Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

EKBIS · 13 Mar 2025 21:01 WIB ·

Gurihnya Keripik MU: Strategi Mentawai Berdayakan Ekonomi Mualaf Lokal


					<em>Ibu-ibu mualaf pengelola usaha Keripik MU di Desa Tuapejat, Mentawai, menunjukkan hasil produksi mereka.</em> Perbesar

Ibu-ibu mualaf pengelola usaha Keripik MU di Desa Tuapejat, Mentawai, menunjukkan hasil produksi mereka.

Mentawai, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Selama ini, pembinaan mualaf sering kali hanya terpaku pada penguatan aspek spiritual di dalam rumah ibadah. Namun, gebrakan baru muncul dari pesisir Desa Tuapejat, Kepulauan Mentawai. Melalui program “Mualaf Berdaya”, Pengurus Daerah Muhammadiyah Mentawai membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah pilar penting untuk menjaga stabilitas keimanan.

Lahir dari tangan dingin 20 ibu-ibu mualaf di samping Masjid Taqwa Muhammadiyah Kilometer 6, sebuah jenama lokal bernama Keripik MU mulai mencuri perhatian. Bukan sekadar camilan, produk ini adalah simbol perlawanan terhadap ketergantungan ekonomi melalui pemanfaatan potensi bumi Mentawai.

Mengubah Bahan Baku Lokal Jadi Nilai Tambah
Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kepulauan Mentawai, Rudi Zamri, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki kekayaan hasil tani yang luar biasa. Pisang, ubi, keladi, hingga sukun yang selama ini hanya dijual mentah, kini diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.

“Selama ini pembinaan mualaf fokus pada keimanan. Kami ingin melangkah lebih jauh dengan memberdayakan ekonomi mereka agar mandiri secara finansial,” ujar Rudi, Senin (19/1/2026).

Setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, para ibu mualaf ini memproduksi keripik berkualitas. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga mendapatkan kompensasi harian sebesar Rp50 ribu. Menariknya, rantai pasok usaha ini sangat inklusif; bahan baku dibeli langsung dari sesama mualaf petani, sehingga ekonomi sirkular benar-benar tercipta di Pulau Sipora.

Inkubasi Bisnis dan Target Pasar Luas
Keripik MU bukan sekadar proyek sampingan. Muhammadiyah Mentawai menerapkan standar produksi yang ketat, mulai dari kebersihan hingga strategi pemasaran. Saat ini, pengelola sedang mengurus sertifikat halal untuk memastikan produk ini dapat menembus pasar ritel yang lebih luas dan menjadi oleh-oleh khas unggulan dari Mentawai.

“Kami mengajarkan alur produksi hingga pemasaran. Harapannya, mereka nantinya berani membuka usaha sendiri dengan pendampingan penuh dari kami,” tambah Rudi.

Dijual dengan harga terjangkau, Rp10 ribu per kemasan, Keripik MU menjadi jembatan amal bagi konsumen sekaligus penggerak ekonomi bagi 125 mualaf di Pulau Sipora. Tak berhenti di sektor camilan, program ini juga mulai merambah ke budidaya ikan air tawar sebagai diversifikasi usaha di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 51 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Adu Rapi Administrasi: Kunci UMKM Desa Tembus Pasar Dunia

12 Mei 2026 - 20:34 WIB

Tenaga Muda Profesional Siap Sulap BUMDes Jadi Korporasi Desa

2 Mei 2026 - 11:32 WIB

Rapat Via Zoom Bersama Bakrie Center Foundation (BCF), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDT), serta Forum BUMDes Indonesia (FBI)

Dialog Sawit: Cara Sumbar Hindari Gesekan Pajak Air Permukaan

11 April 2026 - 12:27 WIB

Pajak Air Sawit: Antara Keuntungan Perusahaan dan Hak Desa

11 April 2026 - 12:08 WIB

UMKM Sundawenang Naik Kelas: Strategi Digital di Balai Desa

11 April 2026 - 02:09 WIB

Jangan Tunggu Viral: Merek Adalah Perisai UMKM Desa

7 April 2026 - 20:16 WIB

Trending di EKBIS