Ponorogo, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di pelosok Kabupaten Ponorogo membuktikan bahwa denyut religiositas dan semangat kebangsaan tidak pernah luntur di tingkat akar rumput. Hal ini terpancar jelas saat ratusan jemaah memadati Pengajian Akbar yang digelar di Musholla Darunnaim, Lingkungan Mblalung, Dukuh Nglodo, Desa Bancar, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, pada Sabtu (17/10/2026) malam.
Bagi masyarakat luar daerah, berkumpulnya massa dalam jumlah besar di sebuah mushola kecil mungkin terasa mengejutkan. Namun, bagi masyarakat Desa Bancar yang terletak di kawasan transisi subur menuju perbukitan Pegunungan Kidul ini, keguyuban adalah napas kehidupan sehari-hari. Bentang geografis rural yang saling berdekatan membuat mobilisasi warga berjalan sangat alami dan cepat.
Ponorogo sendiri sejak lama dikenal memiliki dua poros kultural yang melekat kuat: lingkaran seni budaya Reog dan kedalaman tradisi Santri. Di Desa Bancar, kedua identitas ini melebur dalam karakter masyarakatnya yang terbuka, tegas, sekaligus menjunjung tinggi solidaritas sosial (gupuh, aruh, suguh). Oleh karena itu, perayaan Hari Santri di sini bukan sekadar seremonial kalender tahunan, melainkan sebuah penegasan identitas diri.
Acara yang diinisiasi oleh Ikatan Pemuda-Pemudi (IPP) Bhirawa Yudha ini menghadirkan penceramah Ustadz Tri Maidana Rohman Fuad (Gus Fuad) dan diiringi oleh alunan musik religi dari Hadroh Limahabbatil Amin.
Dimulai ba’da Isya pukul 19.30 WIB, pengajian ini segera berubah menjadi ruang komunal yang hidup. Di daerah pinggiran seperti Bungkal, pengajian akbar memang memegang fungsi ganda; ia menjadi sarana ibadah sekaligus ruang silaturahmi yang menggerakkan roda ekonomi mikro para pedagang lokal.
Rofi Saifuddin, Ketua Panitia Peringatan Hari Santri & Sumpah Pemuda 2026, menegaskan bahwa gerakan ini digerakkan oleh kesadaran anak muda.
“Terima kasih atas kehadiran seluruh jemaah dan dukungan penuh dari pemerintah desa. Semoga melalui pengajian ini kita dapat terus meneladani semangat juang para santri terdalam dalam menjaga NKRI,” ujarnya hangat.
Apresiasi tinggi juga datang dari Kepala Desa Bancar, Agus Sudarmono. Ia mengaku bangga melihat pemuda Bhirawa Yudha yang aktif mengambil peran dalam kegiatan positif dan religius. Kekompakan seperti inilah yang menurutnya menjadi modal utama dalam membangun desa.
Malam semakin larut, namun antusiasme warga tidak surut. Kehadiran elemen Tiga Pilar desa—mulai dari Kepala Desa beserta perangkatnya, Lembaga Desa, hingga Bhabinkamtibmas dan Babinsa—menjadi bukti nyata betapa solidnya hubungan antarwarga di kaki perbukitan Bungkal. Acara yang berlangsung khidmat ini akhirnya ditutup dengan doa bersama, memohon keselamatan bagi bangsa dan keberkahan yang melimpah bagi seluruh masyarakat Desa Bancar.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.