Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PENDIDIKAN · 16 Agu 2026 10:45 WIB ·

Kisah Nurul Fadiah, Melawan ‘Brain Drain’ dari Pesisir Selayar


					Kisah Nurul Fadiah, Melawan ‘Brain Drain’ dari Pesisir Selayar Perbesar

Kepulauan Selayar [DESA MERDEKA] Selama puluhan tahun, wilayah pedesaan di Indonesia seolah menghadapi “kutukan” yang sama: brain drain. Fenomena ini terjadi ketika anak-anak muda paling cerdas di desa pergi merantau untuk kuliah, namun enggan kembali lagi setelah lulus. Kota-kota besar selalu menyedot talenta terbaik, meninggalkan desa dalam kondisi yang terus kekurangan pemikir lokal untuk mengelola potensinya sendiri.

Namun, di ujung selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Kepulauan Selayar, sekat kutukan itu baru saja didobrak oleh seorang anak muda bernama Nurul Fadiah.

Nurul bukan sarjana biasa. Ia adalah potret lulusan terbaik Program Studi Ilmu Komputer dari Institut Teknologi Sains dan Bisnis Muhammadiyah (ITSBM) Selayar. Meraih IPK nyaris sempurna, 3,86, Nurul dikukuhkan sebagai bagian dari angkatan alumni pertama dalam sejarah kampus tersebut.

Ketika banyak lulusan komputer terbaik bermimpi mengejar karier di gedung pencakar langit Jakarta atau Makassar, Nurul justru memutar haluan kapalnya kembali ke Dusun Lopi-Lopi, Desa Harapan, Kecamatan Bontosikuyu.

Meretas Keterbatasan di Tepian Pantai
Melihat realitas geografi tempat tinggal Nurul, kita akan memahami mengapa keputusannya untuk pulang adalah sebuah langkah yang berani. Dusun Lopi-Lopi berada di wilayah pesisir Desa Harapan yang asri namun menyimpan tantangan alam yang nyata. Di desa ini, masyarakatnya hidup dari hasil melaut dan bertani tradisional. Saban hari, ancaman abrasi laut mengintai infrastruktur jalan mereka, mengikis akses ekonomi warga.

Di tengah keterbatasan fisik itu, dunia administrasi desa pun masih merangkak secara konvensional. Pemerintah desa kerap kesulitan memetakan data kependudukan secara akurat. Akibatnya, penyusunan program bantuan sosial atau pengembangan potensi ekonomi warga sering kali tidak tepat sasaran akibat ketiadaan basis data digital yang matang.

Di sinilah Nurul melihat celah untuk mengabdi. Baginya, ilmu coding dan algoritma yang ia pelajari di bangku kuliah tidak boleh menguap menjadi sekadar teori di atas kertas. Ilmu itu harus menjadi solusi nyata bagi tetangga dan kerabatnya di kampung halaman.

Melahirkan Teknologi dari Rahim Desa
Melalui riset skripsinya, Nurul merancang bangun sebuah Sistem Informasi Manajemen Data Kependudukan dan Pendataan Potensi Warga berbasis web. Menariknya, sistem ini juga dilengkapi dengan fitur analisis demografi sederhana.

Selama ini, proyek digitalisasi desa biasanya dikerjakan oleh konsultan pihak ketiga dari kota dengan biaya yang mahal. Namun Nurul membalikkan posisi tersebut. Ia menjadikan desa sebagai subjek pencipta teknologi, bukan sekadar konsumen pasif. Dokumen hasil karya teknologi lokal itu diserahkan langsung oleh Nurul kepada Kepala Desa Harapan, Arman, tepat pada hari yudisiumnya.

“Tentu bangga dan bersyukur, semoga ilmunya dapat bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, dan daerah tentunya,” ungkap Kades Arman penuh haru.

Meskipun sistem manajemen kependudukan ini dikunci rapat demi melindungi privasi data warga (UU Perlindungan Data Pribadi), gaung digitalisasi Desa Harapan kini mulai terlihat di ranah publik melalui kerja sama keterbukaan informasi di situs resmi mereka.

Meruntuhkan Gengsi Sarjana
Langkah Nurul sejalan dengan pesan tajam yang disampaikan oleh Kepala Departemen Teknologi dan Bisnis ITSBM Selayar, Dr. Muh. Arsyad. Ia mengingatkan agar para sarjana baru tidak memelihara gengsi.

Bagi gerakan desa merdeka, mengabdi di tingkat desa bukanlah sebuah “pekerjaan kecil” yang patut dikesampingkan. Menata data dari tingkat dusun justru merupakan fondasi utama dari kedaulatan informasi nasional.

Nurul Fadiah telah membuktikan bahwa arti kesuksesan seorang sarjana telah bergeser. Sukses tidak lagi diukur dari seberapa jauh kita berhasil meninggalkan desa, melainkan dari seberapa besar manfaat yang kita bawa saat melangkah pulang.

Dari Dusun Lopi-Lopi, harapan baru untuk kemandirian digital pedesaan Indonesia itu kini resmi dimulai.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menantang Ombak Demi Dasa Darma: Kisah 369 Tunas Muda di Beranda Selatan Selayar

15 Agustus 2026 - 14:43 WIB

Kisah Alvin di Sekolah Rakyat Dharmasraya Bikin Haru

2 Agustus 2026 - 14:15 WIB

Kisah Perjuangan Mahyeldi Bakar Semangat Siswa SRT Dharmasraya

2 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Sekolah Rakyat Dharmasraya Titik Balik Putus Rantai Kemiskinan

2 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Kolaborasi Anggota Dewan Dongkrak Penerima PIP SMKN Kletek

31 Juli 2026 - 20:39 WIB

Menatap Masa Depan Pendidikan Tinggi yang Berkeadilan

28 Juli 2026 - 19:24 WIB

Trending di PENDIDIKAN