Mentawai, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Selama ini, pembinaan mualaf sering kali hanya terpaku pada penguatan aspek spiritual di dalam rumah ibadah. Namun, gebrakan baru muncul dari pesisir Desa Tuapejat, Kepulauan Mentawai. Melalui program “Mualaf Berdaya”, Pengurus Daerah Muhammadiyah Mentawai membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah pilar penting untuk menjaga stabilitas keimanan.
Lahir dari tangan dingin 20 ibu-ibu mualaf di samping Masjid Taqwa Muhammadiyah Kilometer 6, sebuah jenama lokal bernama Keripik MU mulai mencuri perhatian. Bukan sekadar camilan, produk ini adalah simbol perlawanan terhadap ketergantungan ekonomi melalui pemanfaatan potensi bumi Mentawai.
Mengubah Bahan Baku Lokal Jadi Nilai Tambah
Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kepulauan Mentawai, Rudi Zamri, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki kekayaan hasil tani yang luar biasa. Pisang, ubi, keladi, hingga sukun yang selama ini hanya dijual mentah, kini diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Selama ini pembinaan mualaf fokus pada keimanan. Kami ingin melangkah lebih jauh dengan memberdayakan ekonomi mereka agar mandiri secara finansial,” ujar Rudi, Senin (19/1/2026).
Setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, para ibu mualaf ini memproduksi keripik berkualitas. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga mendapatkan kompensasi harian sebesar Rp50 ribu. Menariknya, rantai pasok usaha ini sangat inklusif; bahan baku dibeli langsung dari sesama mualaf petani, sehingga ekonomi sirkular benar-benar tercipta di Pulau Sipora.
Inkubasi Bisnis dan Target Pasar Luas
Keripik MU bukan sekadar proyek sampingan. Muhammadiyah Mentawai menerapkan standar produksi yang ketat, mulai dari kebersihan hingga strategi pemasaran. Saat ini, pengelola sedang mengurus sertifikat halal untuk memastikan produk ini dapat menembus pasar ritel yang lebih luas dan menjadi oleh-oleh khas unggulan dari Mentawai.
“Kami mengajarkan alur produksi hingga pemasaran. Harapannya, mereka nantinya berani membuka usaha sendiri dengan pendampingan penuh dari kami,” tambah Rudi.
Dijual dengan harga terjangkau, Rp10 ribu per kemasan, Keripik MU menjadi jembatan amal bagi konsumen sekaligus penggerak ekonomi bagi 125 mualaf di Pulau Sipora. Tak berhenti di sektor camilan, program ini juga mulai merambah ke budidaya ikan air tawar sebagai diversifikasi usaha di masa depan.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.