Surakarta, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – NAD Publishing merilis buku terbarunya, “Catra Panji”, sebuah karya kolektif yang mengajak pembaca merenungkan kembali akar budaya dan jati diri. Dengan harga terjangkau, penerbit ini ingin memastikan bahwa akses terhadap literasi budaya tidak lagi eksklusif. Buku ini bukan sekadar koleksi, melainkan sebuah medium untuk melestarikan warisan budaya melalui tulisan yang mudah dijangkau dan direnungkan dalam suasana santai.
Penerbitan “Catra Panji” menegaskan visi NAD Publishing sebagai ekosistem kreatif yang berfokus pada pengembangan literasi. Mereka tidak hanya menerbitkan, tetapi juga mengadakan berbagai program, seperti pelatihan menulis dan program MeJiKu (Membaca, Menulis, dan Kumpul), untuk menumbuhkan ide dan melahirkan penulis-penulis baru. Dengan pendekatan ini, tulisan dianggap sebagai medium perubahan, bukan sekadar produk komersial.
Dalam acara bedah buku di Gedung Keong, Balekambang Surakarta, Sabtu (6/9/2025), mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, memberikan pengantar. Beliau menekankan bahwa buku ini menjadi napas zaman yang ditulis untuk masa depan. Kehadiran beliau menambah bobot akademis dan historis bagi karya yang dieditori oleh Kurnia Effendi ini.
“Catra Panji” adalah bukti nyata keberagaman penulis yang disatukan oleh satu semangat: merawat budaya melalui kata-kata. Para penulisnya datang dari berbagai latar belakang, mulai dari Philipus Dellian Agus Raharjo, Esti Kurnia, Ludira Lazuardi, hingga Latifah dan Saatun Nuzuliyah.
Karya ini juga diperkaya oleh tulisan-tulisan dari Desy Rosmayawati, Umi Hikmawati, Firly Andrisetiani Permata, Mayang Sari, dan Yekti Sulistyorini yang membawa nuansa puitis dan reflektif. Kehangatan cerita juga hadir dari Iing Ayu Magadeni, Abigail Lovetta, Windy Marthinda, dan masih banyak lagi.
Nama-nama lain seperti Gunoto Saparie, Einahanie, Lia Nameera, Ecka Pramita, hingga Lilis Trisnawati turut menyumbangkan pandangan segar tentang budaya dan tradisi. Dengan total 35 penulis, buku ini menjadi sebuah mozaik yang kaya, hidup, dan menginspirasi, menunjukkan bahwa budaya tidak harus selalu dirayakan di panggung megah, melainkan juga bisa diresapi secara intim melalui lembar demi lembar buku.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.