Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

BUMDes · 6 Mei 2025 03:50 WIB ·

Etika vs Aturan: Polemik Anak Kuwu Jadi Direktur BUMDes


					Sejumlah warga Desa Ciawijapura mendatangi balai desa untuk berdialog mengenai pengelolaan anggaran dan pembentukan BUMDes. Perbesar

Sejumlah warga Desa Ciawijapura mendatangi balai desa untuk berdialog mengenai pengelolaan anggaran dan pembentukan BUMDes.

Cirebon, Jawa Barat [DESA MERDEKA] Sejauh mana keluarga kepala desa boleh terlibat dalam tata kelola aset desa? Pertanyaan ini memicu gelombang aspirasi di Desa Ciawijapura, Kabupaten Cirebon, Minggu (4/5). Warga setempat mendatangi balai desa dengan simbol pita merah putih untuk menggugat transparansi anggaran serta dugaan nepotisme dalam pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Pemicu utamanya adalah penunjukan anak Kepala Desa (Kuwu) sebagai Direktur BUMDes. Meski secara hukum formal tidak ada larangan eksplisit, masyarakat menilai langkah ini mencederai etika publik dan menutup ruang partisipasi warga lainnya.

Musyawarah Desa yang Dipertanyakan
Moch. Rosid, perwakilan warga, menegaskan bahwa BUMDes adalah entitas yang seharusnya lahir dari rahim masyarakat, bukan keputusan sepihak perangkat desa. Merujuk pada Permendesa Nomor 4 Tahun 2015, pemilihan pengurus wajib melibatkan unsur Pemerintah Desa, BPD, hingga kelompok masyarakat marjinal.

“Keluarga kuwu boleh saja jadi pengurus asalkan syarat terpenuhi dan melalui mekanisme musyawarah yang benar. Namun, akan jauh lebih bijak jika posisi itu diberikan kepada warga lain untuk menghindari konflik kepentingan,” ujar Rosid. Warga menuntut keterbukaan informasi, terutama mengenai pengelolaan Dana Desa (DD) yang selama ini dianggap masih tertutup.

Pembelaan Desa: “Warga Tak Mau karena Upah Minim”
Menanggapi tudingan tersebut, Kepala Desa Ciawijapura, Ade Srisumartini, memberikan pembelaan yang cukup mengejutkan. Ia mengklaim bahwa penunjukan keluarganya dilakukan karena kondisi darurat, yakni nihilnya peminat dari kalangan masyarakat umum.

“Kami sudah sosialisasi, tapi tidak ada warga lain yang bersedia menjadi pengurus karena upahnya minim. Penunjukan keluarga saya pun sudah melalui mekanisme yang ada dan dikonsultasikan dengan pihak kecamatan,” dalih Ade. Ia pun berjanji akan segera mengisi kekosongan keterwakilan wilayah di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) guna meredam keresahan.

Camat Susukanlebak, Carmin, yang hadir menengahi audiensi tersebut, menilai aksi ini sebagai dinamika positif bagi demokrasi desa. Meski membenarkan bahwa secara prosedur pembentukan BUMDes diperbolehkan, ia menekankan pentingnya legalitas dan keterwakilan wilayah agar tidak ada kesan desa dikelola secara eksklusif oleh kelompok tertentu.

Kasus di Ciawijapura ini menjadi pengingat penting bagi desa-desa lain di Indonesia bahwa transparansi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tentang membangun kepercayaan publik melalui proses yang partisipatif.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 37 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Juara Desa Magetan: Mesin Uang Terancam Jalan Rusak

1 Mei 2026 - 18:23 WIB

Matinya Ratusan Ayam BUMDes Malaka: Siapa yang Salah?

22 April 2026 - 09:35 WIB

Merbau Mataram Pacu BUMDes Profesional Lewat Pemeringkatan Berbasis Data

11 April 2026 - 09:47 WIB

Pendamping Desa Lampung Selatan Siap Cetak BUMDes Profesional

30 Maret 2026 - 12:00 WIB

Modal Kepercayaan: Rahasia Sukses BUMDes Leunklot Mandiri Pangan

18 Maret 2026 - 22:21 WIB

BUMDes Ngampungan Jombang: Dari Juara Jatim ke Bisnis Air

12 Maret 2026 - 16:23 WIB

Trending di BUMDes