Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

PENDIDIKAN · 25 Feb 2025 14:03 WIB ·

Bukan Sekadar Alat Tulis: Anak Desa Penjaga Kicau Lampung


					<em>Edukasi serta bakti sosial kepada anak-anak Desa Hutan Raya Wan Abdul Rachman. Foto : (Image courtesy: Liputan6.com).</em> Perbesar

Edukasi serta bakti sosial kepada anak-anak Desa Hutan Raya Wan Abdul Rachman. Foto : (Image courtesy: Liputan6.com).

Bandar Lampung [DESA MERDEKA] Di tengah ancaman sunyinya hutan Sumatra akibat perburuan masif, sebuah gerakan tak biasa muncul dari pinggiran Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman. Bukan dengan senjata atau patroli militer, pelestarian satwa liar kini dipercayakan kepada jemari mungil anak-anak desa hutan yang dipersiapkan menjadi “Duta Konservasi” masa depan.

Melalui aksi bakti sosial yang melibatkan Dinas Kehutanan Lampung, BAIS TNI, Balai Karantina, BKSDA, dan organisasi FLIGHT, Senin (9/2/2026), anak-anak ini dibekali perlengkapan sekolah sebagai simbol edukasi. Tujuannya jelas: mengubah pola pikir generasi muda agar tidak lagi menganggap burung sebagai komoditas buruan, melainkan bagian tak terpisahkan dari napas hutan mereka.

Darurat Kicau di Sumatra
Kondisi populasi burung liar di Lampung memang sedang berada di titik nadir. Data Balai Karantina Lampung mencatat angka yang mengerikan: sebanyak 23.000 ekor burung disita dari upaya penyelundupan sejak 2024 hingga awal 2026, di mana 600 di antaranya adalah spesies yang dilindungi.

“Di lapangan, kita semakin jarang mendengar kicauan burung. Ini sinyal bahaya. Dengan menyentuh hati anak-anak ini, kita sedang menanam investasi jangka panjang agar mereka menjaga hutan lebih baik dari generasi sebelumnya,” ujar Kepala Dinas Kehutanan Lampung, Yanyan Ruchyansyah.

Satwa Liar dan Pertahanan Negara
Sudut pandang menarik muncul dari kacamata militer. Komandan Satgas Awan BAIS TNI, Letkol Achmad, menegaskan bahwa penyelundupan satwa bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman keamanan nasional. Perdagangan ilegal ini berisiko menyebarkan penyakit zoonosis yang dapat melumpuhkan ketahanan kesehatan negara.

Di sisi lain, Penasihat FLIGHT, Davina Veronica, menyoroti peran burung sebagai “insinyur alam”. Tanpa kehadiran mereka sebagai penyebar biji dan pembasmi hama alami, petani di sekitar desa hutan justru akan merugi karena ekosistem yang timpang.

Kesejahteraan Desa Sebagai Kunci
Gerakan ini menyadari bahwa konservasi mustahil terwujud jika perut masyarakat kosong. Oleh karena itu, pendekatan kesejahteraan dan pendidikan menjadi garda terdepan. Anak-anak yang tinggal di lahan seluas 22 ribu hektare Tahura Wan Abdul Rachman ini diharapkan menjadi pengingat bagi orang tua mereka untuk berhenti merambah hutan atau menjerat burung.

Edukasi yang diberikan bukan sekadar teori, melainkan upaya memutus rantai pasokan perdagangan satwa liar dari akarnya. Jika anak-anak desa bangga dengan burung yang terbang bebas, maka perdagangan ilegal di Lampung akan kehilangan peluru utamanya di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lomba Kultum Warnai Safari Ramadhan Pasimarannu, Siswa SD Tunjukkan Bakat Dakwah

10 Maret 2026 - 19:15 WIB

Bukber SDI Sambali Tutup Safari Ramadhan 8 SD Daratan Pasimarannu

10 Maret 2026 - 12:55 WIB

Digitalisasi Wowong: Cara Anak Muda NTT Menaklukkan Dunia Siber

8 Maret 2026 - 15:57 WIB

IPB Beri Beasiswa S2 Jurnalis: Kuliah Gratis Plus Dana Riset

8 Maret 2026 - 14:39 WIB

Silaturahmi Ramadhan di SDI Miantuu Selayar: Merajut Persaudaraan di Timur Pasimarannu

8 Maret 2026 - 12:24 WIB

NgabubuRead: Cara Pintar Anak Pekalongan Berburu Ilmu Saat Ramadan

8 Maret 2026 - 04:35 WIB

Trending di PENDIDIKAN