Kepulauan Selayar[DESA MERDEKA] – Fajar baru saja menyingsing di Pulau Bonerate, Kepulauan Selayar. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.58 WITA ketika Sulasmi (40) harus bertaruh nyawa di dalam ruang persalinan UPTD Puskesmas Pasimarannu. Di bawah temaram cahaya pagi, tubuhnya berpeluh keringat menahan rasa mulas yang hebat. Pengumuman penting dari bidan yang berjaga sempat membawa kelegaan: pembukaan sudah lengkap. Bayinya sudah siap melihat dunia.
Namun, alam punya rencana lain pagi itu.
Tepat di menit yang sama, bumi tiba-tiba berguncang hebat. Gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Nusa Tenggara Timur merambat cepat, menggetarkan dan meretakkan dinding-dinding puskesmas. Kepanikan pecah seketika di waktu subuh yang tenang. Di luar gedung, orang-orang yang baru terbangun berlarian menyelamatkan diri.
Situasi kian mencekam saat sirine peringatan dini tsunami mulai meraung-raung membelah langit pagi. Bagi para tenaga medis di sana, raungan sirine itu adalah lonceng kematian yang nyata.
Gedung Puskesmas Pasimarannu berdiri sangat dekat dari bibir pantai dan Pelabuhan Bonerate. Tanpa penghalang alami yang kokoh, puskesmas tersebut berada di garis depan yang paling rapuh—hanya berjarak selemparan batu dari air laut yang saat itu dilaporkan mulai surut secara mencurigakan. Jika tsunami menghantam, gedung tempat mereka berdiri akan menjadi titik pertama yang disapu gelombang.
Di dalam ruangan, detak jantung Sulasmi berpacu dengan waktu. Ia berada di titik paling pasrah seorang wanita: berjuang melahirkan di tengah ancaman gelombang besar yang siap menenggelamkan mereka kapan saja.
Noviardi Usra, seorang perawat yang berjaga, tahu betul mereka tidak punya waktu bahkan untuk sekadar berpikir. Logika akal sehat menuntut semua orang lari secepat mungkin ke perbukitan yang jauh di pedalaman pulau. Namun, meninggalkan seorang ibu yang sedang dalam proses pembukaan lengkap bukanlah pilihan bagi para tenaga medis ini.
“Kami harus memindahkan pasien demi keselamatan ibu, bayi, dan kami semua,” kenang Noviardi.
Tanpa membuang waktu, petugas medis bergerak cepat mengepiting tandu dan menggotong Sulasmi keluar dari gedung, membelah kepanikan warga subuh itu menuju satu-satunya ruang perlindungan bergerak: mobil ambulans puskesmas.
Di dalam kabin ambulans yang sempit, suasana mendadak berubah menjadi ruang bersalin darurat yang menegangkan. Sulasmi dibaringkan di bagian belakang dengan berselimutkan kain jarik batik, menahan kontraksi hebat di atas kasur lipat ambulans yang berguncang. Di sampingnya, nampak kantung infus tergantung bergoyang-goyang mengikuti laju kendaraan.
Dua orang tenaga medis perempuan berkerudung dengan masker hijau terpasang erat, duduk berhimpitan di sisa ruang kabit yang sangat terbatas. Tangan mereka yang berbalut sarung tangan medis tak lepas memegang ponsel, terus berkoordinasi mencari jalur evakuasi yang aman sambil sesekali memantau kondisi vital Sulasmi. Kilatan kecemasan sekaligus keteguhan terpancar jelas dari tatapan mata mereka. Mobil melaju kencang, menerobos jalanan pesisir, mendaki berpacu dengan waktu menuju perbukitan tinggi sebelum ombak laut sempat mengejar.
Beberapa jam berlalu dalam ketegangan yang menyiksa di tempat pengungsian darurat di atas bukit. Di dalam mobil dan tenda seadanya, Sulasmi terus berjuang menahan rasa sakitnya, ditemani kesetiaan para tenaga kesehatan yang menolak pergi dari sisinya meskipun bahaya masih mengintai.
Titik terang akhirnya datang beberapa jam kemudian ketika BMKG resmi mencabut status peringatan tsunami. Ketakutan yang sempat mencengkeram perlahan luruh. Dengan penuh kehati-hatian, mobil ambulans tersebut membawa Sulasmi turun kembali dari perbukitan menuju ruang perawatan Puskesmas Pasimarannu.
Di bawah lampu ruang bersalin yang kini telah tenang, proses persalinan yang sempat tertunda akibat gempa subuh itu akhirnya dilanjutkan. Pelayanan puskesmas kini telah kembali normal, namun cerita tentang keberanian melarikan diri ke atas bukit dengan ambulans sempit demi menyelamatkan dua nyawa pada pukul 05.58 WITA itu akan selalu membekas di dinding-dinding Puskesmas Pasimarannu.

“Ketika suara rakyat dibungkan, jurnalisme menjadi senjata. Kami hadir bukan hanya untuk melaporkan, tapi untuk mengingatkan bahwa keadilan dimulai dari keberanian menyuarakan kebenaran. Di balik setiap berita, ada tekad untuk menjadikan desa lebih sadar, lebih berdaya, dan benar-benar merdeka.”
HP : 081355523999


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.