Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Selama ini, jamak kita temui Dana Desa habis terserap untuk proyek semenisasi jalan atau bagi-bagi bantuan logistik instan setiap kali krisis melanda. Langkah-langkah konvensional tersebut sering kali gagal menyentuh akar persoalan laten di tingkat tapak.
Bergerak melampaui kebiasaan lama, Pemerintah Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menggebrak dengan pendekatan Evidence-Based Budgeting (Penganggaran Berbasis Bukti). Alokasi anggaran tidak lagi dirancang dari balik meja, melainkan dieksekusi secara presisi berdasarkan potret riil ancaman kedaulatan pangan desa.

Menjawab Fakta Kerusakan di Empat Dusun
Langkah cerdas ini dipicu oleh data kerusakan lahan persawahan yang masif akibat serangan hama tikus di Dusun Bodean Krajan, Ngujung, Sumberawan, dan Bodean Putuk. Bukti di lapangan menunjukkan bahwa serangan hama telah menurunkan volume panen dan menaikkan biaya produksi petani. Selama ini, pola penanganan yang sporadis dan sendiri-sendiri terbukti tidak efektif.
Kepala Desa Toyomarto, Suminto, SH, membaca data tersebut sebagai alarm untuk merombak strategi pemanfaatan Dana Desa. Dibandingkan menyalurkan bantuan benih atau pupuk yang hanya menjadi pereda sementara, pemerintah desa memilih berinvestasi pada kecerdasan petaninya.
“Pembangunan pertanian sejati harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia,” tegas Suminto.
Menurutnya, Sekolah Lapang ini dirancang sebagai ruang belajar bersama untuk mengamati, berdiskusi, dan mengambil keputusan taktis berdasarkan bukti riil di lahan sawah.

Investasi SDM dengan Efek Multiplier Anggaran
Dimulai pada pekan kedua Juli 2026, Sekolah Lapang Petani ini diikuti oleh 20 petani yang mewakili empat kelompok tani. Setiap hari Selasa, di bawah bimbingan penyuluh pertanian, mereka tidak disuapi teori di dalam ruangan, melainkan langsung membedah masalah di atas pematang sawah.
Petani dilatih membaca gejala serangan hama, menganalisis penyebabnya, dan menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Mereka juga diajarkan menggunakan agen hayati serta pupuk organik untuk menekan biaya produksi dan memutus ketergantungan pada pestisida kimia.
Sisi paling menarik dari penganggaran berbasis bukti di Toyomarto adalah efisiensi dampak (multiplier effect). Pemerintah desa tidak perlu mendanai seluruh petani di desa. Dua puluh peserta yang telah dilatih memiliki kewajiban moral dan struktural untuk menularkan ilmu mereka ke kelompok tani masing-masing. Model transfer pengetahuan (knowledge transfer) ini melipatgandakan manfaat program tanpa menambah sepeser pun biaya pelatihan dari kas desa.
Reorientasi Dana Desa untuk Kemandirian Tapak
Inovasi dari Desa Toyomarto ini memberi sinyal kuat bagi tata kelola pemerintahan desa di Indonesia. Menjaga ketahanan pangan tidak selalu berarti pengadaan teknologi mahal atau digitalisasi pertanian yang semu.
Kuncinya terletak pada kejelian membaca data masalah, kelincahan beradaptasi, dan keberanian menggunakan Dana Desa untuk melahirkan petani yang adaptif. Melalui penganggaran berbasis bukti, Desa Toyomarto membuktikan bahwa Dana Desa mampu melahirkan manfaat jangka panjang dan meletakkan fondasi kemandirian pangan yang kokoh dari akar rumput.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.