Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran arus informasi digital yang tak terbendung, perpustakaan kini bertransformasi bukan sekadar sebagai gudang buku, melainkan pusat pemberdayaan masyarakat. Selasa (2/6/2026), Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, menegaskan bahwa penguatan budaya literasi adalah fondasi mutlak untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Baginya, literasi di era teknologi informasi dan komunikasi adalah tameng bagi masyarakat, termasuk warga di desa-desa pelosok, agar tidak terjebak dalam arus hoaks yang menyesatkan.
Secara geografis, Sumatera Barat dengan topografi wilayah yang terdiri dari nagari-nagari yang tersebar di perbukitan hingga pesisir, memiliki tantangan akses informasi yang unik. Melalui program Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (SPP-TIK), perpustakaan di tingkat sekolah dan daerah didorong menjadi ruang inklusi sosial. Program ini bukan hanya tentang membaca, tetapi bagaimana masyarakat—terutama generasi muda—dapat memilah informasi, mengolah data, dan meningkatkan kapasitas diri.
Implementasi nyata dari transformasi ini telah dirasakan di beberapa nagari di Sumatera Barat, di mana perpustakaan desa berhasil menjadi pusat pelatihan bagi pelaku UMKM. Contohnya, banyak perpustakaan yang kini memfasilitasi kelas belajar pemasaran digital (digital marketing) bagi perajin tenun lokal dan pelatihan teknik budidaya pertanian modern bagi petani milenial. Dengan memanfaatkan akses internet di perpustakaan, warga desa kini mampu mempromosikan produk lokal ke pasar global, membuktikan bahwa perpustakaan adalah akselerator ekonomi desa.
“Literasi adalah fondasi kuat untuk mencetak SDM unggul. Kemampuan membaca dan memahami informasi akan membedakan seseorang yang berpikir kritis dengan mereka yang hanya mengikuti arus,” ujar Muhidi.
Ia menekankan bahwa perpustakaan harus hadir sebagai bagian integral dari sistem pendidikan, yang mampu menjangkau warga dari lingkungan keluarga hingga masyarakat luas.
Bagi warga desa, kemampuan memilah informasi adalah skill bertahan hidup. “Kita harus mampu memahami dan memilah informasi dengan baik agar tidak salah mengambil kesimpulan maupun keputusan,” tambahnya. Dengan menjadikan nilai budaya dan agama sebagai kompas karakter, ekosistem literasi yang sehat di desa-desa Sumatera Barat diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak. Literasi kini bukan lagi soal menumpuk buku di rak, melainkan soal bagaimana kita memanfaatkan informasi untuk membangun desa yang lebih mandiri dan kompetitif.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.