsi, Netizen Desa Tantang Bukti Presiden

16 Februari 2026 - 09:14 WIB

Dana Desa Dipangkas Rp75 Juta: Beban Berat Koperasi Pusat

16 Februari 2026 - 08:58 WIB

Aksi “Buzzer” Desa: Lawan Stigma dengan Banjir Bukti Medsos

16 Februari 2026 - 08:47 WIB

Trending di NGOBROL DESA