Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

EKBIS · 19 Sep 2025 11:29 WIB ·

Inovasi Lokal, Dhetan Kembangkan Ecoprint dari Alam


					Inovasi Lokal, Dhetan Kembangkan Ecoprint dari Alam Perbesar

Karangjati, Bergas, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Ditengah gencarnya kampanye cinta lingkungan, brand Ecoprint Dhetan dari Karangjati, Kecamatan Bergas, menunjukkan komitmen nyata dengan menciptakan produk fesyen ramah lingkungan. Didirikan oleh Detanti, brand ini membuktikan bahwa keindahan motif batik dapat dihasilkan sepenuhnya dari bahan-bahan alam, mulai dari pewarnaan hingga motif daun yang unik.

Dhe Tanti, yang akrab disapa Mbok Dhe Tanti, menjelaskan bahwa filosofi di balik Dhetan adalah “mencintai lingkungan”. Semua bahan yang digunakan berasal dari alam, bahkan jika tidak ada, mereka akan berupaya menanamnya. “Artinya, semua bahan-bahan yang kita gunakan ini semuanya dari alam. Kalau kita enggak punya, kita akan menanam,” ujar Dhe Tanti dalam wawancara di sebuah pameran.

Proses pembuatan Ecoprint Dhetan sangatlah detail dan mengedepankan bahan alami. Untuk pewarnaan dasar, Dhetan menggunakan bahan-bahan seperti kayu teger, kayu secang, dan akar mengkudu. Ia menjelaskan, kayu-kayu tersebut direndam selama semalam dengan perbandingan 1 kilo bahan dan 10 liter air. Setelah direndam, bahan direbus hingga airnya menyusut menjadi separuh dan menghasilkan konsentrasi warna yang pekat. “Kalau masih mencampur dengan air, direbus lagi sampai betul-betul kental,” tambahnya.

Motif unik pada produk Dhetan, yang sepenuhnya didapat dari jejak daun, juga menggunakan bahan-bahan alam. Daun-daun yang digunakan adalah daun seduduk, daun biden, dan daun kelor. Tekniknya disebut ecoprint pounding, di mana daun-daun dipukul di atas kain. Ia juga menunjukkan bagaimana dua lembar daun, yang satu menghadap ke atas dan yang lain menghadap ke bawah, dapat menghasilkan warna yang berbeda.

Setelah diberi motif, kain dilipat dan di-stim selama dua jam. Proses belum selesai, kain harus didiamkan minimal 7 hari agar warnanya teroksidasi dan menjadi lebih pekat. Setelah itu, barulah dilakukan fiksasi atau penguncian warna menggunakan serbuk tunjung, tawas, atau kapur agar tidak luntur. “Jaminan luntur, kembalikan saja,” tegasnya.

Dhe Tanti mengakui bahwa Ecoprint Dhetan sudah digeluti selama dua tahun terakhir. Meskipun sering mengalami kegagalan di awal, ia tidak menyerah dan terus belajar. Kini, ia memiliki galeri sendiri di Jalan Arwana, RT 02/RW 06, Bawen, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Bergas.

Dengan rentang harga mulai dari Rp45.000 untuk kombinasi kain hingga Rp680.000 untuk produk premium, Dhetan menawarkan produk yang terjamin kualitasnya. “Betul-betul handmade,” imbuhnya.

Ia berharap, Ecoprint dapat menjadi “wabah” positif yang membuat masyarakat lebih sering menggunakan produk ramah lingkungan. “Saya harapkan itu aplikatif, benar-benar orang itu memakai dan menggunakan produk ecoprint,” katanya.

Ke depan, Dhe Tanti berencana untuk mengadakan pelatihan di Kelurahan Karangjati sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan komitmen Dhetan tidak hanya dalam bisnis, tetapi juga dalam memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

KAI Purwokerto Siapkan Frontliner Jago Bahasa Isyarat Lebaran

6 Maret 2026 - 11:55 WIB

Jombang Kucurkan Rp5 Miliar Demi Selamatkan Petani Tembakau

27 Februari 2026 - 07:50 WIB

Ironi Impor Mobil India di Tengah Ambisi Prabowonomics

21 Februari 2026 - 12:20 WIB

Pasar Modal Indonesia: Bendungan Bisnis yang Sedang Mengalami Kebocoran

19 Februari 2026 - 11:25 WIB

Siasat Perbankan Syariah Melawan Stigma Mahal dan Ganti Istilah

17 Februari 2026 - 20:41 WIB

Kampung Industri: Strategi Asprindo Sulap BUMDes Jadi Raksasa Ekonomi

17 Februari 2026 - 11:38 WIB

Trending di BUMDes