Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Selama ini Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) APBDes sering dipandang sebagai akhir dari siklus keuangan desa. Namun, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, membuktikan sebaliknya. Di desa ini, administrasi tertib adalah mesin utama yang menggerakkan investasi dan lompatan ekonomi warga.
Tata Kelola Administrasi Pajang Fondasi Desa
Perubahan cara pandang ini lahir berkat pendampingan Klinik APBDes Kecamatan Singosari bersama Tim Pendamping Profesional (TPP). Melalui pola jemput bola, evaluasi LPJ APBDes 2025 diselesaikan lebih awal demi mempercepat penyusunan APBDes 2027.

Administrasi yang tertib menghilangkan tekanan waktu dalam perencanaan. Efeknya, pengadaan barang/jasa menjadi tertib, pelaksanaan kegiatan berlangsung sesuai jadwal, dan risiko keterlambatan proyek dapat diminimalkan. Tata kelola yang bersih inilah yang melahirkan kepastian bagi pemerintah desa untuk melakukan investasi jangka panjang.
Kinerja Finansial BUMDes: Dari Modal Menuju Omzet Ratusan Juta
Berbekal kepastian hukum dan administrasi yang sehat, Pemerintah Desa Banjararum berani menyuntikkan dana besar ke BUMDes. Sejak tahun 2018 hingga 2025, total penyertaan modal yang dialokasikan mencapai Rp503.775.000.

Investasi produktif ini membuahkan hasil instan pada kesehatan keuangan BUMDes. Pada masa awal pengelolaan, omzet usaha kelolaan desa ini hanya berkisar Rp5 juta. Namun, seiring perbaikan tata kelola yang terintegrasi, omzet BUMDes melonjak tajam hingga mencapai Rp122.927.270 pada tahun 2025.
Eduwisata Kembang Tanjung: Sentra Ekosistem Ekonomi Terpadu
Suntikan modal tersebut difokuskan untuk membangun kawasan Eduwisata Kembang Tanjung. Di sini, BUMDes bertindak sebagai manajer utama yang merajut berbagai unit usaha menjadi satu ekosistem zero-waste yang saling menguntungkan:
* Sektor Lingkungan: Pengelolaan TPST 3R menyerap sampah desa dan mengolahnya menjadi cairan ekoenzim.
* Sektor Pertanian & Peternakan: Cairan ekoenzim digunakan untuk pertanian padi ramah lingkungan dan budidaya jamur. Sementara itu, kotoran dari peternakan sapi dan kambing diolah kembali menjadi pupuk organik untuk lahan pertanian.
* Sektor Perikanan & Wisata: Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) hadir memperkuat produksi pangan sekaligus menjadi wahana edukasi bagi pelancong.

Tak berhenti di sana, BUMDes Banjararum kini melebarkan sayap bisnisnya ke ranah makro melalui kerja sama strategis dengan PT Jasa Marga Tbk dalam pengadaan sarana prasarana rest area Tol Gempol-Singosari.
Lompatan ekonomi Banjararum memberi pelajaran penting bagi kita semua: kemakmuran desa tidak selalu dimulai dari tambahan anggaran, melainkan saat setiap rupiah Dana Desa dikelola secara akuntabel dan diinvestasikan secara tepat sasaran.

Penulis Desa, Budaya dan Ekonomi Lokal | Pemerhati Masalah Sosial serta Pembangunan Perdesaan

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.