Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

SOSBUD · 21 Nov 2025 05:03 WIB ·

DPR dan Kemenekraf Dorong Anggaran Besar Industri Musik Kreatif


					DPR dan Kemenekraf Dorong Anggaran Besar Industri Musik Kreatif Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Direktorat Musik, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Baparekraf), menegaskan perlunya dukungan anggaran negara yang memadai untuk mengakselerasi ekosistem musik kreatif di daerah. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Akselerasi Kreatif Sub Sektor Musik yang menyasar anak muda di Aula SD Negeri Duren 01, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Rabu (19/11/2025).

Anggota Komisi VII DPR RI, Muhammad Hatta, secara tegas menyatakan bahwa kreativitas anak muda kini merupakan peluang besar yang harus didukung penuh oleh negara untuk penguatan ekonomi nasional.

“Anak muda harus terus digali dan dimaksimalkan kreativitasnya, karena ini bisa menjadi potensi devisa yang luar biasa. Di era media sosial, karya yang sederhana pun bisa viral dan menghasilkan, contohnya seperti lagu Tabola Bale yang diciptakan anak-anak muda, itu luar biasa,” ujar Hatta.

Menurutnya, pemerintah wajib terlibat dan mendorong sektor ini dengan memberikan dukungan anggaran yang memadai. Ia mencontohkan keberhasilan negara-negara maju seperti Korea Selatan dan Thailand yang memberikan dukungan penuh kepada para kreator. Hatta menekankan bahwa menciptakan produk kreatif membutuhkan inovasi, pelatihan, dan arahan, yang kesemuanya memerlukan dana besar.

Musik sebagai Bahasa Universal dan Medium Monetisasi
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur TV dan Radio Kemenekraf/Baparekraf, Pupung Thariq Fadillah, menyoroti kekuatan musik sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan. Lebih dari itu, ia menekankan bahwa karya musik memiliki daya jual tinggi dan potensi monetisasi yang besar, baik melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) maupun platform digital seperti YouTube.

“Lagu juga bisa mengangkat nama daerah. Seperti Tabola Bale yang membuat orang mencari asal-usulnya, ini berpotensi menarik wisatawan. Musik dapat di-monetize dan menjadi sumber pendapatan yang signifikan,” jelas Pupung.

Kegiatan ini diapresiasi sebagai sinergi positif antara Kemenekraf/Baparekraf dengan Komisi VII DPR RI, dengan harapan Kabupaten Semarang dapat melahirkan karya-karya kreatif yang dikenal lebih luas dan mampu bersaing.

Menggerakkan Kreativitas dari Lapisan Terbawah Desa
Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Windarsih, yang mewakili Kepala Dinas, turut hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan di tingkat desa tersebut.

Sementara itu, Wakil Divisi SDM Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Budi Prasetyawan, menilai sosialisasi ini sebagai momentum penting, khususnya bagi anak muda di desa. Budi menyoroti tantangan besar dalam memastikan regulasi dan mimpi besar ekonomi kreatif dapat tersampaikan hingga ke lapisan masyarakat terbawah.

“Setiap desa pasti memiliki potensi unik. Ketika potensi itu diangkat melalui media sosial oleh komunitas lokal, itu menjadi langkah awal untuk membangun branding daerah dan menstimulus anak-anak muda untuk berkreasi,” tutur Budi.

Ia berharap kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan lebih intens dan berkelanjutan. Menurutnya, yang terpenting adalah memulai, karena ketika ekosistem mulai berjalan—sebagaimana peribahasa Jawa, ‘seng penting mlaku’—banyak hal positif bisa dikembangkan. Dengan semangat kolaborasi ini, diharapkan para kreator muda di desa semakin percaya diri untuk berkarya, sehingga potensi lokal yang tersembunyi dapat muncul ke permukaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Satu Tiang Alif, Simbol Persatuan Langit dan Bumi di Pelita

17 Januari 2026 - 05:22 WIB

Ekosistem Budaya Ambarawa Hidup Lewat Sendratari Babad Fort Willem I

12 Januari 2026 - 21:54 WIB

Melawan Lupa: Kisah Benteng Pendem Ambarawa Dalam Gerak Tari

12 Januari 2026 - 17:06 WIB

Benteng Willem I Ambarawa Kini Punya Pertunjukan Sendratari Rutin

12 Januari 2026 - 17:04 WIB

Grha Mandala Cipta: Jembatan Milenial Ambarawa Mencintai Tradisi

12 Januari 2026 - 17:01 WIB

Monumen Galodo Sumatera, Ruang Doa dan Ingatan di Jantung Padang Panjang

12 Januari 2026 - 10:56 WIB

Trending di SOSBUD