Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

EKBIS · 13 Mar 2025 21:01 WIB ·

Gurihnya Keripik MU: Strategi Mentawai Berdayakan Ekonomi Mualaf Lokal


					<em>Ibu-ibu mualaf pengelola usaha Keripik MU di Desa Tuapejat, Mentawai, menunjukkan hasil produksi mereka.</em> Perbesar

Ibu-ibu mualaf pengelola usaha Keripik MU di Desa Tuapejat, Mentawai, menunjukkan hasil produksi mereka.

Mentawai, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Selama ini, pembinaan mualaf sering kali hanya terpaku pada penguatan aspek spiritual di dalam rumah ibadah. Namun, gebrakan baru muncul dari pesisir Desa Tuapejat, Kepulauan Mentawai. Melalui program “Mualaf Berdaya”, Pengurus Daerah Muhammadiyah Mentawai membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah pilar penting untuk menjaga stabilitas keimanan.

Lahir dari tangan dingin 20 ibu-ibu mualaf di samping Masjid Taqwa Muhammadiyah Kilometer 6, sebuah jenama lokal bernama Keripik MU mulai mencuri perhatian. Bukan sekadar camilan, produk ini adalah simbol perlawanan terhadap ketergantungan ekonomi melalui pemanfaatan potensi bumi Mentawai.

Mengubah Bahan Baku Lokal Jadi Nilai Tambah
Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kepulauan Mentawai, Rudi Zamri, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki kekayaan hasil tani yang luar biasa. Pisang, ubi, keladi, hingga sukun yang selama ini hanya dijual mentah, kini diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.

“Selama ini pembinaan mualaf fokus pada keimanan. Kami ingin melangkah lebih jauh dengan memberdayakan ekonomi mereka agar mandiri secara finansial,” ujar Rudi, Senin (19/1/2026).

Setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, para ibu mualaf ini memproduksi keripik berkualitas. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga mendapatkan kompensasi harian sebesar Rp50 ribu. Menariknya, rantai pasok usaha ini sangat inklusif; bahan baku dibeli langsung dari sesama mualaf petani, sehingga ekonomi sirkular benar-benar tercipta di Pulau Sipora.

Inkubasi Bisnis dan Target Pasar Luas
Keripik MU bukan sekadar proyek sampingan. Muhammadiyah Mentawai menerapkan standar produksi yang ketat, mulai dari kebersihan hingga strategi pemasaran. Saat ini, pengelola sedang mengurus sertifikat halal untuk memastikan produk ini dapat menembus pasar ritel yang lebih luas dan menjadi oleh-oleh khas unggulan dari Mentawai.

“Kami mengajarkan alur produksi hingga pemasaran. Harapannya, mereka nantinya berani membuka usaha sendiri dengan pendampingan penuh dari kami,” tambah Rudi.

Dijual dengan harga terjangkau, Rp10 ribu per kemasan, Keripik MU menjadi jembatan amal bagi konsumen sekaligus penggerak ekonomi bagi 125 mualaf di Pulau Sipora. Tak berhenti di sektor camilan, program ini juga mulai merambah ke budidaya ikan air tawar sebagai diversifikasi usaha di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 53 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

31 Mei 2026 - 01:38 WIB

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman

Strategi GAS Sragen 2026 Dongkrak Pendapatan Daerah

29 Mei 2026 - 16:44 WIB

Government Auto Show 2026 di Gedung Sasana Manggala Sukowati Sragen

Hilirisasi Pinang Lima Puluh Kota Menembus Pasar Ekspor

29 Mei 2026 - 10:45 WIB

Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Desa: Benarkah Sawah Terancam?

24 Mei 2026 - 15:07 WIB

Trending di EKBIS