Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 10 Apr 2023 18:37 WIB ·

Jalan Revolusi Baru Sosiopreneur Patahkan Dominasi Kapitalisme Eksploitatif


					Jalan Revolusi Baru Sosiopreneur Patahkan Dominasi Kapitalisme Eksploitatif Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Jalan Revolusi Baru sosiopreneur kini hadir menjadi jawaban atas kebuntuan gerakan sosial konvensional yang kerap kali berujung pada rasa kecewa di masa pensiun. Selama puluhan tahun, para pembela kemanusiaan, keselamatan lingkungan, dan pejuang keadilan telah mendedikasikan hidup mereka demi melawan kemiskinan terstruktur. Namun, realitas hari ini justru memperlihatkan kesenjangan sosial-ekonomi yang kian menganga lebar akibat cengkeraman sistem kapitalisme eksploitatif.

Gagasan segar bertajuk “Jalan Revolusi Baru” ini mendobrak sekat kaku warisan David Ricardo (1772–1823), yang selama berabad-abad memisahkan dunia kerja secara linier antara pemburu keuntungan murni dan aktivis sosial. Doktrin spesialisasi kuno tersebut sejatinya dirancang hanya demi efisiensi maksimum bagi para pemilik modal finansial di puncak korporasi. Akibatnya, pekerja lokal diperas menjadi sekadar alat pencapai profit, sementara nilai-nilai kemanusiaan dikesampingkan.

Melalui formula sosiopreneur ini, para wiraswasta mandiri, wiraniaga, hingga profesional seperti dokter dan pengacara diajak untuk melakukan terobosan ganda. Mereka tidak lagi hanya bertarung setengah mati di pasar kompetitif demi memperkaya diri sendiri, melainkan menyisipkan misi perubahan sosial dalam setiap transaksi bisnisnya. Langkah ini memposisikan pengusaha kecil sebagai motor penggerak keadilan ekonomi langsung di akar rumput, termasuk di wilayah pedesaan yang paling rentan terhadap kemiskinan.

Kenyataan kodrati manusia menegaskan bahwa kita adalah makhluk multidimensional. Manusia secara naluriah bekerja untuk mempertahankan hidup, tetapi secara inheren juga mendambakan kondisi sosial-ekonomi yang adil, setara, dan merdeka. Dengan menyatukan peran pengusaha dan reformis sosial, tatanan kehidupan yang lestari dan bebas dari keserakahan korporasi bukan lagi sekadar utopia di atas kertas, melainkan sebuah aksi nyata yang bisa dimulai dari unit usaha terkecil hari ini.

LANJUT : Jalan Revolusi 2/3

Jakarta,  10 April 2023

 

SUROTO
Rakyat Jelata

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 77 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Keadilan Kurban: Mengalirkan Berkah Hingga ke Pelosok Desa

29 Mei 2026 - 21:01 WIB

Kurban Negara: Antara Keadilan Sosial dan Ekonomi Desa

29 Mei 2026 - 15:32 WIB

Membongkar Jurnalisme Feodal dalam Narasi Pembangunan Desa

29 Mei 2026 - 14:08 WIB

Bahaya Fenomena Candu Seremoni dalam Komunikasi Pembangunan Desa

28 Mei 2026 - 17:45 WIB

Sapi Kurban Presiden: Jejak Ekonomi di Kandang Desa

28 Mei 2026 - 14:51 WIB

Filosofi Idul Adha: Cermin Ketulusan Pendamping Desa di Lapangan

27 Mei 2026 - 16:29 WIB

Trending di OPINI