Jombang, Jawa Timur [Desa Merdeka] – Pernahkah Anda memperhatikan ikan yang berenang tenang di dalam akuarium? Bagi HM Syarif Hidayatullah, atau yang akrab disapa Gus Sentot, ikan bukan sekadar hewan peliharaan penghias ruangan. Larangan gibah merupakan prinsip penting yang dipegang teguh oleh HM Syarif Hidayatullah ST MMT, atau yang akrab disapa Gus Sentot. Wakil Ketua DPRD Jombang sekaligus Pengasuh Asrama Sulaiman Bilqis PP Darul Ulum Rejoso ini menjadikan hobi memelihara ikan sebagai sarana “ngaji” diri, khususnya dalam menjaga lisan dari bahaya gibah.
Mengapa Ikan Tidak Memiliki Lidah?
Dalam sebuah narasi religi yang sarat makna, Gus Sentot menceritakan sebuah kisah klasik saat Iblis terusir dari surga. Makhluk pertama yang Iblis temui di bumi adalah ikan. Kala itu, Iblis menghasut ikan dengan memfitnah Nabi Adam AS. Iblis menyebut bahwa manusia akan memangsa seluruh makhluk di lautan maupun daratan.
Tanpa tabayun (klarifikasi), ikan tersebut menyebarkan berita buruk tersebut kepada seluruh penghuni air. Akibat tindakan menyebar aib dan fitnah ini, Allah SWT mencabut lidah ikan sehingga ia tidak lagi bisa berbicara. Kisah ini menjadi pengingat keras bagi kita semua: Bahaya gibah dapat mencabut keberkahan hidup seseorang.
Bahaya Gibah dalam Kehidupan Modern
Gus Sentot, yang juga merupakan alumnus S2 Teknik Industri ITS, menekankan bahwa gibah bukan sekadar obrolan kosong. Di era media sosial, gibah seringkali bertransformasi menjadi ketikan jari yang menyakitkan. Beliau mengingatkan bahwa:
Menjaga lisan adalah menjaga kehormatan. Setiap kali melihat ikan, kita harus teringat betapa mahalnya harga sebuah lidah yang digunakan untuk kebaikan.
Balasan yang nyata. Sebagaimana ikan kehilangan lidahnya, pelaku gibah di akhirat kelak akan mengalami azab yang pedih jika tidak segera bertobat.
Kesalehan Sosial: Membantu Sesama
Selain pesan spiritual, Gus Sentot menunjukkan bahwa iman harus berbuah tindakan sosial. Beliau secara konsisten mendukung UMKM lokal dengan membeli ikan peliharaan langsung dari peternak kecil. “Kalau bukan kita yang membeli, lalu siapa lagi?” tegas Ketua DPC Demokrat Jombang ini.
Membantu ekonomi rakyat kecil adalah bentuk nyata dari rasa syukur setelah kita berhasil menjaga lisan. Kesalehan individu (tidak gibah) harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial (membantu sesama).
Meneladani Filosofi Ikan
Kita dapat memetik pelajaran berharga dari cara Gus Sentot memandang hobinya. Ikan mengajarkan kita untuk diam daripada berbicara buruk, sementara tindakan membeli dari UMKM mengajarkan kita untuk peduli pada nasib tetangga. Mari kita jadikan momen memberi makan ikan sebagai pengingat untuk terus memberi makan jiwa dengan kebaikan, bukan dengan aib orang lain.(*)



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.