Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

IPTEK · 16 Sep 2025 12:39 WIB ·

Inspirasi dari Desa Menari: Konservasi Flora Berbasis Digital


					Inspirasi dari Desa Menari: Konservasi Flora Berbasis Digital Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Desa Wisata “Menari” di kaki Gunung Telomoyo, Kabupaten Semarang, menunjukkan langkah inovatif dalam melestarikan kekayaan alamnya. Melalui program Pemberdayaan Masyarakat Desa Menari, desa ini mengintegrasikan teknologi digital untuk konservasi dan promosi keanekaragaman flora lokal. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Menari, Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) UKSW, serta Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) Soegijapranata Catholic University (SCU), yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI tahun 2025.

Terletak di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Desa Wisata Menari telah dikenal luas sejak dirintis pada tahun 2007. Nama “Menari” sendiri merupakan akronim dari Menebar Harmoni, Merajut Inspirasi, Menuai Memori. Desa ini menjadi laboratorium sosial dengan berbagai program konservasi seni, tarian, dan tradisi lokal. Berkat keunikan budaya dan tradisinya, kunjungan wisatawan terus meningkat, bahkan mencapai 1.274 orang pada tahun 2024.

Selain kekayaan budaya, Desa Menari memiliki potensi besar dari keanekaragaman flora lokal yang unik. Namun, informasi mengenai tanaman dan flora lokal bagi wisatawan masih terbatas. Pengetahuan masyarakat desa terkait konservasi flora juga masih minim, meskipun banyak di antara mereka yang sudah memiliki ponsel pintar.

Melihat potensi tersebut, program ini dirancang untuk mengatasi masalah itu. Tujuannya adalah melakukan konservasi keanekaragaman hayati (KEHATI) flora lokal yang berkelanjutan, dengan pendekatan berbasis sistem informasi digital melalui QR Code pada papan edukasi. Dengan adanya sistem ini, masyarakat dan wisatawan dapat dengan mudah mengakses informasi lengkap tentang flora di desa tersebut.

Program ini mengusung konsep Community-based Conservation (CBC), yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat lokal. Pendekatan ini dipilih karena masyarakat setempat memiliki pemahaman mendalam tentang lingkungan hidup mereka, yang melahirkan kearifan lokal. Diharapkan, hasil dari kegiatan ini tidak hanya melestarikan lingkungan, tetapi juga meningkatkan wawasan, kesejahteraan ekonomi, dan kelestarian tradisi lokal.

Keberhasilan program di Desa Menari bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana seperti QR code, setiap komunitas dapat memetakan, mendokumentasikan, dan mempromosikan kekayaan alamnya sendiri. Langkah kecil ini dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap lingkungan, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui pariwisata edukatif.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 117 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Modal Dengkul Hasil Sawah: Rahasia Sukses Kandang Komunal Kadirejo

13 April 2026 - 17:47 WIB

Sitinjau Lauik Merdeka Sinyal: Mudik 2026 Makin Aman

20 Maret 2026 - 21:32 WIB

Algoritma Baru Google: Angin Segar Buat Berita Desa

19 Maret 2026 - 11:26 WIB

Ubah Limbah Jeruk Busuk Jadi Minyak Atsiri Bernilai

16 Maret 2026 - 10:14 WIB

Bakteri Indigeneus: Kunci Cuan Akuaponik di Lahan Sempit

13 Maret 2026 - 19:03 WIB

Ketua DPRD Sumbar: Sawah Bisa Panen Tiga Kali dengan Ilmu

4 Maret 2026 - 10:28 WIB

Trending di IPTEK