Bantaeng, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Desa Bonto-Bontoa di Kecamatan Tompobulu kini resmi menjadi “laboratorium sosial” di Kabupaten Bantaeng. Melalui lokakarya yang digelar Jumat (15/9), desa ini bersiap melaksanakan Sekolah Lapang Desa Inklusi di bawah naungan Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa (P3PD). Fokus utamanya? Menarik kaum rentan—mulai dari penyandang disabilitas, perempuan kepala keluarga (janda), hingga warga dengan gangguan mental—ke dalam pusat perencanaan pembangunan. Program ini bukan sekadar seremoni. Bonto-Bontoa terpilih sebagai sampel dari empat desa terpilih di Bantaeng untuk membuktikan bahwa transparansi dan akuntabilitas desa hanya bisa tercapai jika kelompok yang selama ini “terpinggirkan” ikut menentukan arah kebijakan desa.
Mendobrak Eksklusivitas Melalui Sekolah Lapang
Koordinator P3PD, Dedy Muis, menegaskan bahwa Desa Inklusi adalah ruang tanpa sekat. Sejak Januari 2023, pihaknya telah melakukan observasi mendalam mulai dari survei hingga wawancara warga. Sekolah Lapang yang akan berlangsung hingga November 2023 ini menjadi puncak edukasi bagi warga marginal untuk berani berbicara. “Kelompok yang selama ini mengalami eksklusi kita dorong ke dalam proses pembangunan. Intinya adalah persamaan hak tanpa memandang status sosial,” jelas Dedy.

Tantangan di Tengah Arus Pilkades
Sudut pandang menarik muncul dalam diskusi lokakarya yang dihadiri 25 peserta ini. Pelaksanaan Sekolah Lapang beririsan langsung dengan suhu politik Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang dijadwalkan pada 30 Oktober mendatang. Mengingat sensitivitas massa, koordinasi diperketat dengan melibatkan Bhabinkamtibmas dan Babinsa sebagai pengawal independen. Guna menghindari gesekan dan kecurigaan warga, para kader desa inklusi juga mengusulkan penggunaan atribut identitas resmi seperti ID card dan seragam khusus saat turun ke lapangan melakukan sosialisasi di tiga dusun.

Sinergi untuk Desa Cerdas
Kepala Desa Bonto-Bontoa, M. Ridwan, menyambut optimis penunjukan desanya. Ia berharap kolaborasi antara Pendamping Lokal Desa (P3MD) dan tim P3PD mampu menciptakan ekosistem desa yang lebih sehat. “Kami ingin Bonto-Bontoa menjadi lebih baik dengan memastikan janda, disabilitas, dan kaum marginal terpenuhi hak-haknya dalam pembangunan,” kata Ridwan. Sinergi ini bertujuan menciptakan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara data, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk mengadvokasi kebutuhan mereka sendiri di hadapan publik.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.