Jakarta [DESA MERDEKA] – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, mengungkap strategi “tak biasa” dalam memperkuat posisi Tenaga Pendamping Profesional (TPP). Pria yang akrab disapa Gus Halim ini menegaskan bahwa pendamping desa bukan lagi sekadar fasilitator administratif, melainkan telah menjadi sebuah branding kuat yang melekat di hati masyarakat.
Sudut pandang menarik muncul saat Gus Halim menanggapi berbagai kritik yang menerpa para pendamping. Baginya, kritik dan klarifikasi justru merupakan bagian dari proses penguatan citra (branding). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan pendamping desa sangat diperhitungkan oleh publik.
“Pendamping telah memiliki branding. Bahkan ketika dikritik atau dipermasalahkan kemudian diklarifikasi, itu adalah bagian dari membangun citra. Itulah sebabnya saya tidak pernah emosi menghadapi kritik,” ujar Gus Halim saat menghadiri Training of Trainers (ToT) P3PD di Jakarta.
Strategi “Ketuk Pintu” dan Kekuatan Seragam
Untuk mengokohkan eksistensi ini, Kemendes PDTT mendorong para pendamping untuk lebih proaktif melalui aksi nyata di lapangan. Salah satu taktik out of the box yang dilakukan adalah kunjungan dari rumah ke rumah (door-to-door). Para pendamping diinstruksikan membawa informasi ringkas mengenai Dana Desa dan posisi APBDes kepada warga.
Langkah ini bertujuan menciptakan memori kolektif di benak masyarakat. Jika warga paham ke mana arah Dana Desa, mereka akan lebih tergerak untuk ikut merencanakan, melaksanakan, hingga mengawasi pembangunan secara mandiri.
Selain pendekatan emosional, Gus Halim juga memuji kreativitas para pendamping yang menciptakan seragam mandiri. Menurutnya, seragam yang kreatif bukan sekadar identitas visual, melainkan simbol profesionalisme yang meningkatkan kepercayaan diri mereka saat berhadapan dengan warga maupun pejabat daerah.
Misi Besar: Bukti Nyata untuk Presiden
Gus Halim menargetkan penguatan citra ini berujung pada hasil survei yang positif terkait kepuasan masyarakat terhadap Dana Desa. Ia berjanji akan melakukan “glorifikasi” atau menggaungkan keberhasilan ini dalam laporan resmi kepada Presiden sebagai bukti bahwa pendamping desa adalah garda terdepan pembangunan nasional.
“Ini menjadi bukti bahwa tenaga pendamping sangat dibutuhkan untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat. Target kita adalah mewujudkan RPJMN dan visi misi Presiden melalui peran aktif mereka,” tegas mantan Ketua DPRD Jawa Timur tersebut.
Melalui peringatan Hari Bakti Pendamping Desa setiap 7 Oktober, Gus Halim berharap dedikasi para pendamping semakin kokoh sehingga Dana Desa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat di pelosok negeri.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.