Sragen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah ramainya hiruk pikuk kontes kambing di Sragen, Jawa Tengah, ada kisah menarik tentang semangat dan ketekunan seorang peternak muda. Bukan sekadar memelihara, ia berhasil mengubah hobinya menjadi ladang rezeki yang menggiurkan.
Pejuang Karpet Merah dari Banjarnegara
Berada di bawah bendera tim RCW atau “Red Carpet Warrior”, seorang peternak muda dari Banjarnegara, Jawa Tengah, menunjukkan keseriusannya. Ia membawa lima ekor kambing Kaligesing yang telah disiapkan matang untuk kontes. Dengan bantuan 10 orang timnya, ia memandikan dan membersihkan kambing-kambingnya dari keringat dan kotoran akibat perjalanan. Sikat, pengering bulu (hair dryer), dot susu, dan ampas tahu menjadi “peralatan tempur” wajib. Ini bukan sekadar kontes, tapi ajang unjuk gigi yang menuntut totalitas.
Kambing-kambing yang dibawa masuk ke berbagai kelas, mulai dari kelas E, D, hingga C dan B. Klasifikasi ini ditentukan bukan dari umur, melainkan dari jumlah gigi yang telah “poel” atau tanggal. “Kalau sudah poel satu biji, itu sudah masuk kelas B. Kalau sudah tiga pasang, masuk kelas A atau sering disebut ‘rampas’,” jelasnya.

Hobi yang Fantastis, Harga Selangit
Ketekunannya dalam merawat kambing kontes membuahkan hasil. Salah satu kambingnya, yang dibeli saat berusia seminggu dengan harga Rp 5 juta, kini berusia 5 bulan dan sudah ditawar Rp 10 juta. Namun, ada satu kambing lain yang harganya jauh lebih fantastis. Kambing tersebut telah meraih prestasi 10 besar di kontes Wonosobo. “Kalau yang itu harganya sudah lumayan, jelas lebih mahal,” ujarnya sambil tersenyum misterius.
Ia mengaku sudah memulai peternakan sejak 2019 dan khusus mengikuti kontes sejak 2020. Baginya, beternak kambing kontes memiliki nilai seni tersendiri. “Nilai seninya langsung keluar,” katanya. Ia menceritakan bagaimana seekor anakan kambing dengan spesifikasi bagus bisa memiliki harga fantastis hanya dalam seminggu.

Merintis dari Nol hingga Mengumpulkan Kawan
Meskipun terlihat sukses, ia tidak memulai dari modal besar. “Awalnya cuma ambil satu, dua ekor, saya kawinkan, lalu berkembang,” kenangnya. Pria yang tinggal di Desa Pagentan, Banjarnegara ini bahkan dengan kelakar menyarankan untuk “jual Innova dulu” bagi yang ingin serius menekuni hobi ini. Namun, ia menekankan, semua bisa dimulai dari nol dan perlahan.
Lebih dari sekadar uang, hobinya ini juga membawa keuntungan non-materiil. “Yang jelas, bisa kumpul sama kawan-kawan, sudah jadi keluarga,” ungkapnya. Timnya, yang terdiri dari 10 orang, adalah sesama peternak dari keluarga dan teman-temannya. Ia mengajak anak-anak muda untuk tidak ragu beternak. “Tetap semangat untuk beternak karena masa muda juga perlu peternak dan jangan lupa ini sangat menghasilkan,” tutupnya penuh semangat.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.