Bantaeng, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Desa Pattallassang di Sulawesi Selatan membuktikan bahwa kemandirian fiskal bukan hanya milik kota besar. Di tangan pemerintah desa yang kreatif, lahan yang dulunya tidak produktif kini disulap menjadi objek wisata kolam renang bernilai ekonomi tinggi. Proyek ambisius ini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya ketergantungan desa pada dana transfer pemerintah pusat.
Kepala Desa Pattallassang, Subhan, S.E., M.M., mengungkapkan bahwa pembangunan wisata air ini adalah hasil pengkajian matang untuk menciptakan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang berkelanjutan. Pemanfaatan potensi lokal dianggap sebagai satu-satunya cara agar desa bisa membangun diri secara mandiri tanpa harus selalu menunggu kucuran bantuan dari luar.
Memanfaatkan Keajaiban Mata Air Alami
Keistimewaan kolam renang ini terletak pada sumber airnya. Berbeda dengan kolam renang komersial yang bergantung pada pompa listrik atau kaporit, fasilitas di Pattallassang ini menggunakan sumber air alami di sekitar lokasi. Hebatnya, mata air ini tidak pernah surut meski wilayah tersebut dilanda musim kemarau panjang.
Inovasi ini tidak hanya menawarkan kesegaran alami bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, tetapi juga menekan biaya operasional secara signifikan. “Ketika desa memiliki PADes yang besar, desa tersebut dapat membangun diri secara mandiri dan menjadi lebih maju,” ujar Subhan dengan optimis.

Investasi Jangka Panjang Sebesar Rp800 Juta
Pembangunan kolam renang ini merupakan perjalanan panjang yang sempat tertunda akibat pandemi COVID-19 sejak dirintis pada 2019. Proyek ini akhirnya rampung menggunakan alokasi Dana Desa tahun anggaran 2021 dengan total investasi mencapai Rp800.000.000.
Subhan menyayangkan masih banyak desa yang “tertidur” dan belum optimal menggali potensi wilayahnya. Baginya, Dana Desa seharusnya digunakan sebagai modal usaha (investasi), bukan sekadar habis untuk pembangunan fisik yang tidak menghasilkan return finansial.
Membuka Lapangan Kerja Baru
Dampak dari pembangunan ini tidak hanya dirasakan oleh kas desa. Pemerintah desa telah merancang skema pengelolaan yang akan menyerap tenaga kerja dari warga sekitar. Dengan adanya objek wisata ini, rantai ekonomi baru seperti UMKM kuliner dan jasa parkir diprediksi akan tumbuh subur di sekitar area kolam.
“Kita berdoa ke depan usaha yang dirancang ini dapat membuahkan hasil sesuai harapan. Masyarakat sekitar harus memperoleh manfaat nyata dari lapangan pekerjaan yang telah kita siapkan,” pungkasnya.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.