Boyolali, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Wajah pertanian di Dusun Jetak, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, kini tak lagi sekadar soal cangkul dan tenaga fisik yang menguras keringat. Teknologi drone resmi mengambil alih peran manusia dalam urusan pemupukan dan penyemprotan hama, sekaligus menjadi jawaban atas krisis tenaga kerja di sektor agraris.
Pemanfaatan pesawat nirawak ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan kebutuhan mendesak. Bastian, seorang operator drone pertanian, mengungkapkan bahwa tren beralihnya petani ke teknologi udara disebabkan oleh semakin sulitnya mencari buruh tani tradisional saat ini.
“Sekarang semakin sulit mendapatkan pekerja di sawah. Inilah mengapa banyak petani memilih layanan drone karena lebih cepat dan praktis,” ujar Bastian, melansir Jawa Pos Radar Solo, Jumat (11/11).
Efisiensi Waktu: 30 Menit Jadi 10 Menit
Kecepatan menjadi keunggulan utama teknologi ini. Jika menggunakan metode manual, seorang petani membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk merampungkan satu petak lahan atau sekitar sepertiga hektare. Namun, dengan drone, durasi tersebut dipangkas secara drastis menjadi kurang dari 10 menit saja.
Maryono (52), salah satu petani lokal, memberikan testimoni langsung mengenai efektivitas alat ini. Ia cukup melarutkan pupuk dengan air, memasukkannya ke tangki drone, lalu membiarkan mesin tersebut bekerja menyemprotkan cairan secara merata dari udara.
“Hasilnya bagus dan sebarannya merata. Yang paling terasa adalah penghematan tenaga manusia yang luar biasa,” kata Maryono.
Biaya Murah, Jangkauan Luas
Banyak yang mengira teknologi canggih identik dengan harga selangit. Faktanya, penggunaan drone justru jauh lebih ekonomis. Biaya sewa layanan ini hanya berkisar antara Rp175.000 hingga Rp250.000 per hektare.
Dengan bantuan drone yang disewa dari perusahaan swasta di Solo ini, Bastian mampu meng-cover lahan pertanian hingga seluas 10 hektare dalam satu hari kerja. Angka ini hampir mustahil dicapai jika hanya mengandalkan tenaga manusia dalam durasi yang sama.
Inovasi di Dusun Jetak ini menjadi sinyal kuat bahwa digitalisasi pertanian atau smart farming adalah kunci masa depan. Selain mengatasi kelangkaan tenaga kerja muda di perdesaan, penggunaan teknologi ini diharapkan mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui efisiensi kerja yang maksimal.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.