Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 19 Jun 2026 05:55 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Perbesar

Episode 32: Tantangan Perubahan Iklim

Musim yang dulu dapat dibaca seperti halaman-halaman kitab tua kini berubah menjadi teka-teki. Di desa tempat Raka tinggal, para petani mulai kehilangan kemampuan menebak kapan turun hujan, kapan kemarau datang, dan kapan sawah mesti disemai. Dahulu, alam berbicara dengan bahasa yang jelas: burung-burung tertentu akan muncul menjelang musim hujan, angin dari bukit membawa aroma lembap tanda air akan turun, dan aliran sungai perlahan naik sebagai pertanda bahwa perairan mulai penuh. Tetapi kini semua tanda itu berbalik acak, seakan alam sedang mengalami kebingungan besar.

Raka menyaksikan perubahan itu dari tahun ke tahun. Ia bukan petani penuh, tetapi darah pertanian mengalir dalam dirinya. Ayahnya seorang petani padi, ibunya pandai menanam sayur di pekarangan. Dari kecil ia belajar bahwa sawah dan ladang bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang hidup yang menyimpan kepercayaan, ritual, dan pengetahuan turun-temurun. Namun sejak cuaca kacau, semua pengetahuan itu seperti kehilangan pegangan.

Suatu pagi, ketika berkeliling ke sawah bersama beberapa anggota komunitas desa, Raka melihat pemandangan yang membuatnya termenung: padi yang seharusnya mulai menguning malah tampak pucat kekurangan air, sementara di petak lain gulma tumbuh lebih cepat daripada batang padi. “Musim ini aneh sekali,” keluh Pak Badu, petani sepuh yang sudah mengolah tanah sejak masa remaja.

“Dulu kalau mendung pekat seperti tadi malam, pasti hujan pagi ini,” lanjutnya sambil menunjuk langit yang tampak terang benderang, seolah malam tadi tidak pernah turun awan.

“Tak bisa kita berharap pada tanda lama saja, Pak,” jawab Raka pelan. “Kita harus cari cara baru.”

Pak Badu mengangguk, meski jelas terlihat ia rindu masa ketika alam lebih bisa ditebak.

Di balai desa, Raka mengajak diskusi komunitas yang sejak setahun terakhir bergerak di bidang ketahanan pangan. Ada pemuda, ibu-ibu rumah tangga, hingga dua orang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang pola bercocok tanam. Mereka duduk melingkar, membahas apa yang perlu dilakukan agar desa tidak terpuruk oleh perubahan iklim yang semakin terasa.

“Kalau kita terus pakai bibit lama, panen kita makin sedikit,” kata Yani, seorang petani perempuan yang dikenal cermat memperhatikan perkembangan tanaman. “Kemarin saya coba bibit cepat panen, tapi tanpa teknik yang tepat tetap saja gagal.”

Raka memperhatikan tulisan di papan yang mereka gunakan untuk mencatat ide. Ia sadar bahwa perubahan iklim bukan sekadar cerita global tentang es mencair di kutub atau hutan terbakar di negeri jauh. Perubahan itu kini mengetuk pintu dapur setiap rumah, memengaruhi beras di lumbung, harga sayur di pasar, dan gizi anak-anak yang bergantung pada hasil panen.

“Kita mulai dari dua hal,” kata Raka. “Pertama, memahami perubahan. Kedua, beradaptasi.”

Pemuda desa yang biasa memelihara ikan di kolam menimpali, “Cuaca makin tidak jelas. Bulan lalu kita kena hujan deras seminggu, padahal seharusnya kemarau. Tiga hari lalu mendadak panas menyengat. Tanaman padi tidak kuat dengan perubahan drastis begini.”

Dari diskusi itu, komunitas merumuskan beberapa langkah awal: membuat jadwal tanam yang lebih fleksibel, menggunakan bibit tahan cuaca ekstrem, dan memperbaiki irigasi agar lebih efisien menghadapi musim yang tidak menentu. Mereka juga sepakat memperbanyak tanaman pangan alternatif seperti jagung, ubi, dan sorgum—bukan untuk mengganti padi, tetapi sebagai cadangan jika panen padi gagal.

Namun langkah-langkah itu tidak cukup jika hanya dibahas. Perlu gerakan nyata. Raka tahu bahwa sebagian warga masih tak percaya perubahan iklim. Bagi mereka, semua ini hanyalah “cobaan musiman” yang akan berlalu. Beberapa menganggapnya konsekuensi dari berkurangnya gotong royong, dan ada pula yang melihatnya sebagai murka alam karena manusia melupakan tradisi.

Raka tidak ingin menentang keyakinan mereka. Ia menghormati tradisi. Namun ia juga tahu bahwa ilmu pengetahuan memberi data dan peringatan yang jelas. “Tradisi dan ilmu tidak harus bertentangan,” katanya dalam sebuah pertemuan warga. “Nenek moyang kita selalu mengamati alam. Jika sekarang alam berubah, maka kita pun harus berubah.”

Pernyataan itu membuat sebagian warga mengangguk, sebagian lagi berpikir panjang. Setidaknya percakapan sudah dimulai.

Dalam beberapa minggu berikutnya, Raka dan komunitas memulai percobaan kecil: uji coba pola tanam tumpangsari di sebuah petak sawah terpencil. Mereka menanam padi bersama kacang-kacangan agar tanah tetap subur dan tidak terlalu kering. Di sisi lain, mereka membangun sumur resapan untuk mengolah air hujan yang selama ini hanya mengalir ke parit dan hilang begitu saja.

Hasilnya tidak langsung terlihat. Bahkan beberapa kali percobaan gagal total. Tanaman mati terkena hujan yang turun tidak pada jadwal yang diprediksi. Bibit rusak dimakan hama yang muncul akibat cuaca lembap berhari-hari. Tetapi komunitas tidak menyerah. Mereka mencatat setiap kegagalan sebagai pelajaran.

“Kita harus bersabar,” kata Raka sambil memperhatikan bibit cabai yang tumbuh terlalu tipis. “Adaptasi itu seperti belajar bahasa baru. Salah-salah dulu tidak apa-apa.”

Di sela kerja keras, Raka sering mendatangi rumah warga untuk berdiskusi. Ia tidak ingin program ini hanya menjadi kegiatan segelintir orang. Ia ingin semua terlibat. Kadang ia duduk bersama ibu-ibu yang sedang menjemur padi, mendengarkan keluh mereka tentang panen yang makin sedikit. Kadang ia berbincang dengan pemuda di kedai kopi mengenai potensi teknologi sederhana—seperti sensor air low-cost yang disediakan kampus terdekat. Setiap percakapan memperluas jangkauan gerakan kecil itu.

Namun tantangan datang dari arah yang tidak mereka duga: konflik kepentingan. Sebagian warga yang merasa tak terlibat sejak awal menganggap program ini hanya milik kelompok tertentu. Ada pula yang khawatir bahwa perubahan cara tanam akan menghapus tradisi lama. “Dulu kita tanam dengan hitung hari tertentu,” kata seorang tokoh adat. “Jangan lupa itu warisan.”

Raka mengangguk. Ia menghormati itu. Tetapi ia mencoba menjelaskan, “Tradisi boleh kita jaga, tapi kita juga harus memastikan anak cucu tidak kelaparan. Menjaga alam adalah bagian dari adat.”

Perdebatan itu berlangsung lama, namun perlahan mereda setelah komunitas mengajak tokoh adat ikut dalam percobaan lapangan. Saat tokoh adat itu melihat bagaimana padi tumbuh lebih kuat dengan teknik baru, ia berkata, “Kalau begini, kita bisa gabungkan. Upacara tanam tetap kita lakukan, tekniknya kita sesuaikan.”

Perkataan itu menjadi pembuka pintu bagi warga lain.

Beberapa bulan kemudian, perubahan mulai terlihat. Padi yang ditanam dengan pola tumpangsari menunjukkan hasil lebih baik. Sayur-sayuran tumbuh subur meski cuaca naik-turun. Kolam ikan warga tidak sebanyak dulu terpapar panas matahari karena mereka mulai menanam pepohonan di sekeliling kolam sebagai peneduh alami.

Kabar keberhasilan itu menyebar ke desa tetangga. Beberapa bahkan datang untuk belajar. Ada yang ingin tahu cara membuat sumur resapan, ada yang ingin melihat langsung bagaimana komunitas mengatur jadwal tanam fleksibel. Desa itu perlahan menjadi pusat kecil pengetahuan adaptasi iklim, bukan dengan teori rumit, tetapi melalui praktik sehari-hari.

Suatu sore, ketika Raka berjalan melewati sawah, ia melihat seorang anak kecil bermain air di parit yang sudah mereka perbaiki. Air itu datang dari hujan semalam dan tertampung rapi, tidak lagi terbuang percuma. Anak itu tersenyum lebar, seakan menemukan kolam kecil yang baru untuk bermain.

“Airnya lebih jernih, Kak Raka,” kata anak itu dengan riang.

Raka tersenyum. “Kalau kita jaga dengan baik, air akan selalu datang.”

Namun perjalanan itu belum selesai. Musim berikutnya, desa mengalami kekeringan cukup panjang. Matahari menggigit kulit, tanah keras dan retak. Sumur-sumur dangkal mulai surut. Tapi kali ini mereka tidak panik. Sistem yang mereka bangun memberi mereka waktu. Cadangan pangan lokal membantu menahan kekurangan. Air yang tersimpan di sumur resapan memberi kehidupan pada sebagian tanaman.

“Kita berhasil bertahan,” kata Yani, sambil mengelap keringat di dahinya. “Dulu kalau kekeringan begini, kita sudah panik luar biasa.”

“Ini baru langkah pertama,” jawab Raka. “Perubahan iklim tidak akan berhenti. Tapi kalau kita bisa beradaptasi, kita bisa melangkah bersama.”

Pada akhir tahun, komunitas mengadakan pertemuan besar. Bukan rapat formal, tetapi syukuran atas perjalanan panjang yang mereka lalui. Di lapangan desa, warga membawa makanan dari rumah masing-masing. Ada lamang, ubi rebus, sayur paku, dan dendeng balado. Hidangan yang sederhana tetapi penuh makna.

Dalam pertemuan itu, seorang pemuda berdiri dan berkata, “Kita mungkin tidak bisa menghentikan perubahan iklim. Tapi kita bisa mengubah cara kita hidup. Dan itu sudah kita mulai.”

Kata-kata itu membuat suasana hening sejenak. Semua menyadari bahwa adaptasi bukan hanya soal teknik bertani, melainkan tentang perubahan cara berpikir, cara bekerja bersama, dan cara menjaga alam sebagai mitra hidup.

Di pinggir lapangan, Raka memandangi warga desa yang tampak bahagia meski penuh keringat dan kerja keras. Ia merasa lega. Gerakan kecil yang dulu hanya mimpi kini sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ia tahu masih banyak tantangan yang menunggu, tetapi ia juga tahu bahwa desa tidak lagi sendirian menghadapi perubahan cuaca.

Malam pun turun perlahan, membawa angin lembut dari perbukitan. Di kejauhan terdengar suara jangkrik bersahutan, dan bau tanah yang baru sedikit tersiram embun mulai menyebar.

Raka menatap langit yang tak lagi dapat diprediksi, tetapi ia tidak takut. Selama ada komunitas yang bekerja bersama, selama tangan-tangan petani tidak berhenti menyentuh tanah, selama desa masih percaya bahwa perubahan dapat dihadapi dengan keberanian dan ilmu, maka masa depan pangan mereka akan tetap menemukan jalannya.

Dan ia tahu, cerita adaptasi ini baru halaman awal dari buku panjang yang harus mereka tulis bersama. (DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Desa Lancar Bangun Jalan Menuju Pusat Peradaban Literasi

18 Juni 2026 - 07:24 WIB

Endarmi Cup I: Gerbang Prestasi Pemuda Desa Sumatera Barat

17 Juni 2026 - 09:47 WIB

Strategi Meja Makan, Bupati Sidrap Ubah Lahan Tidur Jadi Lumbung

15 Juni 2026 - 01:13 WIB

BLT Desa Sungai Intan: Menjangkau Warga Hingga ke Pelosok

14 Juni 2026 - 22:53 WIB

Petani Pasaman Kini Berdaya Berkat Perda Komoditas Unggulan

13 Juni 2026 - 22:39 WIB

Transparansi Informasi Publik Jadi Kunci Keberhasilan Pembangunan Desa

13 Juni 2026 - 15:22 WIB

Trending di RAGAM