Nias Selatan, Sumatera Utara [DESA MERDEKA] – Tanggal 15 Januari kini resmi menjadi pengingat bagi seluruh bangsa bahwa denyut nadi pembangunan Indonesia dimulai dari batas-batas desa. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 23 Tahun 2024, negara menetapkan Hari Desa Nasional sebagai bentuk pengakuan atas peran strategis wilayah pedesaan. Namun, di balik perayaan ini, muncul refleksi kritis mengenai apa yang sebenarnya membuat sebuah desa bisa melompat maju atau justru jalan di tempat.
Kepala Desa Bawofanayama, Petrus Wau, memberikan sudut pandang tajam bahwa eksistensi desa tidak cukup hanya dirayakan dengan spanduk. Menurutnya, kemajuan desa sangat bergantung pada dua pilar utama yang saling berkelindan: keberpihakan anggaran dan integritas kepemimpinan.
“Berkembang tidaknya sebuah desa itu ditentukan oleh anggaran dan sosok pemimpinnya. Kami sadar, kepala desa bukan manusia super, kami memiliki keterbatasan,” ujar Petrus saat memberikan tanggapan menjelang peringatan hari bersejarah tersebut, Rabu (14/1/2026).
Membedah Formula Kemajuan Desa
Petrus menekankan bahwa anggaran besar tanpa visi pemimpin akan sia-sia, begitu pun sebaliknya. Di momen Hari Desa Nasional 2026 ini, ia menitipkan harapan besar agar Pemerintah Pusat memberikan perhatian lebih kepada desa-desa yang memiliki kemauan kuat untuk bertransformasi.
Salah satu tantangan yang ia garis bawahi adalah urgensi hubungan timbal balik antara Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, dan Desa. Tim pembangunan yang dibentuk di tingkat atas tidak akan pernah efektif jika tidak mampu menyentuh realitas di lapangan atau bersifat satu arah. Sinergi yang solid adalah syarat mutlak agar program strategis nasional tidak hanya berakhir sebagai laporan di atas kertas.
Dilema Infrastruktur dan Dukungan Nyata
Sebagai bukti kesiapan, Desa Bawofanayama menyatakan dukungan penuh terhadap program-program pemerintah, termasuk inisiatif Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Namun, Petrus tidak menampik adanya hambatan teknis yang nyata. Di desanya, rencana pembangunan gerai koperasi masih tersangkut masalah hibah tanah—sebuah persoalan klasik yang sering menjadi batu sandungan bagi inovasi desa.
Kisah dari Nias Selatan ini menjadi cermin bagi tema Hari Desa Nasional 2026, yakni “Bangun Desa Bangun Indonesia: Desa Terdepan untuk Indonesia”. Puncak peringatan tahun ini sendiri dipusatkan di Desa Butuh, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Harapannya, semangat dari Boyolali mampu memicu aksi nyata bagi desa-desa di pelosok seperti Bawofanayama agar tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan, melainkan aktor utama yang berdaya.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.