Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 30 Jul 2023 17:33 WIB ·

Dana Desa Rp5 Miliar: Akhir Era Proyek Fisik?


					Dana Desa Rp5 Miliar: Akhir Era Proyek Fisik? Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Era pembangunan desa yang hanya berfokus pada semen dan aspal diprediksi akan segera berakhir. Seiring rencana kenaikan Dana Desa hingga Rp5 miliar per desa, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, memberikan peringatan keras: Manajemen desa harus segera “naik kelas” karena tantangan ke depan tidak lagi sekadar membangun jembatan, melainkan mengelola isu yang lebih abstrak.

Gus Halim—sapaan akrabnya—menilai dengan suntikan dana jumbo tersebut, pembangunan infrastruktur fisik akan jauh lebih cepat selesai. Namun, masalah justru dimulai saat fisik bangunan telah rampung. Jika tidak diimbangi dengan manajemen pemeliharaan dan partisipasi publik, dana besar tersebut berisiko terbuang sia-sia.

“Konsekuensinya adalah manajemen dana desa harus jauh lebih bagus daripada saat ini,” tegas Gus Halim saat acara Training of Trainer (ToT) Penggiat Desa di Semarang.

Desa Mandiri dan Jebakan Isu Abstrak
Sudut pandang menarik muncul ketika Gus Halim menyoroti desa berstatus mandiri. Banyak pihak menganggap jika infrastruktur desa sudah maju, maka tugas pemerintah desa telah usai. Gus Halim justru berpendapat sebaliknya; semakin mandiri sebuah desa, isu yang dihadapi akan semakin kompleks dan tidak kasat mata.

Pembangunan manusia, pemberdayaan ekonomi berkelanjutan, dan pelestarian lingkungan adalah beberapa contoh isu “abstrak” yang memerlukan manajerial tingkat tinggi, bukan sekadar keahlian teknis pertukangan.

Pendamping Desa: Dari Pengawas Jadi Konsolidator
Untuk menghadapi lonjakan anggaran ini, Kemendes PDTT menambah mandat baru bagi para pendamping desa. Mereka tidak lagi hanya bertugas mengawal administrasi laporan keuangan, tetapi wajib menjadi jembatan emosional antara kepala desa dan warga.

“Saya tambahi tugas pendamping desa untuk melakukan gerakan sosialisasi dan konsolidasi kepada warga. Targetnya adalah meningkatkan partisipasi masyarakat agar mereka merasa menjadi bagian dari proses pembangunan,” imbuhnya.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap rupiah dari Rp5 miliar tersebut tidak hanya membangun benda mati, tetapi menghidupkan ekosistem desa yang berdaya saing global menuju visi pembangunan berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Merti Dusun Kranggan 1 Jadi Ruang Warga Lestarikan Budaya Jawa

6 September 2026 - 23:13 WIB

Krisis Air Kertagena Laok: Antara Hak Publik dan Dana Aspirasi

28 Agustus 2026 - 14:15 WIB

Watugede Culture Festival 2026 Bukukan Transaksi Rp140 Juta

25 Agustus 2026 - 09:10 WIB

pembukaan watugede culture festival

Kursi Panas BPD Sosoh Buay Rayap Berakhir Damai

21 Agustus 2026 - 23:28 WIB

Suara Kaum Marginal di Balik Gelar Desa Antikorupsi Nasional Banyubiru

21 Agustus 2026 - 15:28 WIB

Puncak Gunung Es BSPS Malaka: Rakyat Miskin Dipaksa Nombok

21 Agustus 2026 - 09:03 WIB

Trending di KABAR DESA