Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PENDIDIKAN · 7 Okt 2023 21:01 WIB ·

Siswa Watuagung Lawan Perundungan Lewat Video Pendek TikTok


					Siswa Watuagung Lawan Perundungan Lewat Video Pendek TikTok Perbesar

Wonogiri, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Siapa sangka obrolan ringan saat jam istirahat sekolah di pelosok Wonogiri bisa berubah menjadi gerakan sosial yang serius. Di SD Negeri 2 Watuagung, Kecamatan Baturetno, siswa kelas 5 dan 6 tidak hanya piawai bermain gawai, tapi juga mampu menginisiasi gerakan anti-perundungan (anti-bullying) melalui kompetisi video amatir yang melibatkan seluruh lapisan kelas.

Menariknya, inisiatif ini bukan instruksi “top-down” dari guru, melainkan murni gagasan siswa yang kemudian difasilitasi oleh sekolah. Dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, para siswa diajak berdiskusi langsung di ruang kepala sekolah untuk merancang syarat lomba, mulai dari durasi video hingga urusan hadiah.

Kolaborasi Lintas Usia: Kakak Kelas Rangkul Adik Kelas
Aturan main lomba ini cukup unik dan sarat nilai gotong royong. Setiap kelompok yang terdiri dari lima anak diwajibkan memiliki anggota dari kelas yang berbeda. Artinya, siswa kelas tinggi harus mencari dan merangkul adik kelas mereka sebagai rekan setim.

Langkah ini diambil untuk memutus sekat antar-usia dan menanamkan rasa saling menyayangi sejak dini. Bagi siswa yang tidak memiliki ponsel pintar, mereka tetap bisa berkarya dengan bergabung dalam kelompok yang memiliki fasilitas gawai. Strategi ini efektif memastikan inklusivitas tanpa ada anak yang merasa ditinggalkan.

 

Gawai Bukan Musuh: Mengarahkan Jempol ke Hal Positif
Kepala SDN 2 Watuagung, Gito, memilih pendekatan tanpa intervensi berlebihan. Ia menyadari bahwa anak-anak zaman sekarang tidak bisa dilarang menggunakan media sosial. Sebaliknya, sekolah harus menjadi kompas agar jempol-jempol mungil mereka bergerak bijak di platform seperti TikTok dan Instagram.

Bahkan, Gito mengaku belajar banyak dari muridnya. Siswa-siswa seperti Bima, Satria, dan Rana-lah yang mengajari sang kepala sekolah cara mengoperasikan media sosial. Inilah bentuk nyata sekolah ramah anak: ruang di mana ide siswa didengarkan, dihargai, dan diwujudkan sebagai benteng pertahanan melawan aksi perundungan di sekolah desa.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 87 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Di Tengah Demam AI, Guru Sumbar Butuh Perlindungan

5 September 2026 - 14:24 WIB

Bangkit dari Bawah: Pemulihan Gempa Ngada Berbasis Desa

4 September 2026 - 21:07 WIB

Kelurahan Cipayung dan Paramadina Buka Ruang Kolaborasi Global

1 September 2026 - 14:21 WIB

Renovasi Kelas, Siswa SMA Cendana Boas Malaka Belajar di Luar

31 Agustus 2026 - 19:32 WIB

Kisah Nurul Fadiah, Melawan ‘Brain Drain’ dari Pesisir Selayar

16 Agustus 2026 - 10:45 WIB

Menantang Ombak Demi Dasa Darma: Kisah 369 Tunas Muda di Beranda Selatan Selayar

15 Agustus 2026 - 14:43 WIB

Trending di PENDIDIKAN